Kepergian Xabi Alonso dari Real Madrid: Bukti Nyata Kekuasaan Florentino Perez yang Tak Terbantahkan

Kepergian Xabi Alonso dari Real Madrid setelah hanya 7 bulan menjadi sorotan, menguatkan bukti kekuasaan Florentino Perez dalam menentukan arah klub.

OlehThomas
Diterbitkan 14 Januari 2026, 23:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Lebih jauh, Alonso juga menghadapi masalah internal yang signifikan, termasuk perselisihan otoritas dengan beberapa pemain senior seperti Vinicius Jr. dan Kylian Mbappé. Metode kepelatihan modern yang ia coba terapkan dilaporkan tidak sepenuhnya diterima oleh sebagian pemain bintang. Real Madrid juga sempat mengalami periode buruk antara November dan Desember 2025, hanya mampu memenangkan tiga dari sembilan pertandingan, yang semakin memperlemah posisinya di mata manajemen klub.

Bayang-bayang Kekuasaan Florentino Perez

Kepergian Xabi Alonso dari Real Madrid tidak dapat dilepaskan dari peran sentral Florentino Perez, presiden klub yang dikenal memegang kendali penuh atas setiap aspek di Santiago Bernabeu. Perez digambarkan sebagai "pengambil keputusan utama" yang memiliki "semua kekuasaan" di klub, sebuah gambaran yang semakin diperkuat dengan insiden ini. Laporan menyebutkan bahwa Perez tidak pernah sepenuhnya yakin dengan Alonso sebagai pilihan pelatih, dan skeptisisme awalnya menjadi faktor yang mempercepat pemecatan.

Sejarah mencatat, Alonso adalah manajer ke-11 yang bertahan kurang dari setahun dalam dua dekade kepemimpinan Perez. Selama masa jabatannya, Perez telah mengawasi 17 pergantian manajer, melampaui rekor Santiago Bernabéu sendiri, menunjukkan toleransi rendahnya terhadap hasil yang tidak sesuai ekspektasi. Kurangnya dukungan publik dari Perez saat posisi Alonso melemah dalam beberapa minggu terakhir juga menjadi indikasi jelas bahwa sang presiden telah kehilangan kepercayaan.

Insiden di mana Vinicius Jr. secara terbuka menunjukkan kemarahannya setelah diganti oleh Alonso tanpa sanksi dari klub, semakin mengkonfirmasi keterbatasan kekuasaan pelatih di bawah Perez. Hal ini menunjukkan bahwa pemain bintang dapat menentang instruksi pelatih tanpa konsekuensi, sebuah kondisi yang melemahkan otoritas pelatih. Meskipun Real Madrid telah menginvestasikan sekitar €180 juta untuk pemain yang sesuai dengan gaya permainan Alonso, skeptisisme Perez memudahkan untuk menghentikan proyek tersebut dengan cepat. Pengangkatan Álvaro Arbeloa, mantan rekan setim Alonso dan sosok yang dikenal loyal kepada presiden, sebagai pengganti, semakin menyoroti pengaruh besar Perez dalam keputusan strategis klub.

Pengumuman resmi dari Real Madrid pada 12 Januari 2026 menyatakan bahwa kepergian Alonso terjadi "atas kesepakatan bersama". Namun, berbagai laporan media mengindikasikan bahwa keputusan tersebut lebih condong pada pemecatan. Mantan bek kanan Real Madrid dan Liverpool, Álvaro Arbeloa, yang sebelumnya melatih Real Madrid Castilla, kini dipercaya untuk mengisi posisi pelatih kepala.

Dinamika ini memperkuat persepsi bahwa di Real Madrid, keputusan akhir selalu berada di tangan Florentino Perez, menjadikan jabatan pelatih sebagai salah satu yang paling berisiko di dunia sepak bola.

Ikuti berita bola terbaru di Sport Liputan6

Halaman
Show All
ThomasTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan