Liputan6.com, Jakarta - Sebagian orang tidak bisa menolak kue, cokelat, atau es krim meski sudah tahu risikonya. Rasanya seperti ada dorongan yang lebih kuat daripada niat untuk berhenti. Penelitian terbaru mengungkap bahwa ada faktor genetik penyebab orang yang menyukai makanan manis, sehingga kebiasaan ini bukan semata soal kemauan atau kurang disiplin dalam menjaga pola makan sehari-hari.
Fenomena ini mungkin terasa dekat dengan keseharian banyak orang. Ada yang bisa menikmati satu potong kue lalu berhenti, ada pula yang terus mencari camilan manis sepanjang hari tanpa merasa cukup. Pola ini sering muncul dalam satu keluarga, dari orangtua ke anak, seolah memang diturunkan lewat garis darah dan bukan hanya kebiasaan yang dipelajari dari lingkungan sekitar.
Sains kini mulai membuka jawaban di balik pola tersebut. Riset menunjukkan ada faktor genetik penyebab orang yang menyukai makanan manis, mulai dari gen reseptor di lidah hingga cara otak merespons gula. Artikel ini akan mengulas bagaimana manusia merasakan manis, peran genetik di baliknya, bahaya gula bagi tubuh, serta cara sederhana mengurangi konsumsi gula setiap hari, dilansir oleh Liputan6.com dari berbagai sumber, Selasa (8/9/2026).
Advertisement
Bagaimana Manusia Merasakan Manis
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9343180/original/072495900_1788846243-icons8-team-NtwdMDylfTw-unsplash.jpg)
Rasa manis dikenali lewat reseptor khusus di permukaan lidah bernama TAS1R2 dan TAS1R3. Menurut riset yang dipublikasikan di BMC Oral Health oleh Danielle Reed dan Amanda McDaniel, dua gen inilah yang membentuk reseptor sweet taste pada manusia dan sejumlah mamalia lain, sehingga molekul gula bisa dikenali dan diteruskan sebagai sinyal ke otak.
Kemampuan mendeteksi rasa manis bukan kebetulan dalam sejarah evolusi manusia. Antropolog Stephen Wooding dalam tulisannya di laman siSapiens menjelaskan bahwa nenek moyang manusia yang mampu mengenali rasa manis lebih cepat menemukan sumber kalori tinggi di alam, seperti buah matang, sehingga mereka lebih mudah bertahan hidup dibanding yang tidak memiliki kepekaan serupa.
Setelah terdeteksi di lidah, sinyal manis diteruskan ke otak dan memicu pelepasan hormon serta zat kimia tertentu. Uren dalam artikelnya tentang sains rasa manis menyebutkan bahwa proses ini melibatkan pelepasan insulin untuk mengatur gula darah, sekaligus dopamin yang menimbulkan rasa senang, sehingga makanan manis terasa memuaskan bagi banyak orang.
Advertisement
Apakah Faktor Genetik Menyebabkan Orang Suka Manis?
Studi awal dari Center for Genomic Medicine, Massachusetts General Hospital, yang dilansir Food & Wine, menganalisis data hampir 500 ribu peserta UK Biobank. Hasilnya, orang dengan skor genetik lebih tinggi untuk menyukai rasa manis rata-rata mengonsumsi sekitar 7 gram makanan manis lebih banyak per hari dibanding orang lain.
Dokter Nneoma Oparaji, yang dikutip situs yang sama, menjelaskan bahwa gen memberi instruksi bagi reseptor yang mendeteksi rasa manis, asin, pahit, dan asam. Variasi genetik pada reseptor ini membuat satu makanan bisa terasa berbeda tingkat manisnya bagi orang yang berbeda, meski mereka memakan produk yang persis sama.
Riset pada tikus di Monell Chemical Senses Center juga memperkuat temuan ini. Tim peneliti menemukan gen TAS1R3 memengaruhi seberapa besar minat tikus terhadap larutan gula, dan belakangan menemukan sejumlah gen lain yang memengaruhi cara tubuh mengolah gula setelah dikonsumsi, bukan hanya soal kepekaan lidah semata.
Meski begitu, Reed dan McDaniel dalam BMC Oral Health menegaskan tidak ada satu gen tunggal yang menentukan seseorang menyukai manis atau tidak. Kombinasi banyak gen, ditambah usia, jenis kelamin, dan lingkungan tempat tinggal, sama-sama berperan membentuk preferensi rasa manis pada setiap individu secara berbeda-beda.
Berapa Batas Aman Gula yang Boleh Dikonsumsi Setiap Hari?
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9343181/original/087810300_1788846243-myriam-zilles-tEJm9fvlju8-unsplash.jpg)
Salah satu bahaya di balik makanan manis adalah gula yang mudah dikonsumsi secara berlebihan tanpa disadari. Karena itu, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menetapkan batas asupan gula bebas agar tidak melebihi 10 persen dari total energi harian, baik untuk orang dewasa maupun anak-anak. Menurut factsheet WHO Eropa, batas ini bersifat rekomendasi kuat karena manfaatnya sudah terbukti jelas mengurangi risiko obesitas dan penyakit tidak menular.
WHO bahkan menyarankan batas yang lebih ketat, yaitu di bawah 5 persen dari total energi harian, meski sifatnya masih rekomendasi bersyarat karena bukti ilmiahnya belum sekuat batas 10 persen. Sementara itu, NHS di Inggris menerjemahkan angka ini menjadi maksimal 30 gram gula bebas per hari untuk orang dewasa, setara sekitar tujuh sendok teh.
Batas ini berbeda untuk anak-anak sesuai usia mereka. NHS mencatat anak usia 7 sampai 10 tahun disarankan tidak lebih dari 24 gram gula bebas per hari, sedangkan anak usia 4 sampai 6 tahun dibatasi hingga 19 gram. Sebagai gambaran, satu kaleng cola saja bisa mengandung gula setara batas harian orang dewasa.
Advertisement
Bahaya Gula Bagi Kesehatan
Kecenderungan genetik terhadap rasa manis tidak berarti seseorang bebas mengonsumsi gula sebanyak apa pun. Sejumlah lembaga kesehatan mencatat bahaya jangka panjang dari kebiasaan ini apabila dibiarkan tanpa kontrol. Berikut beberapa risiko yang perlu diketahui:
- Meningkatkan Risiko Penyakit Jantung: Melansir dari Harvard Health Publishing, studi yang diterbitkan oleh BMC Medicine pada lebih dari 110 ribu orang yang menemukan asupan gula tambahan berkaitan dengan risiko penyakit jantung dan stroke yang lebih tinggi.
- Memicu Perlemakan Hati: Healthline melaporkan konsumsi fruktosa berlebih dapat membebani hati dan memicu penyakit hati berlemak nonalkoholik (nonalcoholic fatty liver disease/NAFLD), kondisi penumpukan lemak berlebih di organ hati.
- Menambah Risiko Obesitas dan Diabetes: Menurut factsheet WHO Eropa, konsumsi gula bebas yang berlebihan menyumbang energi tinggi tanpa nutrisi penting, sehingga meningkatkan risiko kelebihan berat badan dan diabetes tipe 2.
- Merusak Kesehatan Gigi: Gula yang menempel di permukaan gigi menjadi makanan bagi bakteri mulut, yang kemudian menghasilkan asam dan menyebabkan gigi berlubang.
- Meningkatkan Risiko Asam Urat dan Gangguan Ginjal: Kadar gula darah yang tinggi secara terus-menerus dapat merusak pembuluh darah kecil di ginjal serta menaikkan kadar asam urat dalam tubuh.
Tips Mengurangi Konsumsi Gula Sehari-Hari
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5513044/original/035035600_1772001685-pablo-merchan-montes-Orz90t6o0e4-unsplash.jpg)
Mengurangi konsumsi gula tidak harus dilakukan secara drastis dan langsung dalam sehari. Perubahan kecil yang dilakukan bertahap justru lebih mudah bertahan dalam jangka panjang. Berikut beberapa cara sederhana yang bisa dicoba mulai hari ini:
- Ganti Minuman Manis dengan Air Putih: Soda, teh manis, dan minuman kemasan bisa diganti dengan air putih atau air soda tanpa gula agar asupan gula harian tidak menumpuk.
