Liputan6.com, Jakarta Di tengah gempuran cicilan, paylater, dan pinjaman online yang serba instan, ada tipe orang yang justru bergeming dan memilih tidak berutang sekalipun kondisinya sedang mendesak. Ciri orang yang enggan berutang meski sedang butuh menurut psikologi ternyata bukan semata soal pelit, melainkan berakar pada pola pikir dan keyakinan tentang uang yang terbentuk sejak lama.
Buat kamu yang sering bingung dengan sikap ini, penolakan terhadap utang kerap muncul otomatis, hampir seperti refleks. Mereka rela hidup lebih ketat sementara waktu ketimbang menanggung beban cicilan yang terus membayangi pikiran.
Berdasarkan temuan riset Center for Effective Global Action Berkeley, orang yang menanggung utang cenderung berkinerja finansial lebih buruk dan lebih memilih melunasi utang ketimbang memaksimalkan keuntungan. Dari sinilah menariknya membedah ciri orang yang enggan berutang meski sedang butuh menurut psikologi, supaya kamu bisa mengenali polamu sendiri.
Advertisement
Memahami Arti Enggan Berutang dalam Kacamata Psikologi
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5317191/original/029207300_1755314565-Ilustrasi_utang__keungan.jpg)
Secara sederhana, enggan berutang adalah kecenderungan menolak atau menghindari pinjaman, bahkan ketika utang tersebut sebenarnya menguntungkan atau dibutuhkan. Dalam ilmu perilaku, fenomena ini dikenal sebagai debt aversion, yaitu rasa tidak nyaman terhadap utang yang melebihi hitungan untung-rugi yang rasional.Â
Dari sisi psikologi keuangan, sikap ini berkaitan erat dengan konsep money scripts, yakni keyakinan bawah sadar soal uang yang terbentuk sejak masa kecil. Dilansir dari Truist, psikolog Brad Klontz membagi money scripts ke dalam empat pola, mulai dari money avoidance yang memandang uang sebagai sumber kecemasan hingga money vigilance yang menekankan kehati-hatian. Orang yang enggan berutang umumnya condong ke pola money vigilance, pola yang justru dianggap paling sehat di antara keempatnya.
Menariknya, akar sikap ini lebih banyak berada di kepala ketimbang di dompet. Brad Klontz, psikolog keuangan sekaligus perencana keuangan bersertifikat, dikutip dari APA, menyatakan, "Kalau kamu menginginkan hasil yang berbeda, mungkin kamu perlu meluangkan waktu untuk memeriksa keyakinanmu sendiri."Â
Karena berpijak pada keyakinan, orang bertipe ini tidak selalu tampak dari luar. Kebiasaan mereka bahkan kerap disalahartikan, padahal banyak ciri orang cermat menurut psikologi yang mirip dengan sikap anti-utang, dan hampir semua kebiasaan orang yang pandai mengatur uang berangkat dari kesadaran yang sama soal risiko.
Advertisement
Ciri Orang yang Enggan Berutang meski Sedang Butuh Menurut Psikologi
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5316224/original/090385600_1755230065-sp_277925_Cover_SULNI.jpg)
Meski setiap orang unik, ada pola perilaku yang sering berulang pada mereka yang alergi utang. Inilah beberapa ciri orang yang enggan berutang meski sedang butuh menurut psikologi, berdasarkan kajian psikologi keuangan dan pengamatan redaksi.
Ciri paling kentara adalah kehati-hatian ekstra soal uang. Sebagaimana diungkapkan Financial Planning Association, pola money vigilance ditandai oleh sikap hemat, mementingkan tabungan, tertutup soal jumlah penghasilan, dan rasa cemas untuk memastikan ada uang tersimpan bila keadaan darurat datang. Karena itu, tipe ini punya prinsip kuat, kalau belum sanggup membayar tunai, sebisa mungkin barang itu tidak dibeli dulu.
Ciri kedua, mereka lebih memilih menahan diri atau mencari jalan lain ketimbang berutang, bahkan saat kebutuhan terasa mendesak. Ketika ponsel rusak atau ada pengeluaran mendadak, tipe ini cenderung menjual barang tak terpakai, mengambil kerja sampingan, atau menunda pembelian, alih-alih langsung mengajukan pinjaman.
Ciri berikutnya adalah cara berpikir jangka panjang yang kuat. Sejumlah pakar keuangan dan psikolog menyebut perilaku menahan diri semacam ini justru sebagai tanda orang yang cermat dan berpikir jauh ke depan soal uang, bukan sekadar pelit. Bagi mereka, bunga dan cicilan bukan angka kecil, melainkan beban mental yang mengganggu ketenangan.
Ciri lain yang khas adalah dorongan untuk mandiri dan enggan merasa berutang budi pada orang lain. Bagi tipe ini, meminjam uang berarti menaruh sebagian kendali hidup di tangan orang lain, dan itu terasa tidak nyaman. Brad Klontz, dikutip dari CNBC, menyatakan, "Sebagian besar perilaku finansial kita akan sangat masuk akal begitu kita memahami keyakinan yang ada di baliknya."
Alasan Psikologis di Balik Sikap Anti-Utang
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3596909/original/083215200_1633707962-Ilustrasi_Utang_atau_Pinjaman_5.jpg)
Kenapa ada orang yang begitu keras menolak utang? Salah satu jawabannya adalah loss aversion, kecenderungan manusia merasakan sakitnya kehilangan jauh lebih besar daripada senangnya mendapat keuntungan setara. Bagi orang yang menjadikan kondisi bebas utang sebagai titik acuan, mengambil pinjaman terasa seperti langkah mundur yang menyakitkan, sehingga mereka menghindarinya.
Faktor lain adalah regret aversion, yaitu rasa takut menyesal seandainya keadaan berubah dan utang berubah menjadi jerat. Penelitian perilaku menunjukkan orang seperti ini kerap membayangkan skenario terburuk lebih dulu, lalu memilih aman dengan tidak berutang sama sekali.
Akar lainnya tertanam sejak kecil lewat money scripts yang diwariskan keluarga. Anak yang tumbuh melihat orang tuanya kesulitan karena utang, atau diajari bahwa berutang itu memalukan, cenderung membawa keyakinan tersebut hingga dewasa dan menjadikannya benteng otomatis.
Sisi baiknya, kewaspadaan ini punya fungsi melindungi. Pola money vigilance dianggap sebagai faktor pelindung karena orang dengan pola ini jauh lebih kecil kemungkinannya berbelanja secara kompulsif. Kesadaran inilah yang membuat mereka jarang terseret gaya hidup di luar kemampuan.
Advertisement
Sisi Positif dan Risiko dari Terlalu Enggan Berutang
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9363874/original/042555500_1790923989-WhatsApp_Image_2026-10-02_at_12.33.54__3_.jpeg)
Sikap enggan berutang jelas punya banyak manfaat. Kamu terhindar dari jebakan bunga, arus kas lebih lega, dan tidur lebih nyenyak tanpa dikejar tanggal jatuh tempo. Kebiasaan hidup di bawah kemampuan juga membuat keuangan lebih tahan banting saat ekonomi bergejolak.Â
Kuncinya, sikap ini perlu diletakkan pada porsi yang sehat, bukan berubah jadi rasa takut berlebihan. Ada bedanya antara hemat yang terencana dan pelit tanpa tujuan; orang yang hidup hemat tetap mengalokasikan dana untuk hal-hal penting dan bernilai, sekaligus menghindari pemborosan serta pengeluaran impulsif, dan memahami perbedaan hemat dan pelit membantu kamu menjaga keseimbangan itu.Â
Namun bila berlebihan, enggan berutang juga ada ongkosnya. Mengacu pada riset yang dipublikasikan American Economic Association, sekitar sepertiga partisipan mengabaikan imbal hasil tinggi demi fokus melunasi utang, dan kemungkinan mereka berutang untuk berinvestasi 50 persen lebih rendah ketika hal itu berujung pada tanggungan utang. Artinya, ketakutan berlebihan bisa membuat seseorang melewatkan peluang produktif, seperti modal usaha atau kredit rumah yang sebenarnya terjangkau.
Risiko lain bersifat emosional. Terlalu ketat menahan diri bisa memicu stres dan kelelahan berhemat, sehingga penting tahu hidup hemat tanpa stres agar kamu tetap bisa menikmati hasil jerih payah sendiri.
Cara Membangun Keuangan Sehat Tanpa Bergantung pada Utang
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5377387/original/067386300_1760092707-utang.jpg)
Kabar baiknya, kemampuan hidup minim utang bisa dilatih siapa saja. Fondasi utamanya adalah dana darurat, karena dengan cadangan ini kamu tidak perlu berutang atau menggesek kartu kredit saat ada biaya tak terduga. Kamu bisa mulai dengan menentukan dana darurat yang realistis sesuai kondisimu.Â
Tidak perlu langsung besar. Terapkan cara menabung untuk dana darurat dengan target kecil dulu, lalu naikkan perlahan. Para ahli keuangan umumnya merekomendasikan cadangan setara tiga hingga enam bulan biaya hidup, dan cadangan inilah yang akan berperan sebagai uang darurat sebagai penyelamat ketika kebutuhan mendadak datang.
Kalau saat ini kamu masih punya cicilan, jangan tunda menabung sampai lunas. Tanpa sedikit pun tabungan, satu kejadian tak terduga bisa memaksamu kembali berutang, jadi belajarlah tetap menabung walau punya utang sambil membenahi kebiasaan finansial yang baik.Â
Selanjutnya, bangun disiplin harian. Kamu bisa mengikuti tips menabung setiap hari atau cara menabung dengan cepat bila punya target tertentu, sambil rutin membedakan kebutuhan dan keinginan. Menerapkan tips hidup hemat dan tips belanja hemat akan menekan pengeluaran impulsif yang sering jadi pintu masuk utang konsumtif.
Terakhir, jaga agar utang tidak menjadi kebiasaan. Pelajari cara menghindari utang konsumtif dan terapkan tips hemat uang yang efektif, sehingga bahkan untuk momen besar sekalipun kamu bisa mengumpulkan dana tanpa berutang.
Pada akhirnya, enggan berutang bukanlah kelemahan selama diletakkan pada takaran yang sehat dan disertai perencanaan. Dengan mengenali ciri orang yang enggan berutang meski sedang butuh menurut psikologi, kamu bisa mengambil sisi baiknya, yaitu disiplin dan kehati-hatian, tanpa terjebak rasa takut yang justru menghambat peluang bertumbuh.
Pertanyaan tentang Kebiasaan Enggan Berutang
1. Apakah orang yang tidak mau berutang berarti terlalu takut mengambil risiko?
Tidak selalu. Keengganan berutang dapat menunjukkan bahwa seseorang lebih mempertimbangkan konsekuensi jangka panjang sebelum mengambil keputusan finansial. Namun, jika penolakan terhadap semua bentuk utang membuat seseorang melewatkan kebutuhan yang penting dan terukur, sikap tersebut juga perlu dievaluasi.
2. Mengapa sebagian orang tetap tidak mau berutang meski sedang membutuhkan uang?
Salah satu alasannya adalah keinginan mempertahankan rasa aman dan kendali atas keuangan. Bagi mereka, kewajiban membayar cicilan di masa depan dapat terasa lebih membebani daripada kesulitan mengurangi pengeluaran untuk sementara.
3. Apakah orang yang enggan berutang berarti lebih pandai mengatur keuangan?
Belum tentu. Tidak memiliki utang memang dapat mengurangi beban pembayaran rutin, tetapi kemampuan mengelola keuangan juga dipengaruhi oleh cara seseorang membuat anggaran, menabung, menyiapkan dana darurat, dan menentukan prioritas.
4. Apakah penolakan terhadap utang bisa terbentuk sejak kecil?
Bisa. Pengalaman keluarga, cara orang tua membicarakan uang, serta pengalaman melihat dampak utang dapat membentuk keyakinan seseorang terhadap pinjaman. Pola tersebut kemudian dapat terbawa ketika seseorang mulai mengelola keuangannya sendiri.
5. Apakah semua utang berdampak buruk bagi kondisi finansial?
Tidak. Dampak utang bergantung pada tujuan, biaya, kemampuan membayar, dan risikonya. Utang untuk kebutuhan produktif yang terukur berbeda dengan utang konsumtif yang terus digunakan untuk menutup pengeluaran sebelumnya.
6. Mengapa cicilan bisa terasa mengganggu bagi orang yang tidak suka berutang?
Cicilan menciptakan kewajiban finansial yang harus dipenuhi pada masa mendatang. Bagi orang yang sangat menghargai kebebasan finansial, kewajiban tersebut dapat menimbulkan tekanan psikologis meskipun jumlah cicilannya masih mampu dibayar.
Advertisement
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5562930/original/087212000_1776842538-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-04-22T142049.188.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4403399/original/021681200_1682044577-cek_fakta_mesin_cuci.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9354245/original/038987000_1790044500-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-09-22T093245.164.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9362168/original/042983100_1790759666-WhatsApp_Image_2026-09-18_at_8.42.42_AM.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9356326/original/036230100_1790159453-01M36SM96E0FGFQEVPV3RYGJB3.jpg)

:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5447736/original/015145700_1765962219-Vertical_500x656_-_SIXtainability.png)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5582945/original/056926200_1778132999-1.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4192232/original/046280400_1665758549-IMG_20221014_193652.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4953473/original/059895800_1727324477-Screenshot__199_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3439060/original/027890100_1619331962-WhatsApp_Image_2021-04-25_at_08.18.15.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5501317/original/009183900_1770893383-Foto_Ilustrasi__1_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9364651/original/002458200_1791013905-A6_00020.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9363979/original/062618200_1790927438-WhatsApp_Image_2026-10-02_at_14.34.23.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9363541/original/082820800_1790873841-Foto_2.jpg.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9363423/original/047017100_1790859858-WhatsApp_Image_2026-10-01_at_6.58.42_PM__1_.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9362754/original/098924600_1790829492-WhatsApp_Image_2026-10-01_at_09.43.00__1_.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9362269/original/040098400_1790766180-795732a8-c861-4c22-8125-6fbfa58c0b6d.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9309012/original/011632200_1785214700-Gemini_Generated_Image_5o6uim5o6uim5o6u.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9365849/original/035081000_1791197798-email-attachment_2026_10_05_immanuel-christian_utang-pinjol-warga-ri-tembus-rp-10694-triliun-kredit-macet-473_IMG_7562.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9353342/original/073453900_1789961127-IMG_7201.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/1410009/original/036605800_1479473963-_DSC0510_ok.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5509296/original/068715000_1771675865-PT_Kereta_Cepat_Indonesia_China__KCIC__memberikan_promo_khusus_bagi_tiket_Whoosh-21_Februari_2026a.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4604009/original/088733100_1696838759-WhatsApp_Image_2023-10-09_at_13.31.08__1_.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5317191/original/029207300_1755314565-Ilustrasi_utang__keungan.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/2704251/original/000193900_1547530828-bendera_AS.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4902143/original/062232900_1721985237-rafael-garcin-cE1ObffUthE-unsplash.jpg)