Dari Old Trafford ke Velodrome: Angel Gomes & Mason Greenwood Kini Bahu-Membahu Bangkit di Marseille Setelah Terpuruk di MU

Eks Manchester United, Angel Gomes dan Mason Greenwood, menemukan kembali sinarnya di Marseille. Apa yang salah dulu dan kenapa sekarang mereka bersinar?

Diperbarui 16 September 2025, 16:07 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta Manchester United pernah menjadi tempat di mana Angel Gomes dan Mason Greenwood digadang-gadang menjadi bintang masa depan. Gomes, lahir 2000, dikenal sebagai “wonderkid” yang masuk skuad utama MU sejak usia dini. Greenwood, dengan insting mencetak gol yang tajam, turut menjadi aset besar United sejak remaja.

Namun realitasnya tak selalu manis bagi keduanya di Old Trafford. Gomes kesulitan mendapatkan menit bermain yang berarti, sementara Greenwood terpaut non-sepak bola dan kontroversi yang mengganggu kariernya di klub.

Kedua pemain itu kemudian memilih (atau dipaksa) untuk melanjutkan karier di luar Inggris. Kini keduanya sama-sama berlabuh di Marseille, mencoba untuk menemukan kesempatan membangun ulang reputasi dan karier mereka.

Sekarang, performa kedua pemain ini mulai menarik perhatian. Gomes resmi bergabung Marseille pada musim panas 2025, dengan kontrak tiga tahun mulai Juli 2025. Sementara Greenwood, sejak kedatangannya di Marseille tahun 2024, mencetak banyak gol dan menjadi top scorer Liga Prancis musim 2024-25 bersama Ousmane Dembele dari PSG.

Kisah bangkit mereka di Marseille bukan hanya tentang statistik, tapi soal kesempatan, kepercayaan, dan lingkungan yang lebih mendukung untuk memperbaiki kesalahan masa lalu. Apa yang membuat mereka gagal di MU, dan kenapa Marseille menjadi panggung ideal mereka untuk tampil kembali? Berikut ulasannya.

Angel Gomes Gagal Bersaing di Man United

Angel Gomes tumbuh besar di akademi Manchester United dan debut untuk tim senior dilakukan sejak usia remaja. Namun, sejumlah faktor membuat ia kesulitan menetap.

Di United, terutama di lini tengah dan penyerangan, banyak talenta maupun pemain senior yang punya reputasi dan performa tinggi. Gomes, meski sempat diberi kepercayaan tampil, tetapi mendapat sedikit kesempatan reguler.

Selain itu gaya bermainnya pun juga kurang cocok. United, dalam beberapa musim terakhir, lebih mengandalkan kekuatan fisik, pressing tinggi, kecepatan, serta pemain yang bisa langsung berdampak ofensif. Gomes, seorang playmaker atau pemain kreatif yang lebih mengandalkan visi dan distribusi bola, seringkali dianggap kurang cocok untuk tuntutan tersebut.

Lalu ada faktor psikologis dan beban reputasi. Gomes pernah mengatakan bahwa mengenakan jersey Man United itu punya beban yang teramat berat. Ekspektasi publik dan media terhadap pemain muda di MU bisa jadi menjadi tekanan tambahan. Ditambah, peluang yang terbatas, persaingan, dan keputusan-keputusan manajerial—kadang belia dalam umur tapi harus menghadapi tuntutan profesional—membuat jalan Gomes di United tidak mulus.

Ikuti berita bola terbaru di Sport Liputan6

Lanjut Baca:

Akhirnya, keputusan untuk pergi ke Lille lewat kontrak bebas pada 2020 menjadi kesempatan bagi dirinya untuk mendapatkan menit bermain lebih banyak dan menemukan perannya sendiri di luar bayang-bayang Old Trafford. Setelah melewati lima tahun di klub tersebut, Gomes resmi menjadi pemain Marseille mulai Juli 2025 dengan kontrak tiga tahun. Di Lille, Gomes sudah menunjukkan bahwa ia matang secara taktik dan teknis. Ia menjadi pemain penting dalam hal penguasaan bola, distribusi, dan assist. Di Marseille, peluang lebih terbuka untuk menunjukkan kemampuannya sebagai gelandang berkelas. Klub memberikan kepercayaan kepada Gomes dengan menit bermain reguler, peran lebih jelas di lini tengah (baik sebagai gelandang serang maupun gelandang tengah), dan lingkungan yang relatif lebih stabil dibandingkan situasi di Inggris. Sejauh ini dari empat laga ia sudah mencetak satu gol dan beradaptasi dengan gaya yang diinginkan Roberto De Zerbi di Marseille.

Halaman
Show All
Dimas Ardi PrasetyaTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan