IOC Resmi Melarang Atlet Transgender Wanita Tampil di Olimpiade 2028

IOC resmi melarang atlet transgender wanita tampil di Olimpiade LA 2028. Kriteria 'wanita biologis' berdasarkan tes genetik ditetapkan untuk menjaga integritas

OlehThomas
Diterbitkan 27 Maret 2026, 22:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

IOC berpendapat bahwa individu yang secara biologis laki-laki memiliki keuntungan kinerja yang signifikan dibandingkan wanita biologis. Keuntungan ini bervariasi, dengan studi menunjukkan sekitar 10-12% dalam cabang lari dan renang, serta lebih dari 20% dalam nomor lompat dan lempar.

Keuntungan performa pria dapat melebihi 100% dalam olahraga yang membutuhkan kekuatan eksplosif. Ketidakadilan ini menjadi dasar utama bagi IOC untuk memberlakukan kebijakan baru, memastikan persaingan yang setara di antara atlet wanita.

Keselarasan dengan Kebijakan AS dan Lingkup Penerapan

Kebijakan baru IOC ini memiliki keselarasan dengan perintah eksekutif yang ditandatangani oleh mantan Presiden AS Donald Trump pada Februari 2025. Perintah tersebut bertujuan melarang atlet transgender berpartisipasi dalam olahraga wanita dan anak perempuan dengan menolak dana federal bagi sekolah yang mengizinkannya.

Keputusan IOC ini berlaku untuk Olimpiade dan acara IOC lainnya, mencakup baik olahraga individu maupun tim. Namun, penting untuk dicatat bahwa kebijakan ini tidak berlaku surut dan tidak diterapkan pada program olahraga akar rumput atau rekreasi.

IOC juga mengimbau agar kebijakan baru ini diadopsi oleh semua federasi olahraga internasional dan badan pengatur untuk berbagai acara, termasuk Olimpiade Musim Panas dan Musim Dingin. Hal ini menunjukkan upaya untuk menciptakan standar global yang seragam dalam partisipasi atlet transgender.

Dampak pada Atlet dengan Perbedaan Perkembangan Seks (DSD)

Kebijakan baru ini tidak hanya memengaruhi atlet transgender wanita, tetapi juga membatasi partisipasi atlet wanita dengan kondisi medis yang dikenal sebagai Perbedaan Perkembangan Seks (DSD). Contoh atlet yang terpengaruh adalah Caster Semenya, pelari juara Olimpiade dua kali.

Meskipun demikian, IOC menetapkan "pengecualian langka" untuk kriteria kelayakan ini. Atlet dengan diagnosis Sindrom Insensitivitas Androgen Lengkap (CAIS) atau DSD langka lainnya yang tidak mendapatkan manfaat anabolik atau peningkatan kinerja dari testosteron, mungkin tetap memenuhi syarat.

Pengecualian ini berlaku bahkan jika hasil tes gen SRY mereka positif, menunjukkan bahwa IOC mempertimbangkan kompleksitas biologis tertentu. Hal ini menyoroti upaya IOC untuk menyeimbangkan perlindungan kategori wanita dengan pertimbangan medis yang spesifik.

Perubahan dari Kebijakan Sebelumnya dan Sejarah Partisipasi

Sebelumnya, IOC memberikan keleluasaan kepada federasi olahraga individu untuk menetapkan aturan mereka sendiri mengenai partisipasi atlet transgender. Namun, kebijakan baru ini secara definitif mengakhiri desentralisasi tersebut, menggantinya dengan kerangka kerja tunggal.

Perubahan ini terjadi setelah kontroversi pada Olimpiade Paris 2024, di mana beberapa komentator mempertanyakan jenis kelamin dua petinju wanita, termasuk Imane Khelif. Insiden ini memicu perdebatan internasional dan mempercepat kebutuhan akan kebijakan yang lebih jelas.

Perlu dicatat bahwa tidak ada atlet transgender wanita yang berkompetisi di Olimpiade Paris 2024. Atlet angkat besi Selandia Baru, Laurel Hubbard, adalah atlet transgender terakhir yang berpartisipasi di Olimpiade Tokyo 2021, meskipun ia tidak meraih medali.

Kritik terhadap Kebijakan Baru

Meskipun IOC berdalih melindungi integritas olahraga wanita, kebijakan baru ini menuai kritik tajam dari berbagai pihak. Kelompok hak asasi manusia dan organisasi LGBTQ telah menyuarakan keprihatinan serius terhadap keputusan tersebut.

Mereka menyebut keputusan ini sebagai "kemunduran yang mengejutkan dalam kesetaraan gender" dan mengkhawatirkan dampak pengujian genetik yang wajib. Kekhawatiran juga muncul terkait isu privasi dan potensi diskriminasi yang dapat timbul dari kebijakan ini.

Beberapa kelompok bahkan menyatakan bahwa langkah IOC ini dapat "mengembalikan olahraga wanita 30 tahun ke belakang". Kritik ini menyoroti perdebatan yang lebih luas mengenai inklusivitas dan keadilan dalam olahraga, serta bagaimana batasan biologis didefinisikan dalam konteks kompetisi.

Ikuti berita bola terbaru di Sport Liputan6

Halaman
Show All
ThomasTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan