Kepergian Xabi Alonso dari Real Madrid: Bukti Nyata Kekuasaan Florentino Perez yang Tak Terbantahkan

Kepergian Xabi Alonso dari Real Madrid setelah hanya 7 bulan menjadi sorotan, menguatkan bukti kekuasaan Florentino Perez dalam menentukan arah klub.

OlehThomas
Diterbitkan 14 Januari 2026, 23:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Xabi Alonso, mantan gelandang legendaris Real Madrid, baru-baru ini mengakhiri masa jabatannya sebagai pelatih kepala tim utama Los Blancos setelah hanya tujuh bulan. Keputusan mengejutkan ini diumumkan pada 12 Januari 2026, sehari setelah kekalahan pahit Real Madrid dari rival abadi, Barcelona, di final Piala Super Spanyol. Peristiwa ini tidak hanya menandai berakhirnya era singkat Alonso, tetapi juga kembali menyoroti dominasi tak tergoyahkan Presiden Florentino Perez dalam setiap keputusan strategis klub.

Alonso, yang ditunjuk pada Juni 2025 menggantikan Carlo Ancelotti, datang dengan reputasi cemerlang setelah sukses besar membawa Bayer Leverkusen meraih gelar Bundesliga dan DFB-Pokal pada tahun 2024. Namun, harapan tinggi yang menyertai kedatangannya pupus di tengah jalan, menyisakan pertanyaan besar tentang faktor-faktor di balik kepergiannya yang mendadak. Kekalahan di final Piala Super Spanyol menjadi pemicu utama, namun masalah internal dan inkonsistensi performa tim juga turut andil dalam keputusan sulit ini.

Di balik layar, peran Florentino Perez disebut-sebut sebagai kunci utama di balik dinamika ini. Presiden yang dikenal dengan julukan "pengambil keputusan utama" ini memiliki sejarah panjang dalam pergantian pelatih yang cepat, terutama jika hasil di lapangan tidak sesuai ekspektasi. Kepergian Xabi Alonso dari Real Madrid, dengan demikian, menjadi bukti nyata betapa berkuasanya Florentino Perez dalam memegang kendali penuh atas klub raksasa Spanyol tersebut.

Masa Singkat Xabi Alonso di Kursi Pelatih Real Madrid

Xabi Alonso mengambil alih kursi kepelatihan Real Madrid pada Juni 2025, membawa harapan baru setelah kesuksesan gemilang bersama Bayer Leverkusen. Ia datang dengan rekam jejak impresif, berhasil mengantarkan Leverkusen meraih gelar Bundesliga dan DFB-Pokal yang belum pernah terjadi sebelumnya pada tahun 2024. Namun, masa jabatannya di Santiago Bernabeu ternyata sangat singkat, hanya bertahan sekitar tujuh bulan atau 232 hari, dengan total 34 pertandingan yang dipimpinnya.

Pemicu langsung kepergian Alonso adalah kekalahan 3-2 Real Madrid dari Barcelona di final Piala Super Spanyol pada 11 Januari 2026. Meskipun timnya menunjukkan perlawanan sengit, hasil ini menjadi titik balik yang memicu keputusan klub. Selain kekalahan tersebut, masa kepelatihan Alonso juga diwarnai oleh kurangnya konsistensi dalam permainan dan hasil, meskipun ia mencatatkan tingkat kemenangan yang cukup tinggi, yaitu 74%.

Lebih jauh, Alonso juga menghadapi masalah internal yang signifikan, termasuk perselisihan otoritas dengan beberapa pemain senior seperti Vinicius Jr. dan Kylian Mbappé. Metode kepelatihan modern yang ia coba terapkan dilaporkan tidak sepenuhnya diterima oleh sebagian pemain bintang. Real Madrid juga sempat mengalami periode buruk antara November dan Desember 2025, hanya mampu memenangkan tiga dari sembilan pertandingan, yang semakin memperlemah posisinya di mata manajemen klub.

Bayang-bayang Kekuasaan Florentino Perez

Kepergian Xabi Alonso dari Real Madrid tidak dapat dilepaskan dari peran sentral Florentino Perez, presiden klub yang dikenal memegang kendali penuh atas setiap aspek di Santiago Bernabeu. Perez digambarkan sebagai "pengambil keputusan utama" yang memiliki "semua kekuasaan" di klub, sebuah gambaran yang semakin diperkuat dengan insiden ini. Laporan menyebutkan bahwa Perez tidak pernah sepenuhnya yakin dengan Alonso sebagai pilihan pelatih, dan skeptisisme awalnya menjadi faktor yang mempercepat pemecatan.

Sejarah mencatat, Alonso adalah manajer ke-11 yang bertahan kurang dari setahun dalam dua dekade kepemimpinan Perez. Selama masa jabatannya, Perez telah mengawasi 17 pergantian manajer, melampaui rekor Santiago Bernabéu sendiri, menunjukkan toleransi rendahnya terhadap hasil yang tidak sesuai ekspektasi. Kurangnya dukungan publik dari Perez saat posisi Alonso melemah dalam beberapa minggu terakhir juga menjadi indikasi jelas bahwa sang presiden telah kehilangan kepercayaan.

Insiden di mana Vinicius Jr. secara terbuka menunjukkan kemarahannya setelah diganti oleh Alonso tanpa sanksi dari klub, semakin mengkonfirmasi keterbatasan kekuasaan pelatih di bawah Perez. Hal ini menunjukkan bahwa pemain bintang dapat menentang instruksi pelatih tanpa konsekuensi, sebuah kondisi yang melemahkan otoritas pelatih. Meskipun Real Madrid telah menginvestasikan sekitar €180 juta untuk pemain yang sesuai dengan gaya permainan Alonso, skeptisisme Perez memudahkan untuk menghentikan proyek tersebut dengan cepat. Pengangkatan Álvaro Arbeloa, mantan rekan setim Alonso dan sosok yang dikenal loyal kepada presiden, sebagai pengganti, semakin menyoroti pengaruh besar Perez dalam keputusan strategis klub.

Pengumuman resmi dari Real Madrid pada 12 Januari 2026 menyatakan bahwa kepergian Alonso terjadi "atas kesepakatan bersama". Namun, berbagai laporan media mengindikasikan bahwa keputusan tersebut lebih condong pada pemecatan. Mantan bek kanan Real Madrid dan Liverpool, Álvaro Arbeloa, yang sebelumnya melatih Real Madrid Castilla, kini dipercaya untuk mengisi posisi pelatih kepala.

Dinamika ini memperkuat persepsi bahwa di Real Madrid, keputusan akhir selalu berada di tangan Florentino Perez, menjadikan jabatan pelatih sebagai salah satu yang paling berisiko di dunia sepak bola.

Ikuti berita bola terbaru di Sport Liputan6

Halaman
Show All
ThomasTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan