Momen Unik Piala Dunia: Tim Ajaib Austria Tinggalkan Warisan Kaya

Wunderteam Austria dan bintangnya, Matthias Sindelar, mencuri perhatian di Piala Dunia 1934.

Diterbitkan 19 April 2026, 08:30 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Inovasi taktis ini kemudian menginspirasi tim Hungaria di era 1950-an, Belanda di tahun 1970-an dengan "Total Football", hingga Spanyol yang mendominasi sepak bola modern. Wunderteam membuktikan bahwa sepak bola bukan hanya tentang kekuatan fisik, tetapi juga kecerdasan, presisi, dan kreativitas tanpa batas.

Matthias Sindelar: Bintang Gemilang yang Penuh Misteri

Matthias Sindelar, dengan julukan "Der Papierene" karena tubuhnya yang kurus, adalah personifikasi dari gaya bermain Wunderteam. Ia melakukan debut untuk tim nasional pada tahun 1926 dan segera menunjukkan bakat luar biasa, mencetak gol di pertandingan pertamanya melawan Ceko. Antara Mei 1931 hingga Juni 1934, Sindelar mencetak 16 gol dalam 16 pertandingan, bermain sebagai prototipe "false nine" yang jauh mendahului zamannya.

Karier Sindelar yang cemerlang berakhir tragis pada pagi hari 23 Januari 1939, ketika ditemukan meninggal di apartemennya di Wina pada usia 36 tahun. Laporan polisi menyebutkan penyebab kematiannya adalah keracunan karbon monoksida akibat cerobong asap yang tersumbat, yang juga merenggut nyawa kekasihnya, Camilla Castagnola, beberapa jam kemudian.

Namun, kematiannya diselimuti misteri dan teori konspirasi. Sindelar diketahui memiliki berkas di Gestapo dan kafenya diawasi. Ia juga menolak bermain untuk tim gabungan setelah Anschluss (aneksasi Austria oleh Jerman Nazi) dan merayakan golnya terlalu bersemangat di depan petinggi Nazi. Penulis Alfred Polgar bahkan berpendapat bahwa kematian Sindelar adalah bunuh diri yang didorong oleh kesetiaan kepada tanah air, menambah kompleksitas pada kisah tragis sang bintang.

Perjalanan di Piala Dunia 1934: Antara Harapan dan Kontroversi

Pada Piala Dunia 1934, Wunderteam tiba dengan reputasi besar, meskipun beberapa pihak menganggap mereka sedikit melewati puncak performa terbaiknya. Turnamen yang menggunakan format gugur langsung ini dimulai dengan kemenangan 3-2 atas Prancis setelah perpanjangan waktu di babak pertama. Di perempat final, mereka berhasil mengalahkan musuh bebuyutan, Hungaria, dengan skor 2-1 di Bologna, dengan gol dari Horvath dan Karl Zischek.

Puncak perjalanan mereka adalah semifinal melawan tuan rumah Italia di San Siro, Milan. Pertandingan ini menjadi bentrokan gaya yang epik: "Danubian waltz" ala Meisl yang mengedepankan passing dan teknik melawan "steamroller" Italia di bawah Vittorio Pozzo yang dikenal dengan permainan fisik dan agresif. Kondisi lapangan yang berlumpur dan hujan lebat semakin mempersulit permainan teknik Wunderteam.

Italia memimpin lebih awal melalui gol Enrique Guaita, yang menjadi satu-satunya gol dalam pertandingan tersebut, dengan Sindelar dijaga ketat oleh Luisito Monti. Kontroversi muncul karena wasit Ivan Eklind dari Swedia, yang juga memimpin final, dituding memihak Italia. Kekalahan ini mengakhiri impian Wunderteam untuk meraih gelar juara dunia, meskipun mereka kemudian juga kalah dari Italia di final Olimpiade 1936.

Warisan Abadi Wunderteam

Tragedi Anschluss pada tahun 1938 mengakhiri era Wunderteam, dengan absennya Austria di Piala Dunia 1938. Beberapa pemain dari skuad 1934 bermain untuk tim Jerman, namun Sindelar tetap menolak. Kisah Wunderteam menjadi pengingat akan tim-tim hebat yang, meski tidak pernah mengangkat trofi, meninggalkan jejak mendalam dalam sejarah sepak bola.

Mereka dikenang sebagai salah satu tim terhebat yang tidak pernah memenangkan Piala Dunia, sejajar dengan tim Belanda "Total Football", Hungaria 1954, serta tim Brasil 1950 dan 1982. Warisan mereka adalah bukti bahwa keindahan dan inovasi dalam sepak bola bisa melampaui hasil akhir.

Laju Wunderteam Austria (Mei 1931-Juni 1934)

16 Mei 1931 Austria 5-0 Skotlandia

24 Mei 1931 Jerman 0-6 Austria

16 Juni 1931 Austria 2-0 Swiss

13 September 1931 Austria 5-0 Jerman

4 Oktober 1931 Hungaria 2-2 Austria

29 November 1931 Swiss 1-8 Austria

20 Maret 1932 Austria 2-1 Italia

24 April 1932 Austria 8-2 Hungaria

22 Mei 1932 Cekoslovakia 1-1 Austria

17 Juli 1932 Swedia 3-4 Austria

2 Oktober 1932 Hungaria 2-3 Austria

23 Oktober 1932 Austria 3-1 Swiss

7 Desember 1932 Inggris 4-3 Austria

11 Desember 1932 Belgia 1-6 Austria

12 Februari 1933 Prancis 0-4 Austria

9 April 1933 Austria 1-2 Cekoslovakia

30 April 1933 Hungaria 1-1 Austria

11 Juni 1933 Austria 4-1 Belgia

17 September 1933 Cekoslovakia 3-3 Austria

1 Oktober 1933 Austria 2-2 Hungaria

29 November 1933 Skotlandia 2-2 Austria

10 Desember 1933 Belanda 0-1 Austria

11 Februari 1934 Italia 2-4 Austria

25 Maret 1934 Swiss 2-3 Austria

15 April 1934 Austria 5-2 Hungaria

25 April 1934 Austria 6-1 Bulgaria

27 Mei 1934 Austria 3-2 Prancis

31 Mei 1934 Austria 2-1 Hungaria

3 Juni 1934 Italia 1-0 Austria

Ikuti berita bola terbaru di Sport Liputan6

Halaman
Show All
Harley IkhsanTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan