Momen Unik Piala Dunia: Mengenang Mineirazo, Tragedi Kedua Brasil di Rumah Sendiri

Kekalahan memilukan Brasil 7-1 dari Jerman di semifinal Piala Dunia 2014, sebuah tragedi "Mineirazo".

Diterbitkan 26 April 2026, 19:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Detik-detik Pembantaian di Babak Pertama

Pertandingan semifinal tersebut berubah menjadi mimpi buruk bagi Brasil dalam waktu singkat. Jerman menunjukkan keganasan yang luar biasa, mencetak empat gol dalam rentang waktu hanya tujuh menit di babak pertama, antara menit ke-23 dan ke-29. Serangan brutal ini menghancurkan pertahanan Brasil dan membuat penonton terkejut.

Pada menit ke-23, Miroslav Klose mencetak gol kedua Jerman, sekaligus gol ke-16 di Piala Dunia, menjadikannya pencetak gol terbanyak sepanjang masa di turnamen tersebut. Momen ini langsung memicu reaksi emosional dari para penggemar Brasil di tribun.

Semenit kemudian, Toni Kroos menambah keunggulan Jerman menjadi 3-0 dengan tembakan keras dari luar kotak penalti. Tidak berhenti di situ, dari kick-off berikutnya, Kroos kembali mencuri bola, melakukan umpan satu-dua dengan Sami Khedira, dan mencetak gol keempat Jerman. Tiga menit berselang, Khedira mencetak gol kelima, melengkapi pesta gol Jerman di babak pertama.

Pelatih Jerman, Joachim Low, menggambarkan perasaannya saat itu sebagai "campuran kegembiraan mutlak dan ketidakpercayaan," mengingat skor 5-0 di semifinal melawan tuan rumah.

Pada jeda babak pertama, Low bahkan meminta para pemainnya untuk tidak mempermalukan Brasil lebih jauh atau menunjukkan kesombongan, sebagai bentuk rasa hormat. Dua gol tambahan Jerman di babak kedua dicetak oleh Andre Schurrle, sementara Oscar mencetak gol hiburan untuk Brasil di menit-menit akhir.

Dampak Mendalam dan Reaksi Emosional

Kekalahan telak ini meninggalkan luka yang sangat mendalam bagi seluruh bangsa Brasil. David Luiz, salah satu pemain Brasil, mengungkapkan keinginan untuk memberikan kebahagiaan kepada rakyatnya yang sudah banyak menderita, namun justru harus menerima kenyataan pahit tersebut.

Tite yang sempat menjadi nakhoda Brasil, menceritakan bagaimana istrinya mulai menangis setelah gol ketiga Jerman, yang kemudian membuatnya ikut menangis. Ia menyebut kekalahan 7-1 ini sebagai "hantu" yang masih menghantui dan selalu menjadi perbincangan.

Secara statistik, ini adalah kekalahan semifinal Piala Dunia pertama Brasil dalam 76 tahun, dan kekalahan kandang pertama mereka dalam pertandingan kompetitif selama 39 tahun. Ini juga merupakan kekalahan paling telak bagi Brasil dalam hampir satu abad, sejak Uruguay mengalahkan mereka 6-0 pada tahun 1920. Hanya Zaire (1974) dan Haiti (1974) yang pernah tertinggal lima gol di babak pertama dalam sejarah Piala Dunia, sebuah catatan yang kemudian juga dimiliki Brasil.

Penebusan di Olimpiade Rio 2016

Dua tahun setelah tragedi "Mineirazo", Brasil mendapatkan kesempatan untuk sedikit menebus kekalahan tersebut di ajang Olimpiade Rio 2016. Sebagai tuan rumah, tim muda Brasil dengan Neymar sebagai kapten, bertekad untuk meraih medali emas sepak bola putra.

Setelah awal yang kurang meyakinkan, tim Brasil berhasil bangkit dan melaju hingga final. Takdir mempertemukan mereka kembali dengan Jerman di partai puncak. Pertandingan berlangsung sengit dan harus ditentukan melalui adu penalti.

Kelima penendang penalti Brasil berhasil menjalankan tugasnya, dengan Neymar menjadi penendang terakhir yang memastikan medali emas bagi Brasil. Momen ini menjadi katarsis bagi bangsa Brasil, dan para penggemar menyanyikan lagu "O Campeao Voltou" (Sang Juara Kembali) sebagai bentuk perayaan.

Kemenangan ini, meskipun bukan di Piala Dunia, setidaknya mampu mengobati sedikit luka mendalam yang ditinggalkan "Mineirazo".

Ikuti berita bola terbaru di Sport Liputan6

Halaman
Show All
Harley IkhsanTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan