LaLiga Tegaskan Perang Melawan Pembajakan Digital di Media Sosial: Ancaman Serius Industri Olahraga

Presiden LaLiga, Javier Tebas, bersikap tegas dalam memberantas pembajakan digital lewat media sosial, menyebutnya kejahatan terorganisir yang merugikan industr

OlehThomas
Diterbitkan 13 Januari 2026, 22:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Presiden LaLiga, Javier Tebas, secara konsisten menunjukkan sikap tegas dalam memerangi pembajakan konten digital, terutama yang marak terjadi melalui media sosial. Tebas menegaskan bahwa praktik ilegal ini bukan sekadar pelanggaran hak cipta biasa, melainkan sebuah aktivitas kriminal terorganisir yang secara sistemik merugikan industri olahraga. Ancaman ini tidak hanya berdampak pada kerugian finansial, tetapi juga mengancam keamanan siber para pengguna serta keberlangsungan ekosistem sepak bola secara keseluruhan.

Pembajakan digital telah menjadi fokus utama LaLiga karena dampaknya yang masif, diperkirakan merugikan liga sekitar €700 juta per musim atau €200 juta dalam setahun. Kerugian ini berimbas pada keberlangsungan klub, ribuan lapangan kerja, dan investasi jangka panjang pada sepak bola akar rumput serta pengembangan pemain muda. Oleh karena itu, LaLiga mengambil berbagai langkah proaktif untuk menanggulangi masalah ini, mulai dari implementasi teknologi canggih hingga kampanye publik dan tindakan hukum.

Sikap tegas LaLiga ini sejalan dengan pandangan para pemimpin industri teknologi global, yang juga menyoroti risiko keamanan siber dari pembajakan digital. Javier Tebas menekankan bahwa teknologi untuk menanggulangi pembajakan sebenarnya sudah tersedia, dan tantangannya bukan pada aspek teknis, melainkan pada kemauan infrastruktur digital untuk mencegah kejahatan.

“Pembajakan juga merupakan masalah keamanan siber (malware, penipuan, dan pencurian kredensial). Teknologinya sudah ada untuk bertindak cepat tanpa mengorbankan kinerja maupun proses hukum. Pertanyaannya, apakah Anda merancang infrastruktur untuk mencegah kejahatan atau justru menutup mata,” ujar Javier Tebas lewat unggahan X.

Pembajakan Digital: Kejahatan Terorganisir dan Ancaman Serius LaLiga

Javier Tebas dengan tegas menyatakan bahwa pembajakan digital bukanlah bentuk kebebasan berekspresi, melainkan kejahatan terorganisir yang merusak fondasi industri olahraga. Ia menyoroti tiga isu krusial dalam pemberantasan pembajakan, yaitu masalah keamanan siber, ketersediaan teknologi penanggulangan, dan persoalan persaingan tidak adil yang jarang dibahas publik. Pembajakan juga dianggap sebagai ancaman keamanan siber serius karena seringkali disertai dengan penyebaran malware, penipuan, hingga pencurian data pengguna.

Kerugian finansial akibat pembajakan digital sangat signifikan, dengan LaLiga diperkirakan kehilangan sekitar €700 juta per musim. Dampak ini meluas pada keberlangsungan klub, ribuan lapangan kerja, serta investasi jangka panjang pada sepak bola akar rumput dan pengembangan pemain muda. Tebas secara terbuka mengkritik platform digital dan CEO-nya, seperti Elon Musk (pemilik X) dan Matthew Prince (CEO Cloudflare), atas kelambanan mereka dalam memerangi penyebaran konten bajakan.

Dalam unggahan di platform X, Javier Tebas bahkan menyebut akun @elonmusk sebagai simbol pentingnya keseriusan platform besar dalam memerangi pembajakan di dunia olahraga. Ia menuduh Cloudflare memfasilitasi pembajakan dengan menetapkan alamat IP yang sama untuk situs legal dan ilegal. Hal ini menunjukkan bahwa LaLiga tidak ragu untuk menunjuk langsung pihak-pihak yang dianggap bertanggung jawab atas penyebaran konten ilegal.

Strategi Komprehensif LaLiga dalam Memerangi Konten Ilegal

LaLiga telah mengimplementasikan "Content Protection," sebuah rangkaian solusi perangkat lunak canggih yang dirancang untuk mendeteksi, memblokir, dan menghapus konten ilegal di seluruh saluran digital. Sistem ini menggabungkan teknologi kecerdasan buatan (AI) dan pembelajaran mesin (Machine Learning) dengan tim analis serta pakar hukum yang bekerja 24/7. Sejak diterapkan, Content Protection telah berhasil menghapus lebih dari 7 juta klip bajakan dari platform media sosial, 4 juta video dari YouTube, dan lebih dari 128.000 tautan streaming ilegal.

Selain itu, LaLiga memiliki tim anti-pembajakan khusus yang terdiri dari lebih dari 50 orang. Tim ini berdedikasi penuh untuk memerangi pembajakan, menggunakan alat dan strategi canggih yang disesuaikan untuk setiap negara. LaLiga juga berkolaborasi dengan beberapa perantara digital lainnya, termasuk Google, Amazon, dan YouTube, dalam upaya bersama memberantas pembajakan. Kolaborasi ini menunjukkan komitmen LaLiga untuk bekerja sama dengan berbagai pihak demi menciptakan ekosistem digital yang lebih aman.

Di Spanyol, lebih dari 35% konten LaLiga yang dibajak masih didistribusikan melalui infrastruktur tertentu, meskipun ribuan pemberitahuan resmi dan langkah penegakan hukum berbasis putusan pengadilan telah diterapkan oleh penyedia layanan internet. Hal ini menggarisbawahi tantangan besar yang dihadapi LaLiga dan pentingnya peran aktif dari semua pihak, terutama platform digital, dalam upaya pemberantasan pembajakan.

Kampanye Edukasi dan Tantangan Hukum Melawan Pembajakan

Untuk meningkatkan kesadaran publik, LaLiga meluncurkan kampanye anti-pembajakan yang kuat dengan pesan "Anda memiliki sepak bola bajakan. Mereka memiliki Anda" ("You have pirate football. They have you"). Kampanye ini bertujuan memperingatkan penggemar tentang risiko serius terhadap privasi dan keamanan pribadi mereka, termasuk malware, pencurian data, dan pengurasan rekening bank, yang terkait dengan layanan streaming ilegal. Pesan ini menekankan bahwa pembajakan bukan hanya merugikan liga, tetapi juga membahayakan konsumen.

Dalam upaya hukum, LaLiga telah memperoleh putusan pengadilan untuk memblokir alamat IP yang terkait dengan situs-situs pembajakan. Namun, praktik ini terkadang menyebabkan "pemblokiran berlebihan" (overblocking) terhadap situs-situs legal, yang menimbulkan kontroversi. LaLiga menegaskan bahwa perlindungan hak kekayaan intelektual didasarkan pada proses hukum yang semestinya, putusan pengadilan, dan supremasi hukum.

Meskipun teknologi untuk menanggulangi pembajakan sudah tersedia, tantangan utamanya adalah kemauan infrastruktur digital untuk mencegah kejahatan dan tanggung jawab platform. LaLiga menilai bahwa beberapa perusahaan teknologi justru berlindung di balik narasi kebebasan internet atau kebebasan berekspresi untuk membenarkan ketidakbertindakan, meskipun terdapat putusan pengadilan yang jelas di berbagai negara, termasuk Spanyol, Italia, dan Jepang.

Ikuti berita bola terbaru di Sport Liputan6

Halaman
Show All
ThomasTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan