7 Kepribadian Orang yang Selalu Minta Maaf padahal Tidak Salah

Sering merasa perlu minta maaf padahal tidak salah? Kenali 7 ciri kepribadian ini menurut psikologi, penyebabnya, dan cara sehat mengatasi kebiasaan tersebut.

Diterbitkan 09 September 2026, 14:14 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Pernahkah Anda mengucapkan "maaf" padahal tidak melakukan kesalahan apa pun? Menurut sejumlah psikolog dan terapis, kebiasaan ini sering kali bukan sekadar sopan santun, melainkan cerminan pola kepribadian tertentu yang berakar dari rasa takut konflik, harga diri rendah, hingga kebiasaan people pleasing yang terbentuk sejak lama.

Kebiasaan minta maaf berlebihan atau over-apologizing memang terlihat sepele. Namun jika dibiarkan, kebiasaan ini bisa memengaruhi cara seseorang memandang dirinya sendiri dan menghambatnya untuk bersikap tegas dalam hubungan sosial maupun pekerjaan. Berikut tujuh kepribadian yang biasanya melekat pada orang yang selalu minta maaf padahal tidak salah, menurut penelusuran psikologi.

1. Takut Konflik dan Menghindari Ketegangan

Orang yang selalu minta maaf padahal tidak salah umumnya sangat menghindari konflik. Mereka lebih memilih mengambil kesalahan lebih dulu daripada harus berhadapan dengan ketegangan atau perdebatan, meski sebenarnya tidak ada yang perlu dipertanggungjawabkan.

Menurut penjelasan di Psychology Today, pola ini disebut sebagai "anxious sorry" atau permintaan maaf yang muncul dari kecemasan. Permintaan maaf jenis ini berfungsi sebagai langkah pencegahan agar situasi tidak berkembang menjadi konflik terbuka, meski hanya memberi rasa lega sesaat dan tidak menyelesaikan akar masalahnya.

2. Harga Diri Rendah dan Merasa Menjadi Beban

Ciri kedua adalah kecenderungan memiliki harga diri atau self-esteem yang rendah. Orang dengan pola ini kerap merasa keberadaannya merepotkan orang lain, sehingga permintaan maaf menjadi cara untuk "memperkecil diri" agar tidak dianggap mengganggu.

Psychology Today mencatat, keyakinan bahwa diri sendiri tidak layak mendapat perhatian atau dukungan bisa membuat seseorang terus-menerus meminta maaf, bahkan untuk hal-hal yang sangat kecil seperti menabrak orang lain secara tidak sengaja. Lama-kelamaan, kebiasaan ini justru memperkuat keyakinan negatif tersebut terhadap diri sendiri.

3. People Pleaser yang Haus Validasi Sosial

Orang yang selalu minta maaf padahal tidak salah juga sering menunjukkan ciri people pleaser, yaitu kecenderungan mengutamakan penerimaan dan persetujuan orang lain di atas kebutuhan diri sendiri.

Psychologs menjelaskan, sebagian orang meminta maaf secara berlebihan karena ingin disukai dan diterima secara sosial. Sementara itu, PsychCentral mencatat, dorongan people pleasing ini bisa berpadu dengan rasa bersalah yang muncul meski tidak melakukan kesalahan apa pun, sehingga permintaan maaf menjadi respons otomatis dalam banyak situasi sosial.

4. Perfeksionis yang Takut Dinilai Buruk

Kecenderungan perfeksionisme juga kerap ditemukan pada orang yang gemar meminta maaf tanpa alasan jelas. Standar yang sangat tinggi terhadap diri sendiri membuat mereka merasa selalu ada yang kurang, bahkan pada pekerjaan yang sebenarnya sudah baik.

Menurut Psychologs, perfeksionis memiliki ekspektasi yang nyaris mustahil dipenuhi terhadap dirinya sendiri. Akibatnya, permintaan maaf sering muncul sebagai antisipasi sebelum mendapat kritik atau penilaian negatif dari orang lain, meski penilaian tersebut belum tentu terjadi.

5. Kecemasan Sosial dan Terlalu Fokus pada Persepsi Orang Lain

Ciri lain yang muncul adalah kecemasan sosial, yaitu rasa khawatir berlebihan terhadap bagaimana orang lain menilai diri sendiri. Orang dengan kecenderungan ini biasanya sangat peka terhadap reaksi lawan bicara, meski reaksi tersebut sebenarnya netral.

Neurolaunch menyebutkan, rasa cemas semacam ini membuat seseorang menganggap keberadaannya di ruang bersama sebagai sesuatu yang "mengganggu", misalnya secara refleks mengucap maaf saat berdesakan di lift meski semua orang memang sedang melakukan hal yang sama.

6. Berakar dari Pengalaman atau Luka Masa Lalu

Kebiasaan minta maaf berlebihan sering kali bukan muncul begitu saja, melainkan terbentuk dari pengalaman masa lalu yang belum sepenuhnya pulih. Pola asuh, hubungan yang tidak sehat, atau pengalaman disalahkan secara berulang bisa menjadi pemicunya.

The Zoe Report mengutip penjelasan Kobe Campbell, terapis trauma, yang menyebut over-apologizing sebagai bentuk "self-betrayal" atau pengkhianatan terhadap diri sendiri, karena seseorang bersedia menanggung kesalahan dan konsekuensi yang sebenarnya bukan tanggung jawabnya. Memahami dari mana kebiasaan ini berasal disebut sebagai langkah penting dalam proses pemulihannya.

7. Kesulitan Menetapkan Batasan (Boundaries)

Terakhir, orang yang selalu minta maaf padahal tidak salah biasanya kesulitan menetapkan batasan pribadi yang jelas. Mereka cenderung mendahulukan kenyamanan orang lain, sehingga sulit menolak permintaan atau menyuarakan pendapat yang berbeda.

Sage Therapy menjelaskan, pola ini bisa membuat seseorang menganggap keberadaan dirinya sendiri sebagai "gangguan" bagi orang lain dalam jangka panjang. Kondisi ini pada akhirnya berdampak pada kepercayaan diri dan kemampuan seseorang untuk menghargai kebutuhannya sendiri.

Kapan Perlu Mengevaluasi Kebiasaan Ini

Mengenali ciri-ciri di atas pada diri sendiri bisa menjadi titik awal untuk mulai lebih sadar terhadap kebiasaan meminta maaf yang tidak perlu. Beberapa sumber menyarankan untuk mulai mengganti ucapan "maaf" dengan ungkapan lain, misalnya "terima kasih sudah menunggu" alih-alih "maaf sudah membuat menunggu", sebagai langkah kecil melatih diri.

Perlu dicatat, artikel ini bersifat informatif berdasarkan penelusuran psikologi umum dan bukan pengganti diagnosis atau konsultasi dengan psikolog maupun tenaga kesehatan mental profesional. Jika kebiasaan minta maaf berlebihan terasa mengganggu keseharian atau disertai kecemasan yang intens, berkonsultasi langsung dengan profesional adalah langkah yang lebih tepat.

Pertanyaan Seputar Kepribadian yang Selalu Minta Maaf

Apa penyebab seseorang sering minta maaf padahal tidak salah?

Umumnya berakar dari rendahnya harga diri, rasa takut konflik, kecenderungan people pleasing, atau luka emosional dari pengalaman masa lalu yang belum sepenuhnya pulih.

Apakah kebiasaan minta maaf berlebihan berbahaya?

Menurut sejumlah profesional kesehatan mental, kebiasaan ini bisa memicu rasa dendam yang terpendam, menurunkan rasa percaya diri, dan menyulitkan seseorang mempertahankan pendapatnya sendiri dalam jangka panjang.

Bagaimana cara berhenti dari kebiasaan over-apologizing?

Langkah awal adalah menyadari pola pikir di baliknya, lalu melatih diri mengganti kata "maaf" dengan ungkapan lain seperti "terima kasih" pada situasi yang sebenarnya tidak memerlukan permintaan maaf.

Apakah over-apologizing tanda gangguan mental?

Tidak selalu. Kebiasaan ini lebih sering berkaitan dengan pola kepribadian seperti people pleasing atau kecemasan sosial, meski pada sebagian kasus tertentu bisa berkaitan dengan kondisi seperti gangguan kecemasan.

Apa bedanya minta maaf yang tulus dan minta maaf karena kebiasaan?

Minta maaf yang tulus muncul saat memang ada kesalahan nyata dan bertujuan memperbaiki hubungan, sementara minta maaf karena kebiasaan muncul secara refleks meski tidak ada kesalahan, didorong oleh rasa cemas atau takut dinilai.