- Pilih Buah Utuh Dibanding Jus: Buah utuh mengandung serat yang membuat gula diserap lebih lambat, berbeda dengan jus yang gulanya lebih cepat masuk ke aliran darah.
- Kurangi Gula Secara Bertahap: Jika biasa memakai dua sendok gula dalam kopi atau teh, coba kurangi setengah sendok setiap beberapa hari hingga lidah terbiasa dengan rasa yang lebih tawar.
- Baca Label Kemasan Makanan: Periksa angka gula pada label nutrisi dan bandingkan antar produk sebelum membeli, karena makanan yang tampak serupa bisa memiliki kandungan gula yang jauh berbeda.
- Padukan Camilan Manis dengan Protein atau Serat: Menambahkan kacang atau yogurt tawar pada buah bisa membuat camilan lebih mengenyangkan sehingga keinginan menambah porsi manis berkurang.
- Simpan Camilan Sehat di Tempat yang Mudah Terliha: Menyimpan buah atau kacang di tempat yang gampang dijangkau, sementara camilan manis disimpan jauh, dapat membantu memilih makanan lebih sehat secara alami.
Advertisement
Pertanyaan Seputar Faktor Genetik Penyebab Orang Suka Makanan Manis
Apakah benar ada faktor genetik penyebab orang yang menyukai makanan manis?
Benar. Riset UK Biobank pada hampir 500 ribu orang menemukan bahwa skor genetik seseorang untuk rasa manis berkaitan dengan jumlah makanan manis yang dikonsumsi setiap hari.
Gen apa yang berperan dalam rasa manis?
Gen TAS1R2 dan TAS1R3 membentuk reseptor rasa manis di lidah, sehingga menentukan seberapa kuat seseorang merasakan gula dalam makanan atau minuman.
Apakah orang dengan gen sweet tooth pasti terkena diabetes?
Tidak pasti. Faktor genetik hanya meningkatkan risiko lewat kebiasaan makan lebih banyak gula, sementara pola makan, aktivitas fisik, dan gaya hidup tetap ikut menentukan.
Berapa batas aman konsumsi gula per hari?
NHS merekomendasikan orang dewasa membatasi gula bebas maksimal 30 gram atau sekitar tujuh sendok teh per hari.
Bisakah kebiasaan suka manis diubah meski faktor genetiknya ada?
Bisa. Preferensi rasa manis dapat disesuaikan secara bertahap dengan mengurangi porsi gula sedikit demi sedikit hingga lidah terbiasa dengan rasa yang lebih tawar.
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9342535/original/041645600_1788773436-HOAX__11_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9342958/original/090035200_1788838614-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-09-08T103615.451.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/850960/original/018479100_1428984571-KAA3.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9336194/original/011453800_1788145793-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-08-31T100906.764.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9343179/original/058167600_1788846243-38530.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9343070/original/079377200_1788843305-c51cf9a3-f4c0-46f8-87bc-d1f230a6a0a7.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9342795/original/080058600_1788831338-pexels-ron-lach-10554827.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9342768/original/004249400_1788827525-7c1a741d-b106-46ca-87d4-1a03e9166286.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9342675/original/084335100_1788785242-jeremy-bishop-f2BqTZXaDkI-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4574795/original/070414000_1694659547-cake-with-party-hat-present.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4567997/original/063787700_1694148747-20230908082134__fpdl.in__young-woman-sleeping-her-bed_1303-30229_normal.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5540588/original/029372600_1774771050-pexels-cottonbro-6068950.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5194240/original/090976600_1745293309-Pastikan_Botol_Parfum_Tertutup_Rapat.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9342501/original/042476700_1788772155-cdfgfdfds.jpg)