Sukses

Harga Kripto Hari Ini 30 Juni 2022: Bitcoin dkk Masih Terjebak di Zona Merah

Liputan6.com, Jakarta - Menjelang akhir Juni 2022, harga Bitcoin dan kripto jajaran teratas terpantau alami pergerakan harga yang kompak pada Kamis (30/6/2022) pagi. Mayoritas kripto jajaran teratas masih terjebak di zona merah.

Berdasarkan data dari Coinmarketcap, Kamis (30/6/2022) pagi, kripto dengan kapitalisasi pasar terbesar, Bitcoin (BTC) melemah 0,60 persen persen dalam 24 jam, tetapi masih menguat 1,41 persen dalam sepekan.

Saat ini, harga bitcoin berada di level USD 20.253 per koin atau setara Rp 301,1 juta (asumsi kurs Rp 14.868 per dolar AS). 

Ethereum (ETH) juga masih ambles pagi ini. Selama 24 jam terakhir, ETH turun 4,16 persen, tetapi masih menguat 5,39 persen dalam sepekan. Dengan begitu, saat ini ETH berada di level USD 1.114 per koin. 

Kripto selanjutnya, Binance coin (BNB) juga tertahan di zona merah. Dalam 24 jam terakhir BNB melemah 4,21 persen. Namun BNB masih menguat 3,18 persen sepekan. Hal itu membuat BNB dibanderol dengan harga USD 221,60 per koin. 

Kemudian Cardano (ADA) pagi ini juga harus masih terkoreksi. Dalam satu hari terakhir ADA terkoreksi 1,35 persen, tetapi masih menguat tipis 1,82 persen sepekan. Dengan begitu, ADA berada pada level USD 0,4698 per koin.

Adapun Solana (SOL) juga masih terpuruk. Sepanjang satu hari terakhir SOL melemah 4,91 persen dan 1,32 persen sepekan. Saat ini, harga SOL berada di level USD 34,25 per koin.

XRP tetap melemah pagi ini. XRP turun 3,03 persen dalam 24 jam terakhir, tetapi masih menguat 2,72 persen dalam sepekan. Dengan begitu, XRP kini dibanderol seharga USD 0,3324 per koin. 

Stablecoin Tether (USDT) dan USD coin (USDC), pada hari ini sama-sama menguat 0,01 persen. Dengan begitu membuat USDT berada di level USD 0,9989 dan USDC dihargai USD 1,00.

Sedangkan Binance USD (BUSD) melemah 0,01 persen dalam 24 jam terakhir, tetapi harganya masih bertahan di level USD 1,00.

Adapun untuk keseluruhan kapitalisasi pasar kripto kembali melemah cukup besar pada hari ini yaitu di level USD 904,1 miliar dari hari sebelumnya di level USD 917,1 miliar. 

Disclaimer: Setiap keputusan investasi ada di tangan pembaca. Pelajari dan analisis sebelum membeli dan menjual Kripto. Liputan6.com tidak bertanggung jawab atas keuntungan dan kerugian yang timbul dari keputusan investasi.

 
 

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

2 dari 4 halaman

Pasar Kripto Melemah, Analis Sebut Belum Ada Momentum Menguat

Sebelumnya, pergerakan pasar aset kripto menjelang akhir Juni 2022 masih terlihat datar atau sideways. Harga aset kripto melemah di tengah tipisnya volume trading di akhir pekan. 

Selain itu, pada waktu yang sama, investor juga melakukan aksi taking profit, saat market bergerak naik untuk menutup kerugian yang besar pada pekan lalu. 

Trader Tokocrypto, Afid Sugiono mengatakan dalam beberapa waktu ke depan belum ada momentum yang baik untuk market bergerak bullish. Apalagi banyak ekonom yang meramalkan bahwa resesi ekonomi bisa terjadi dalam kurun waktu 12 bulan mendatang. 

"Meski The Fed bakal membombardir inflasi dengan kenaikan suku bunga acuan, namun pelaku pasar setidaknya yakin bahwa inflasi AS akan redup total,” kata Afid kepada Liputan6.com, Rabu (29/6/2022). 

Menurut Afid, ramalan tersebut memberikan sinyal antisipasi bagi investor, mengantisipasi efek samping kebijakan moneter agresif The Fed yang akan membuat investor ragu-ragu untuk meramaikan market kripto. 

“Dalam jangka pendek, investor perlu mencermati testimoni Ketua The Fed, Jerome Powell berikutnya pada Rabu 29 Juni 2022,” ujar Aifd.

 

3 dari 4 halaman

Pasar Kripto Belum Menguat Pekan Ini

Afid juga menuturkan, pergerakkan Bitcoin diramalkan belum bergerak bagus. Pasar kripto belum bisa menguat signifikan pekan ini, karena tidak ada momentum yang bisa mendorong BTC meninggalkan kisaran USD 20.000 atau sekitar Rp 296,6 juta per keping.

“Dari analis teknikal, Bitcoin sendiri memiliki peluang untuk melanjutkan penguatannya sampai ke area USD 22.400 hingga USD 22.700 selama pekan ini. Namun, kenaikan harga kripto yang terjadi nantinya hanya bersifat prematur, karena belum ada sentimen positif yang kuat. Terlebih indikator Bitcoin Fear & Greed Index masih bertahan di wilayah Extreme Fear, walaupun sedikit membaiknya levelnya,” ujar Afid.

Adapun, Bitcoin juga akan mengalami test support di mana harganya bisa jadi berada di level USD 19.800, jika gagal, bisa akan terus turun hingga level USD 17.800-USD 15.800 dalam beberapa waktu ke depan. 

“Prospek bullish belum bisa terlihat. Untuk bergerak bullish, BTC harus melewati level resistance di titik USD 23.000,” pungkas Afid. 

4 dari 4 halaman

Mantan Pengacara SEC Sebut Bakal Ada Regulasi Kripto Baru Usai Kasus Celsius

Sebelumnya, mantan pengacara senior Komisi Sekuritas dan Pertukaran AS (SEC) Howard Fischer mengatakan, langkah beberapa negara bagian AS menyelidiki kasus Celsius Network akhirnya akan mengarah pada regulasi dan pengawasan. 

“Apa yang akan Anda lihat adalah apa yang saya ingin pertimbangkan untuk kembali ke keadaan normal. Lembaga yang berurusan dengan kripto akan diatur seolah-olah mereka seperti lembaga keuangan standar,” ujar Fischer dikutip dari CoinDesk, Senin (27/6/2022). 

Fischer yang juga seorang mitra di firma hukum Moses & Singer yang berbasis di New York, mengatakan kasus yang terjadi pada Celsius, SEC akan melihat integritas pasar, perlindungan investor, dan transparansi.

Dia menambahkan masalah di Celsius adalah masalah yang melampaui satu perusahaan karena menunjuk ke seluruh industri kripto, terutama untuk pinjaman kripto. 

“Kemungkinan akan ada peraturan lebih ketat yang mengharuskan platform kripto untuk melaporkan aset dan kewajiban mereka, menjalankan dan melaporkan skenario risiko mereka, kata Fischer,” jelas Fischer. 

“Pada dasarnya, mereka akan memberikan tingkat pengungkapan tidak hanya kepada peserta di pasar, tetapi kepada regulator yang belum mereka produksi, dan mungkin, tidak diharapkan untuk diproduksi sekarang,” lanjut Fischer.

Jadi pada akhirnya menurut Fischer semua pihak baik investor, pemegang saham, regulator, hingga masyarakat umum bisa mengetahui berapa banyak aset perusahaan dan skenario risiko yang bisa terjadi pada perusahaan.