Sukses

Tips Cegah Penyakit Gagal Ginjal Akut

Liputan6.com, Jakarta - Saat ini kasus gagal ginjal akut misterius yang terjadi pada 131 pasien anak di 14 provinsi Indonesia sedang menjadi sorotan publik.

Ramainya kasus ini membuat banyak pihak ikut prihatin. Pengurus Lembaga Kesehatan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (LK PBNU) dr. Syifa Mustika  membagikan cara pencegahan gagal ginjal akut.

Saat ini, upaya pencegahan penyakit gagal ginjal akut bisa dilakukan dengan menerapkan pola hidup sehat dan bersih, menjaga nutrisi pada makanan yang dikonsumsi, dan mencukupi kebutuhan cairan harian.

“Secara umum dengan mempertahankan pola hidup sehat, perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS), hindari makanan olahan yang siap saji, dan konsumsi air putihnya harus banyak,” ucap dr. Syifa yang merupakan dokter spesialis penyakit dalam di Rumah Sakit Umum Saiful Anwar, Malang.

Dokter Spesialis Penyakit Dalam sekaligus Konsultan Gastroenterologi mengatakan, penyakit gagal ginjal tidak bersifat mendadak. dr. Syifa menjelaskan, gagal ginjal merupakan suatu penyakit kronik dan progresif.

 “Jadi, ia (penyakit ini) berjalan terus tapi perlahan, yang perlu diwaspadai ini kasus gagal ginjal akut misterius karena gangguannya berjalan cepat dan progresif juga,” ujar dia.

dr. Syifa juga menjabarkan, umumnya gejala gagal ginjal akut ditandai dengan adanya penurunan output urine, pembengkakan akibat retensi cairan, mual, kelelahan, dan sesak napas. Menurutnya, terkadang gejala gagal ginjal akut ini juga tidak terlalu kelihatan nyata. 

“Biasanya gangguan berkemih misalnya kencing lancar atau banyak kencing, kali ini dia enggak pipis. Atau pada kasus ini, karena banyak terjadi pada anak usia 5 tahun, dia (pasien anak-anak) jadi rewel,” ujar dokter yang juga praktik di Rumah Sakit Hermina, Malang, Jawa Timur itu.

dr. Syifa menambahkan, gejala paling dominan penyakit gagal ginjal akut ini mulai dari demam, nyeri pinggang, hingga lemas. 

 “Yang paling dominan itu bisa demam, nyeri pinggang, atau volume urinenya berkurang dan juga kondisi yang lebih lanjut, lemas, penurunan kesadaran, atau karena gangguan elektrolit sehingga cuci darah,” ujar dr. Syifa. 

 

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

2 dari 4 halaman

Konsumsi Air Putih Harian yang Dianjurkan

Anjuran untuk minum delapan gelas air setiap harinya ternyata juga banyak disalahpahami. Pasalnya, kebutuhan cairan per hari untuk masing-masing orang berbeda. Jumlah konsumsi air yang dibutuhkan tubuh tergantung dengan usia, intensitas aktivitas harian, dan kondisi kesehatan seseorang.

Dilaporkan laman resmi Kementerian Kesehatan (Kemenkes), kebutuhan cairan tiap orang berbeda-beda. Meski begitu, pada orang dewasa, konsumsi air putih yang disarankan yaitu sekitar delapan gelas berukuran 230 ml per hari atau total 2 liter.

Jumlah tersebut setara dengan 8 hingga 10 gelas air putih. Selain dari minuman, makanan juga dapat memberikan asupan cairan pada tubuh yaitu sekitar 20 persen. 

Cairan dari makanan terutama diperoleh dari buah dan sayur, misalnya bayam dan semangka yang mengandung 90 persen air.

Satu hal yang pasti, orang disarankan untuk menjaga ginjal tetap sehat dengan mengonsumsi air putih. Hal ini karena air putih memiliki manfaat bagi kesehatan ginjal.

Salah satu manfaatnya seperti, air membantu ginjal membuang limbah dari darah dalam bentuk urine. Selain itu air  juga membantu menjaga pembuluh darah tetap terbuka, sehingga darah dapat mengalir ke ginjal untuk mengantarkan oksigen dan zat gizi yang dibutuhkan.

3 dari 4 halaman

Angka Kematian Anak Akibat Gagal Ginjal Akut Capai 63 Persen di RSCM

Sebelumnya diberitakan, prevalensi kematian gagal ginjal akut misterius atau Gangguan Ginjal Akut Atipikal Progresif (GgGAPA) di RS Cipto Mangunkusumo (RSCM) Jakarta mencapai angka 63 persen. Jumlah tersebut dari total kasus sebanyak 49 pasien yang masuk ke RSCM selama periode Januari sampai 20 Oktober 2022.

Direktur Utama RSCM Jakarta Lies Dina Liastuti memaparkan, pasien gangguan ginjal akut yang didominasi balita yang sembuh dan pulang baru 7 pasien saat ini. Sebagian besar pasien masih dalam perawatan di RSCM dan beberapa pasien tak terselamatkan nyawanya.

"Angka kematian di rumah sakit kami itu 63 persen dari 49 anak (yang masuk RSCM). Jadi ya lebih dari 50 persen yang meninggal dunia," papar Lies saat konferensi pers di Gedung Kiara, RSCM Jakarta pada Kamis, 20 Oktober 2022.

"Kalau dihitung, yang sembuh dan pulang hanya 7 orang sekarang. Kemudian pasien lainnya masih di rumah sakit, RSCM. Mudah-mudahan, kami berharap ada penurunan kasus rujukan, lebih bagus jika angkanya tidak sampai 63 persen," tuturnya. 

Seperti diketahui RSCM Jakarta merupakan Rumah Sakit Rujukan Nasional. Pada kasus gagal ginjal akut yang disebut juga Acute Kidney Injury/AKI, RSCM menerima pasien rujukan dari berbagai daerah.

 

4 dari 4 halaman

RSCM Telusuri Obat Sirup yang Dikonsumsi Pasien Gagal Ginjal Akut

Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) Jakarta sedang menelusuri obat sirup yang dikonsumsi pasien gagal ginjal akut atau Gangguan Ginjal Akut Atipikal Progresif (GgGAPA). Penelusuran dilakukan dengan mewawancarai dan meminta sampel obat kepada pihak keluarga pasien untuk diperiksa di laboratorium.

Direktur Utama RSCM Jakarta Lies Dina Liastuti menyebut, sampel obat sirup dikumpulkan dari 49 pasien gagal ginjal akut hasil rujukan yang dirawat ke RSCM. Meski begitu, tidak semua obat yang dikonsumsi pasien tersebut dapat diperoleh, hanya beberapa sampel yang diambil untuk diuji di laboratorium.

"Untuk semua kasus yang masuk ke kami, ya kami coba cari nama obat yang dipakai sebelumnya. Itu sudah kami dapatkan data tapi belum semua karena kan ada yang sudah meninggal. Kami baru mulai lagi untuk mencari-cari obatnya termasuk mengambil sampel obat," ujar Lies saat konferensi pers di Gedung Kiara, RSCM Jakarta pada Kamis, 20 Oktober 2022.

* BACA BERITA TERKINI LAINNYA DI GOOGLE NEWS