Street Fight sebagai Babak Baru dalam Evolusi Combat Sport

Baku Hantam Championship mengusung konsep street fight dalam evolusi olahraga tarung.

Diterbitkan 03 Februari 2026, 23:05 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Wasit memberikan sinyal untuk kedua jagoan kembali jual beli serangan. Rifai dan Ibnu terjatuh lagi ke matras. Wasit melakukan tugasnya dan keduanya kembali ke posisi semula.

Lonceng berbunyi, tanda berakhirnya pertandingan. Rifai sukses meraih kemenangan yang disambut riuh para penonton.

Aksi yang tersaji tidak hanya dari jual beli serangan para petarung saja. Call out dari para petarung yang menantang rival lainnya sukses membuat suasana menjadi semakin riuh.

Bernuansa Jalanan

Sajian adrenalin di atas matras hari itu kental dengan suasana jalanan. Duel tidak diadakan di arena megah atau stadion, melainkan ruang publik. Lampu sorot, matras, dan ban mobil yang menjadi pembatas antara penonton dengan para petarung memperkuat suasana yang ingin ditampilkan. Nuansa jalanan ini menjadi dasar inovasi yang hendak dibawakan oleh BHC ke ranah combat sport Indonesia. 

Rudy “Golden Boy” Agustian mencetuskan ide ini pada Februari 2025. Sosok yang kemudian menjadi CEO BHC ini mengambil pengalamannya bermain video game dengan tema tarung jalanan dan menonton banyak film action. Kegemaran inilah yang ia terapkan dalam partisipasinya meramaikan olahraga tarung. 

“Basic-nya, saya suka fight. Lalu, saya juga suka main Def Jam dulu kan. Itu kan temanya agak-agak kayak street fight juga. Saya senang juga itu. Saya suka nonton film-film gangster juga, film action. Jadi, basic-nya kenapa enggak kita wujudkan di dunia combat sport? Tetap dengan sportivitas, tapi kita ambil (sisi) entertain juga,” tutur Rudy saat diwawancarai di Golden Camp, Gading Serpong, Tangerang, Kamis (24/4/25).

Wadah baru yang ia ciptakan dapat diikuti oleh siapa saja. Rudy membangun Baku Hantam Street Fight sebagai arena untuk orang dari berbagai kalangan unjuk gigi di atas matras arena. Ia memberikan eksposur bagi petarung yang bertanding melalui sosial media miliknya agar dikenal masyarakat luas. 

“Kita kemas dengan eksposur yang baik. Contoh, kita masukin ke YouTube saya, sosial media saya,” jelas mantan juara One Pride MMA Indonesia itu. 

Wadah Penyaluran Energi

Rudy memiliki visi tentang Baku Hantam Street Fight. Dia ingin sarana ini menjadi wadah untuk anak-anak muda di Indonesia menyalurkan energi. Rudy merasa perlu melakukannya karena melihat banyak anak muda Indonesia masih kekurangan wadah untuk mengekspresikan diri.

“Biar anak-anak muda Indonesia itu punya wadah untuk energi negatif mereka. Caranya gimana? Salurkan di sini. Jadi, kalau ada yang bilang (Baku Hantam Street Fight) enggak mendidik (atau ada) masalah besar, jangan cuman komplain. Oh, jangan narkoba, jangan tawuran. Ya, wadahnya dulu mana? Kasih wadahnya, ya kan?” sebutnya.

Visi yang dibawakan ini tidak hanya sebatas gagasan semata. Hadirnya Baku Hantam Street Fight yang terbuka bagi siapa saja turut memberikan ruang bagi mereka yang hendak menguji kemampuan diri, baik secara fisik maupun mental. Salah satu contohnya adalah Ibnu ‘Mr. Psikopat’ Hidayat yang sudah dua kali bertanding di acara ini.

Ibnu bukanlah seorang petarung profesional. Ia sehari-hari bekerja sebagai buruh pabrik, sebuah rutinitas yang menuntut fisik dan jarang memberikan ruang untuk mengekspresikan emosi. Kendati demikian, bukan berarti ia asing dengan dunia bela diri lantaran lingkungan terdekatnya ada yang menjadi praktisi.

Ayah Ibnu merupakan seorang pesilat, sedangkan adiknya adalah seorang petarung MMA di kelas profesional. Hanya Ibnu sendiri di keluarga yang sama sekali tidak pernah terlibat secara langsung dalam olahraga tarung, apalagi membayangkan dirinya naik ke atas matras.

Kendati demikian, ia menyadari bahwa wadah ini dapat menjadi wadah untuk menyalurkan energinya usai melihat unggahan tentang Baku Hantam Street Fight di fitur story Instagram. 

“Dulu tuh sebenarnya enggak niat ya. (Hanya saja), karena saya kan pribadi ngerasain apa,  kehidupan aja sih. Maksudnya, pola hidup yang menumpuk, stres gitu mungkin ya. Terus, perasaan yang terpendam aja. Kalau emosi atau marah, itu enggak pernah keluar. Jadi seketika lewat di Instagram, liatin aja di (fitur) story. Nah, dari sosial media itu saya lihat, wah kayaknya ini cocok untuk menyalurkan emosi saya,” papar Ibnu saat diwawancarai secara daring pada Minggu (14/12/2025).

Sesuai dengan visi BHC, Ibnu melihat Baku Hantam Street Fight sebagai wadah yang untuk menyalurkan perasaannya dari lubuk hati yang terdalam.

“Memang merasa tuh diri itu kayak yang gampang tersinggung. Gampang tersinggung, terus kayak rasa ‘wah, ini tempat yang cocok nih untuk menyalurkan hal tersebut’. Makanya, saya memberanikan diri untuk ikut itu,” tutur Ibnu.

Hanya saja, menyalurkan emosi dengan lebih sehat bukan menjadi tujuan akhir yang ingin dicari olehnya. Ibnu mengaku ada hal lain yang lebih besar ketimbang sekadar meluapkan isi hati. 

 

Mengenal Diri Sendiri

Ia tidak peduli dengan kemenangan atau kekalahan. Justru, Ibnu naik ke atas matras dan melakukan jual beli serangan dengan lawan karena merasa inilah proses yang harus ditempuh untuk lebih mengenali dirinya secara mendalam.

“Pokoknya, saya datang cuma pengen ngerasain rasanya dipukul sama orang. Saya pengen tahu, setelah saya dipukul itu ego saya turun atau ternyata tambah naik. Seperti itu doang,” jelasnya.

Oleh karena itu, Ibnu sama sekali tidak mempersiapkan apapun. Ia sama sekali tidak berlatih, hanya bermodalkan keberanian. Saat mengikuti audisi pertama di Bhagasasi Gym, Bekasi pada April 2025 lalu, Ibnu pun bahkan sempat tertidur sebelum bertanding. 

Akan tetapi, persiapan yang kurang memicu konsekuensi tersendiri. Satu pukulan telak ke arah dagu membuat Ibnu tumbang dan tak sadarkan diri. Kekalahan dengan cara technical knockout (TKO) tersebut membuatnya viral di sosial media, khususnya TikTok. Partisipasinya di acara tersebut sempat membuatnya dimarahi oleh adiknya. 

“Itu adik saya yang atlet MMA sama temen-temennya, rekan-rekannya yang di sono, itu jujur aja ya, sebenarnya pada marah. Marahnya teh katanya, sebenarnya awalnya belum marah. Awalnya ‘ah ngapain sih ikut-ikut begitu?’ katanya. ‘Dari kecil enggak pernah berantem’, gitu pokoknya. Nah, dari situ saya dimarahin,” jelas Ibnu.

Pengalaman Ibnu memperlihatkan Baku Hantam Street Fight bukan hanya sekedar tontonan jual beli pukulan semata. Di balik sorot kamera dan sorakan penonton, tanpa persiapan yang matang, ada konsekuensi nyata yang ditanggung peserta.

Hal ini turut menjadi pembelajaran bagi Ibnu, di mana untuk bertarung di atas matras, perlu ada proses latihan yang maksimal guna mempersiapkan diri untuk segala kemungkinan. 

“Jadi, memang perlu ada latihan ya dua bulan tiga bulan, untuk terjun ke situ. Mungkin sebulan, minimal sebulan-lah dan perlu pelatihan,” sebutnya.

Ibnu yang menyadari perlu adanya persiapan menjadi bukti bahwa Baku Hantam Street Fight tidak hanya hadir sebagai wadah mengeluarkan energi semata. Perlu ada persiapan agar dapat beradaptasi di atas matras.

 

3 Peraturan di BHC

Ada juga struktur yang mengatur jalannya acara dan menjadi pembeda dari acara-acara combat sport lainnya. Terdapat tiga rules atau peraturan yang dibuat langsung oleh Rudy.

Pertama, ada dirty boxing (Baku Pukul) bagi yang ingin unjuk gigi dalam jual beli pukulan. Kedua, ada ultimate striking (Baku Hajar) yang merupakan gabungan dari seluruh bela diri terkenal. Contohnya seperti boxing, karate, silat, Muay Thai, dan sanda. Terakhir, ada rules MMA (Baku Tumbuk) dengan teknik submission (kuncian) yang dihilangkan.

Semua rules ini dirancang agar para petarung dapat melancarkan kreativitas, mengingat setiap peraturan berakar dari berbagai cabang bela diri yang sudah ada sebelumnya.

Ide tersebut berasal dari pengalaman Rudy yang sudah bertanding di berbagai macam cabang bela diri. Rudy melihat adanya celah dari batasan setiap disiplin, justru dapat dijadikan sebagai aturan baru untuk acara yang ia buat.

Ia memastikan bahwa semua rules yang ia ciptakan benar-benar aman dan sama seperti olahraga prestasi (tinju, karate, taekwondo, dan lain sebagainya). 

“Bukan seperti jalanan banget (yang) enggak (mengedepankan) safety. Ini sama seperti olahraga prestasi. Cuman, kita kemasnya (latar tempatnya) ini benar-benar seperti di street fight,” tutur Rudy.

Lalu, di balik kesan keras konsep street fight yang dikemas sebagai pertandingan olahraga, BHC selaku penyelenggara menaruh perhatian pada aspek keselamatan. Ada wasit, tim medis, dan ambulans yang disiapkan untuk mengantisipasi segala kemungkinan.

“Satu, ya pasti ada wasit. Kalau keadaannya sudah tampak berbahaya, sesuai instruksi kita, wasit harus mengutamakan safety dari fighter-nya. Jadi, itulah fungsi wasit. Kedua adalah adanya medis seperti dokter, ambulance, dan peralatannya. Kita sudah menyediakan (medis), ada itu. Wajib untuk ada di setiap pertandingan Baku Hantam,” jelasnya. 

Baku Hantam Street Fight juga langsung diawasi oleh Asosiasi Olahraga Kombat Indonesia (AOKI). Hadirnya AOKI sebagai sanction pun juga memastikan bahwa acara berjalan dengan aman.

Rudy yang juga merupakan Ketua Umum AOKI ini melihat sisi positif dari munculnya Baku Hantam Street Fight, khususnya dari sisi ekonomi. 

“Kalau event banyak, lapangan pekerjaan banyak. UMKM tumbuh. UMKM-nya apa aja? Contoh penyewaan lighting, penyewaan ring, (penyewaan) matras. Kru-krunya dapat bayaran tambahan lagi. Atlet-atlet banyak wadah untuk tanding, bahkan dibayar. Bahkan, sasana-sasana jadi rame karena banyak orang pengen tanding,” tutur Rudy.

Menjurus Perilaku Positif

Rudy juga memiliki pandangan adanya Baku Hantam Street Fight berpotensi mengarahkan energi anak muda ke arah yang lebih positif.

“Dia mengerahkan pikiran, mengerahkan tubuhnya untuk pertandingan ini. Buat seru-seruan, buat dia sok jago, juga ada wadahnya. Dia mau sok jago, jadi enggak perlu tawuran. Enggak perlu jadi gangster-gangster di jalan, di sini tempatnya,” sebutnya.

Setelah itu, Baku Hantam Street Fight turut membuka potensi lainnya, yakni hadirnya bibit baru di dunia olahraga tarung. 

Pandangan tersebut datang dari Edowar Firnanda, salah satu peserta Baku Hantam Street Fight yang juga merupakan petarung profesional dengan pengalaman segudang di dunia combat sport Indonesia. Ia sudah bertanding di berbagai cabang bela diri, seperti Muay Thai, sanda, dan Kickboxing. Selain BHC, Edowar pernah meramaikan combat sport Indonesia dengan bertanding di berbagai promosi, seperti One Pride MMA dan Holywings Sport Show (HSS).

Baginya, adanya acara ini dapat menjadi jembatan bagi banyak individu yang sebelumnya belum pernah terlihat di dunia olahraga.

“Makin banyak bibit-bibit baru di olahraga. Maksudnya, bela diri ya. Terus banyak anak-anak muda yang tadinya sering tawuran, daftar ikut (acara) street fight. Itu udah pasti,” jelasnya saat diwawancarai pada Minggu (21/12/2025).

Selain itu, Edowar turut merasakan dampak positifnya. Usai bertanding di Baku Hantam Street Fight, ia mengaku semakin dikenal oleh banyak orang.

