Kilas 2013: PSSI Bersatu, Timnas U-19 Fenomenal

Tahun 2013 menandai adanya rekonsiliasi di sepak bola nasional. Prestasi pun mulai dibidik. Timnas U-19 paling sukses di tahun ini.

Diterbitkan 26 Desember 2013, 10:50 WIB
Share
Copy Link
Batalkan
Kondisi persepakbolaan nasional sepanjang 2013 boleh disebut dalam fase `reparasi`. Mengapa demikian? Nyaris dalam tiga tahun terakhir, sepak bola Indonesia sakit gara-gara dualisme kepengurusan yang menggerogoti organisasi yang menaungi sepak bola Indonesia, PSSI.

Pada 2013, perbaikan-perbaikan dalam sepak bola Indonesia dimulai. Itu ditandai dengan digelarnya Kongres Luar Biasa (KLB) pada 17 Maret 2013 di Hotel Borobudur.

Meski banyak terjadi pro dan kontra serta aksi demo beberapa pengprov yang tak masuk dalam voter, tapi KLB boleh disebut berjalan lancar. Lancarnya KLB ini sudah ditandai dengan mencairnya hubungan antara Komite Penyelamat Sepak Bola Indonesia (KPSI) dan Ketua Umum PSSI, Djohar Arifin sejak awal tahun 2013.

Memang, membaiknya hubungan KPSI dan Djohar tak dibarengi oleh beberapa Exco yang masih berseberangan dengan KPSI seperti Sihar Sitorus, Farid Rahman,  Bob Hippy, Tuti Dau, Widodo Santoso, dan Mawardi Nurdin. Tapi perdamaian relatif berjalan lancar dan mulus hingga akhirnya tercipta prestasi bagus untuk timnas.

Yang paling mencolok di tahun 2013 yaitu keberhasilan timnas U-19 meraih gelar Piala AFF U-19. Lalu disusul oleh keberhasilan timnas U-19 lolos ke Piala Asia U-19 yang berlangsung di Myanmar pada 2014 mendatang.

Seperti apa perjalanan sepak bola Indonesia? Berikut rangkumannya:


1. Dimulainya Perdamaian KPSI dan PSSI

Saat tahun 2013 dimulai, masih ada dua kubu yang bergejolak di PSSI. Mereka adalah PSSI KLB Solo pimpinan Djohar Arifin Husin dan PSSI KLB Ancol pimpinan La Nyalla Matalitti atau yang lebih dikenal dengan sebutan KPSI.

Saat itu, PSSI KLB Ancol masih enggan melepas pemain-pemain ISL ke Tim Nasional (Timnas) Indonesia. Mereka hanya diperbolehkan membela Timnas Indonesia versi PSSI KLB Ancol.

Namun, semua upaya tarik-ulur soal pemain ini akhirnya usai setelah didirikannya Badan Tim Nasional (BTN) yang bersifat netral. Saat itu, BTN dipimpin oleh Bupati Kutai Timur, Isran Noor. La Nyalla dan kawan-kawan pun mengizinkan pemain ISL membela Timnas yang dikelola BTN.

Bukan hanya soal t

Ikuti berita bola terbaru di Sport Liputan6

Lanjut Baca:

imnas, awal tahun Indonesia juga terancam sanksi FIFA atas sejumlah masalah. Mulai dari adanya dua liga sampai dua federasi. FIFA pun meminta Indonesia menggelar Kongres Luar Biasa (KLB) untuk menuntaskan semua masalah. Kongres itu akhirnya dilaksanakan di Hotel Borobudur, Jakarta, Minggu 17 Maret 2013.Seperti kongres-kongres PSSI sebelumnya, FIFA dan AFC pun mengirim wakil mereka untuk memantau. Tidak tanggung-tanggung, FIFA mengirim tiga wakil, yakni Marco Leal, Michael van Praag dan James Kitching, sedangkan AFC diwakili Jeysing Meuthia.Namun, perhelatan KLB sempat tidak berjalan lancar. Bahkan, satu hari sebelum digelar, sudah terjadi kericuhan saat registrasi peserta KLB. Penyebabnya adalah ketidakpuasan 18 Pengprov PSSI yang tidak terdaftar sebagai peserta KLB.Bukan hanya soal itu, situasi kongres juga memanas ketika enam anggota Exco PSSI memutuskan untuk melakukan walk out. Mereka adalah Wakil Ketua Umum Farid Rahman, Sihar Sitorus, Tuti Dau, Widodo Santoso, Mawardi Nurdin, dan Bob Hippy.Keenam Anggota Exco tersebut beranggapan KLB sudah berakhir setelah agenda unifikasi Liga, pengembalian empat Exco yang terhukum, dan revisi statuta. Mereka menilai penambahan agenda, yakni penetapan Kongres Biasa PSSI sudah menyalahi amanat KLB.Hasil KLBMeski diwarnai kericuhan dan walk out enam Exco, KLB di Hotel Borobudur tetap selesai dan tidak terjadi deadlock. Empat agenda yang diamanatkan FIFA, unifikasi liga, pengembalian empat Exco yang terhukum, revisi statuta dan penggunaan voters Solo, diselesaikan dengan lancar.KLB PSSI juga menghasilkan sejumlah keputusan penting lainnya. Enam anggota Exco PSSI yang melakukan walk out mendapat skorsing dan ditentukan nasibnya pada Kongres Biasa berikutnya. Selain itu, PSSI juga mengangkat empat anggota Exco yang baru, yakni La Siya, Zul Fadli, Hardi Hasan dan Djamal Azis.Mengangkat La Nyalla Mattalitti sebagai Wakil Ketua Umum PSSI, menggantikan Farid yang terkena skorsing. Yang terakhir adalah pembubaran secara resmi Komite Penyelamat Sepakbola Indonesia (KPSI).

Halaman
Show All
Defri Saefullah, DefTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan