Liputan6.com, Jakarta - Hobi anak gen x dan gen milenial yang membuat mereka lebih cerdas ternyata banyak berasal dari aktivitas sederhana yang dulu dilakukan untuk mengisi waktu luang. Membaca buku, bermain kartu, menggambar, hingga membuat permainan sendiri di luar rumah secara tidak langsung melatih kemampuan berpikir, mengingat, memecahkan masalah, dan berkreasi.
Gagasan ini kembali ramai setelah YourTango membahas enam hobi anak yang tumbuh pada era 1980-an dan 1990-an yang dianggap membantu mereka mengasah kemampuan berpikir. Namun, penelitian ilmiah menunjukkan bahwa hubungan antara hobi dan kecerdasan tidak sesederhana “hobi tertentu otomatis membuat anak lebih pintar”.
Penelitian University College London (UCL) juga menemukan bahwa kebiasaan membaca untuk kesenangan pada masa kanak-kanak berkaitan dengan perkembangan kosakata dan kemampuan matematika yang lebih baik, sementara penelitian lain menunjukkan manfaat permainan strategi, aktivitas kreatif, musik, permainan bebas, dan rasa ingin tahu terhadap sejumlah kemampuan kognitif. Berikut Liputan6.com merangkum hobi anak gen x dan gen milenial yang membuat mereka lebih cerdasSenin (24/8/2026).
Advertisement
Sekilas tentang Gen X dan Gen Milenial
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9317007/original/086516400_1785999379-pexels-silverkblack-22690878.jpg)
Sebelum membahas hobinya, istilah generasi perlu dipahami lebih dahulu. Pew Research Center menggunakan rentang kelahiran 1965-1980 untuk Generasi X dan 1981-1996 untuk generasi Milenial.
Batas generasi ini bukan aturan mutlak, melainkan alat untuk melihat kelompok masyarakat berdasarkan pengalaman hidup dan perkembangan zaman yang kurang lebih serupa.
Karena itu, ketika membahas hobi anak Gen X dan Milenial, yang dimaksud bukan berarti semua orang dalam dua generasi tersebut mempunyai masa kecil yang sama. Pembahasannya lebih tepat diarahkan pada kebiasaan anak yang tumbuh terutama pada 1980-an dan 1990-an, ketika ponsel pintar, media sosial, dan layanan hiburan digital belum menjadi bagian utama kehidupan sehari-hari.
YourTango menekankan hal yang sama. Artikel “People Raised In The 80s & 90s Had 6 Hobbies That Made Them Mentally Sharper Than Younger Generations” karya MeShanda Deason tidak menyatakan bahwa Gen X dan Milenial otomatis lebih cerdas, melainkan menyoroti aktivitas yang membuat anak pada masa itu lebih sering menggunakan imajinasi, memecahkan masalah, dan mencari informasi secara aktif.
Advertisement
1. Membaca Buku untuk Bersenang-Senang
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5570858/original/099579100_1777545629-2148464409.jpg)
Membaca bukan hanya kegiatan untuk mengerjakan tugas sekolah. Banyak anak pada era 1980-an dan 1990-an membaca novel, komik, ensiklopedia, majalah, atau buku cerita hanya karena penasaran dan ingin menikmati ceritanya.
Kebiasaan ini menarik karena anak harus mempertahankan perhatian cukup lama, memahami hubungan antara peristiwa, mengingat tokoh dan informasi, serta membayangkan situasi yang tidak mereka lihat secara langsung.
Penelitian Alice Sullivan dan Matt Brown dalam jurnal “Reading for Pleasure and Progress in Vocabulary and Mathematics” (2015) menemukan bahwa membaca untuk kesenangan pada masa kanak-kanak berkaitan dengan perkembangan kemampuan kognitif antara usia 10 dan 16 tahun.
Hubungan paling kuat terlihat pada perkembangan kosakata, tetapi ada pula hubungan yang cukup besar dengan kemajuan matematika.
Pusat penelitian University College London juga melaporkan bahwa anak yang sering membaca memiliki perkembangan kosakata dan kemampuan matematika yang lebih baik.
Dengan demikian, membaca untuk kesenangan dapat menjadi salah satu hobi yang membangun kemampuan bahasa, pemahaman, daya ingat, dan kebiasaan belajar sepanjang hidup.
2. Bermain Permainan Papan dan Kartu yang Memerlukan Strategi
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3407958/original/026661100_1616407234-pexels-gabby-k-5062807.jpg)
Monopoli, catur, permainan kartu, atau permainan papan lainnya tidak hanya digunakan untuk bersenang-senang. Permainan tertentu membuat anak harus mengingat aturan, mempertimbangkan pilihan, memperkirakan langkah lawan, dan menerima akibat dari keputusan yang dibuat. Permainan papan dan kartu sebagai aktivitas yang membuat anak berpikir beberapa langkah ke depan.
Permainan bersama orang lain juga membuat anak belajar memperkirakan apa yang mungkin dilakukan pemain lain, sehingga prosesnya tidak hanya melibatkan logika, tetapi juga kemampuan memahami situasi sosial.
Dalam penelitian “The effect of board games on executive functions and mathematical skills in primary school children” yang diterbitkan dalam Trends in Neuroscience and Education (2023), Nuria Vita-Barrull dan rekan-rekan menemukan adanya peningkatan pada beberapa kemampuan berpikir dan matematika setelah anak mengikuti program permainan papan.
Namun, penelitian lain menunjukkan hasil yang beragam. Karena itu, permainan papan sebaiknya dilihat sebagai aktivitas yang berpotensi melatih otak, bukan sebagai jaminan bahwa anak pasti menjadi lebih cerdas.
Advertisement
3. Menggambar, Menulis, dan Berkreasi Tanpa Takut Hasilnya Jelek
Anak yang menggambar rumah dengan bentuk tidak sempurna, menulis cerita aneh, membuat komik sendiri, atau menciptakan tokoh khayalan sebenarnya sedang melatih lebih banyak hal daripada sekadar kemampuan seni.
Saat menggambar atau menulis, anak harus menentukan ide, memilih bentuk, menghubungkan informasi, dan mengubah sesuatu yang ada di dalam pikirannya menjadi hasil nyata.
Proses ini juga memberi ruang untuk mencoba, gagal, mengubah cara, lalu mencoba kembali.
Salah satu kelebihan kegiatan kreatif pada masa lalu adalah anak tidak selalu merasa harus menghasilkan sesuatu yang layak dipamerkan. Mereka bisa membuat karya yang buruk, tertawa, lalu mencoba lagi.
Penelitian dalam BMC Psychology berjudul “The association between cognitive flexibility and creativity across childhood and adolescence: a scoping review” (2026) menunjukkan bahwa kreativitas dan keluwesan berpikir memiliki hubungan yang saling berkaitan sepanjang masa kanak-kanak dan remaja.
Artinya, menggambar dan menulis bukan hanya soal menghasilkan karya bagus. Yang lebih penting adalah proses berpikir di balik kegiatan tersebut.
4. Bermain di Luar dan Menciptakan Permainan Sendiri
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8261183/original/088136300_1781688257-pexels-rainereckphotography-18474582.jpg)
Dulu, banyak anak cukup keluar rumah dengan teman-temannya tanpa membawa permainan yang sudah memiliki aturan lengkap. Sebatang kayu bisa berubah menjadi pedang, halaman kosong bisa menjadi lapangan pertandingan, sementara aturan permainan sering dibuat sendiri dan berubah sepanjang permainan.
Kegiatan semacam ini memaksa anak untuk menemukan solusi ketika muncul masalah. Mereka harus bernegosiasi dengan teman, menentukan aturan, membagi peran, menggunakan benda yang ada di sekitar, dan menyesuaikan permainan ketika kondisi berubah.
YourTango menyebut permainan bebas di luar rumah sebagai kegiatan yang melibatkan pemecahan masalah, kesadaran terhadap ruang, aktivitas fisik, dan interaksi sosial.
Tinjauan sistematis Lee dan rekan-rekan dalam “Systematic review of the impact of unstructured play interventions to improve young children's physical, social, and emotional wellbeing” (2020) menemukan dampak positif permainan tidak terstruktur terhadap aktivitas fisik, keterlibatan sosial, dan kesejahteraan emosional anak.
Jadi, bermain bebas bukan berarti anak “tidak melakukan apa-apa”. Justru, ketika aturan tidak selalu disediakan orang dewasa, anak memperoleh kesempatan untuk belajar mengambil keputusan sendiri.
Advertisement
5. Belajar Memainkan Alat Musik dan Membaca Not Musik
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4659312/original/079636300_1700669698-pexels-mart-production-8471931.jpg)
Belajar piano, gitar, biola, drum, atau alat musik lainnya membutuhkan latihan berulang. Anak harus membaca simbol, mengingat urutan, mengoordinasikan gerakan tangan, mendengarkan suara, dan memperbaiki kesalahan.
Latihan musik juga mengajarkan kesabaran karena kemampuan tidak selalu langsung terlihat. Anak bisa berlatih berminggu-minggu sebelum akhirnya mampu memainkan bagian lagu yang sebelumnya sulit.
Penelitian Rodriguez-Gomez dan Talero-Gutiérrez dalam “Effects of music training in executive function performance in children: A systematic review” (2022) meninjau 29 penelitian tentang latihan musik dan fungsi eksekutif.
Hasilnya menunjukkan kemungkinan manfaat latihan musik terutama pada kemampuan mengendalikan respons, serta dalam tingkat lebih kecil pada memori kerja dan keluwesan berpikir.
Namun, hasil tersebut tidak berarti belajar musik otomatis membuat semua anak lebih pintar. Banyak faktor lain yang juga dapat memengaruhi perkembangan kemampuan kognitif anak.
6. Mengumpulkan, Meneliti, dan Mengingat Informasi yang Tidak Banyak Diketahui
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5389314/original/000242500_1761193550-side-view-girl-learning-math-home.jpg)
Ada anak yang sangat hafal nama-nama dinosaurus, jenis mobil, pemain sepak bola, perangko, kartu, stiker, koin, bendera negara, atau berbagai fakta aneh yang tidak selalu muncul di sekolah.
Dari luar, kebiasaan tersebut mungkin terlihat seperti sekadar menghafal. Padahal, ketika ketertarikan semakin besar, anak biasanya mulai bertanya, mencari informasi, membandingkan data, dan berusaha menemukan benda atau fakta yang belum mereka miliki.
Aktivitas mengumpulkan dan meneliti informasi sebagai kebiasaan yang dapat melatih rasa ingin tahu. Nilai terpentingnya bukan pada benda yang dikumpulkan, melainkan kebiasaan mengikuti pertanyaan sampai menemukan jawabannya.
Penelitian Van Schijndel dan Jansen dalam “Integrating lines of research on children's curiosity-driven learning” (2025) menunjukkan bahwa anak lebih mampu mengingat fakta ketika mereka memiliki rasa ingin tahu yang tinggi terhadap jawabannya.
Karena itu, anak yang gemar mengumpulkan informasi sebaiknya tidak buru-buru dianggap hanya “hafal hal yang tidak penting”. Ketertarikan yang sangat spesifik justru bisa menjadi pintu masuk menuju kebiasaan belajar yang lebih dalam.
Advertisement
Apa Kesamaan dari Hobi Anak Gen X dan Gen Milenial?
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4808575/original/041350400_1713755216-pexels-ketchumcommunity-1518836.jpg)
Jika keenam hobi tersebut diperhatikan, sebenarnya ada satu kesamaan penting: anak tidak hanya menerima hiburan, tetapi ikut melakukan sesuatu.
Saat membaca, anak mengolah informasi. Saat bermain permainan strategi, mereka membuat keputusan. Ketika menggambar atau menulis, mereka menghasilkan ide. Saat bermain di luar, mereka membuat aturan.
Saat belajar musik, mereka berlatih berulang kali. Sementara ketika mengoleksi dan meneliti sesuatu, mereka mengikuti rasa ingin tahu.
Dengan kata lain, aktivitas tersebut memberi anak kesempatan untuk menggunakan beberapa kemampuan sekaligus. Inilah yang membuat hobi sederhana bisa menjadi pengalaman belajar yang kaya.
Bukan Berarti Semua Anak Zaman Dulu Lebih Cerdas
Kesimpulan paling penting dari pembahasan ini adalah menghindari anggapan bahwa anak Gen X dan Milenial pasti lebih cerdas daripada generasi setelahnya.
YourTango sendiri menegaskan bahwa perbedaan generasi tidak otomatis berarti satu generasi lebih pintar. Setiap masa memiliki kondisi dan teknologi yang membentuk keterampilan berbeda.
Anak sekarang juga dapat memperoleh manfaat serupa melalui aktivitas modern. Permainan digital tertentu, misalnya, bisa melibatkan pemecahan masalah atau perencanaan.
Yang penting bukan sekadar apakah sebuah aktivitas dilakukan secara digital atau analog, melainkan apakah aktivitas tersebut membuat anak aktif berpikir, bereksplorasi, berkreasi, berinteraksi, dan belajar dari kesalahan.
Cara Menghidupkan Kembali Hobi Lama untuk Anak Sekarang
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/2736537/original/025052600_1550923141-20190223-Jakarta-Indonesia-Pet-Show-2019-Surga-Pecinta-Hewan-Kesayangan-TEBE-4.jpg)
Orang tua tidak perlu membawa anak kembali sepenuhnya ke gaya hidup 1980-an atau 1990-an. Cukup sediakan ruang agar anak dapat menikmati kegiatan yang melatih pikiran tanpa selalu mengejar hasil.
Buku cerita dapat diletakkan di tempat yang mudah dijangkau. Permainan kartu atau papan dapat dimainkan bersama keluarga. Kertas bekas bisa digunakan untuk menggambar dan membuat komik.
Anak juga dapat diberi kesempatan bermain di halaman dengan tetap memperhatikan keselamatan.
Untuk musik, anak tidak harus langsung mengikuti kelas mahal. Mereka bisa mulai dengan belajar ritme, bernyanyi, atau memainkan alat sederhana.
Sementara itu, hobi mengumpulkan dapat diarahkan menjadi kegiatan penelitian kecil, misalnya mencari tahu asal-usul perangko, jenis daun, serangga, batu, kendaraan, atau benda lain yang mereka sukai.
Yang paling penting adalah membiarkan anak menikmati prosesnya. Ketika rasa ingin tahu muncul secara alami, kegiatan yang semula dianggap bermain dapat berubah menjadi kebiasaan belajar yang bertahan sampai dewasa.
Hobi anak Gen X dan Gen Milenial yang membuat mereka lebih cerdas sebenarnya bukan sekadar daftar aktivitas nostalgia. Membaca, bermain permainan strategi, menggambar, bermain bebas di luar, belajar musik, serta mengumpulkan dan meneliti informasi memiliki satu kesamaan, yakni memberikan kesempatan kepada anak untuk berpikir aktif.
Penelitian ilmiah menunjukkan bahwa beberapa kegiatan tersebut memiliki hubungan atau potensi manfaat terhadap kemampuan bahasa, daya ingat, fungsi eksekutif, kreativitas, pemecahan masalah, serta rasa ingin tahu. Namun, tidak ada satu hobi yang dapat menjamin seorang anak menjadi lebih cerdas.
Pada akhirnya, hobi terbaik adalah aktivitas yang membuat anak ingin terus belajar, mencoba, bertanya, dan menemukan sesuatu dengan caranya sendiri.
Advertisement
Pertanyaan dan Jawaban Seputar Hobi Anak yang Merangsang Kecerdasan
1. Apakah membaca bisa membuat anak lebih cerdas?
Membaca untuk kesenangan berkaitan dengan perkembangan kosakata dan kemampuan matematika yang lebih baik, terutama bila dilakukan secara konsisten sejak masa kanak-kanak.
2. Apakah bermain permainan papan bagus untuk otak anak?
Permainan papan yang membutuhkan strategi berpotensi melatih fungsi eksekutif, seperti fleksibilitas berpikir, memori kerja, dan pengendalian respons. Namun, bukti penelitian masih beragam.
3. Mengapa rasa ingin tahu penting bagi anak?
Rasa ingin tahu dapat membantu anak lebih fokus mencari informasi dan mengingat pengetahuan yang mereka anggap menarik.
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9331500/original/076683900_1787547059-cek_fakta_-_petugas_haji.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9329037/original/095568800_1787217508-Screenshot_2026-08-20_160444.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9316905/original/064384100_1785995980-cek_fakta_luhut.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9309638/original/028473800_1785232963-cek_fakta_-_bansos_balita.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5424229/original/056901700_1764136776-jcomp__2_.jpg)

:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9308908/original/053375300_1785209310-33027.webp)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5029244/original/047766200_1732947559-ciri-ciri-generasi-alpha.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9302104/original/016137200_1784533365-2150172128.webp)