“Kalau aku main di Baku Hantam, media sosial aku jadi rame. Kayak Instagram, TikTok. Jadi, orang yang tadinya dulu enggak kenal, sekarang tau ‘Oh ini dulu si Edo ya? Dia tuh sering main di sini,’ begitu. Di media sih lebih naik,” tutur Edowar.

Selain eksposur untuk para peserta, inovasi yang dibawakan oleh Rudy dan BHC sukses menarik banyak perhatian masyarakat. Banyak tawaran untuk mengadakan acara ini di berbagai kota di Indonesia.

Namun, bukan berarti tidak ada kendala sama sekali dalam menghadirkan konsep ini di dunia combat sport. Biaya dan waktu menjadi dua kendala utama yang dihadapi.

“Saya sekarang lagi banyak banget ya (mendapatkan) tawaran untuk mengadakan Baku Hantam di kota-kota lain. Cuman, emang kendalanya adalah biaya, karena rata-rata emang biayanya masih sendiri. Kalaupun ada sponsor, belum banyak dan juga waktunya. Saya juga memiliki editor (video) sendiri, itu waktu ngedit juga kan lama juga,” jelasnya. 

 

Ubah Persepsi Masyarakat

Perizinan pun turut menjadi permasalahan. Salah satu event Baku Hantam Street Fight seharusnya digelar di Lieben Cafe, Cimone, Tangerang pada 14 Juni 2025 silam. Tiket pun sudah dijual dan tim sudah melakukan promosi di akun Instagram resmi @bakuhantamchamp.id.

Dua hari menjelang acara dimulai, Rudy memberikan pengumuman melalui akun Instagram resmi miliknya @rudygoldenboy bahwa acara batal dilaksanakan. Ini terjadi lantaran adanya masalah perizinan oleh pemerintah daerah setempat. Akibatnya, semua tiket yang telah terjual terpaksa dikembalikan.

Hanya saja, Rudy dan tim tidak kehabisan ide. Mereka menemukan solusi agar acara tetap terlaksana. Tempat baru ditemukan, yaitu di Scuto Paint BSD. Tidak banyak orang yang diundang. Pertandingan yang dilaksanakan pun hanya tujuh pertandingan dan masuk ke partai profesional. 

Masih mengenai kendala, Rudy merasakannya dari kelompok masyarakat yang kontra dengan kegiatan yang ia ciptakan. 

“Banyak juga masyarakat yang bilang ‘oh ini kenapa sabung ayam dilarang, sedangkan ini sabung manusia boleh?’. Itu ada juga (kelompok) masyarakat yang ngomong seperti itu. Ada juga masyarakat yang bilang acara enggak mendidik,” sebutnya. 

Selain Rudy, Ibnu turut merasakannya. Usai alami kekalahan di audisi Baku Hantam Street Fight di bulan April lalu dan videonya viral, Ibnu mendapatkan peringatan dari atasannya.

“Saya didatengin sama Ketua Serikat saya. Ditanya ‘Ibnu, kamu masih ikut dunia combat sport?’ ‘Enggak, sudah selesai, kemaren mah iseng doang bos,’ ‘Iseng-iseng mah jangan kayak gitu. Soalnya, kalau sampai kamu nanti cacat, gara-gara ini, gara-gara combat sport, kamu itu nanti bakal dikeluarkan tanpa pesangon karena itu termasuk olahraga yang berbahaya,’ Seberbahaya itu loh ke kerjaan,” sebutnya.

Soal tanggapan khalayak luas mengenai acara ini, Edowar buka suara. Menurutnya, Rudy hanya ingin memberikan wadah bagi orang yang hendak mengeluarkan energinya secara lebih sehat.

“Daripada mereka tawuran, Ko Rudy udah ngasih wadah nih. Lu mau tanding enggak gue bikin acara street fight? Dia enggak ngelarang. Kalau lu mau, main. Kalau enggak, enggak,” jelas Edowar.

Persepsi ini menunjukkan bahwa masyarakat masih belum terbiasa melihat bela diri sebagai bagian dari olahraga. Baku Hantam Street Fight juga masih terbilang baru, sehingga publik belum sepenuhnya menerima hal tersebut sebagai inovasi dari dunia combat sport. 

Reaksi masyarakat terhadap hadirnya Baku Hantam Street Fight juga tidak terlepas dari kacamata psikologis. Untuk memahami lebih jauh mengenai pandangan masyarakat terhadap hal ini, Sonny Tirta Luzanil M.Psi., psikolog klinis dewasa memberikan pandangannya. 

Menurutnya, masyarakat yang tidak setuju masih melihatnya sebagai kekerasan, bukan olahraga.

“Masyarakat kan kalau ada hal baru, pasti shock dulu. Menilai ini baik (atau) buruk enggak? Apalagi kalau misalnya street fight ini sudah dilabel sama dengan berantem. Berantem aja konotasinya udah negatif,” jelas Sonny saat diwawancarai pada Rabu (11/6/25).

Sonny juga menyoroti pandangan masyarakat yang belum memahami ini sebagai bentuk olahraga.

“Memang akan menjadi tantangan buat para penggiatnya, buat memberikan informasi bahwa (konsep acara) street fight ini itu suatu (permainan) olahraga. Jadi, street ini sebagai wadahnya saja, (konsepnya) tempat jalanan,” lanjutnya.

Tantangan itulah yang perlu diatasi para penggiat di bidang ini. Hal tersebut tidak hanya berdampak pada penilaian konsep Baku Hantam Street Fight, tetapi juga kondisi psikologis mereka yang terjun langsung ke dalamnya.

“(Konsep) street fight ini kan pastinya akan membentuk suatu komunitas, orang-orang yang terlibat di kegiatan ini. Dengan adanya edukasi ini dan menunjukkan bahwa ini tuh olahraga, sesuatu yang bermanfaat, orang-orang yang terlibat di street fight ini pun juga akan ngerasa diterima. Keberadaannya di-notice dan dihargai oleh orang lain,” jelasnya

Terlepas dari perdebatan mengenai inovasi ini, hal yang paling penting adalah bagaimana masyarakat memandang Baku Hantam Street Fight sebagai bagian dari olahraga.

“Lebih ke awareness dan knowledge masyarakat. Bagaimana para penggiat street fight ini bisa menunjukkan bahwa ini memang olahraga, berbeda dengan berantem pada umumnya,” jelasnya. 

Hal serupa turut disampaikan Rudy. Ia melihat memang perlu ada edukasi secara menyeluruh mengenai acara olahraga yang ia kemas dalam bentuk tarung jalanan.

“Pasti harus edukasi terus. Baik dengan konten ataupun dengan ngasih lihat. Memberi tontonan yang benar-benar (memperlihatkan bahwa) ini atlet-atlet tanding enggak ada yang cedera, enggak ada yang kenapa-napa. Semua aman. Baik dengan sisi protektifnya. Contoh pake glove, lalu ada wasit. Itu selalu kita tonjolkan terus sekarang,” jelasnya.

 

Wajib Mempersiapkan Diri

Masih mengenai awareness dan knowledge masyarakat, Ibnu memberikan saran kepada siapa pun yang hendak mengikuti pertandingan agar mempersiapkan diri dengan matang. Terlepas dari aspek keamanan yang disediakan, acara ini masih termasuk ke dalam kategori olahraga tarung di mana apa pun bisa terjadi.

“Kalau kamu pengen ikut di dunia ini, maupun itu serius atau pun cuma iseng-iseng, lebih baik persiapkan dirinya dengan baik-baik, dengan matang, dan tahu resikonya. Karena seaman mungkin apa pun itu, di dunia profesional pun ada kok yang kecolongan,” tuturnya.

Hal serupa juga disampaikan oleh Edowar. Ia berpesan juga kepada orang yang ingin mengikuti acara ini untuk tidak meremehkan lawan sekali pun.

“Jangan terlalu ngeremehin lawan lah, karena kita enggak tahu (kalau) pukulannya saat itu (seandainya) kena, telak, mimpi indah,” sebut Edowar.

Terlepas dari adanya pro dan kontra di masyarakat, Baku Hantam Street Fight hadir sebagai wadah bagi mereka yang ingin mencari jati diri dan mengeluarkan seluruh isi hati. Baku Hantam Street Fight memang belum sepenuhnya diterima secara luas lantaran masih ada perdebatan tentang apakah dianggap sebagai bentuk kekerasan atau bagian dari olahraga. Meskipun demikian, matras di ruang publik tersebut menunjukkan akan adanya evolusi combat sport di Indonesia.

Baku Hantam Street Fight tidak hanya mengarahkan para penggiatnya untuk mengolah fisik, tetapi juga menempa mental. Arena ini menjadi wadah belajar bagi kaum muda lebih bertanggung jawab atas pilihan sendiri serta mengenali pribadi lebih dalam lagi. Melalui prosedur keselamatan dan aturan yang memadai, acara olahraga tarung seperti ini berpotensi membantu menyalurkan energi ke jalur yang lebih positif.

Ikuti berita bola terbaru di Sport Liputan6

Halaman
Show All
Michael Ludovico Palma De Manggut, Harley IkhsanTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan