Tatanka Tua Mematikan: Nostalgia Ketajaman Dario Hubner di Era Pertahanan Tangguh Serie A

Namanya abadi di ingatan para pecinta Serie A—bukan karena citra, tapi karena cerita.

Diperbarui 16 Juli 2025, 11:58 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta Dario Hubner bukan pesepakbola glamor. Tak ada rekor transfer mewah, tak ada trofi besar, bahkan tak sekali pun mengenakan seragam timnas Italia. Namun, namanya abadi di ingatan para pecinta Serie A—bukan karena citra, tapi karena cerita.

Pada musim 2001/02, di usia 35 dan membela tim sekelas Piacenza, Hubner menjadi Capocannoniere—pencetak gol terbanyak Serie A—bersama David Trezeguet. Prestasi itu merupakan simbol dari kerja keras, ketekunan, dan penolakan untuk menyerah pada usia.

Julukannya, Tatanka (bison dalam bahasa Lakota), bukan sekadar nama panggilan. Ia benar-benar bison tua yang mengacak-acak pertahanan tangguh Serie A, membuktikan bahwa usia hanyalah angka jika insting gol tak pernah usang.

Awal Panjang Menuju Panggung Tertinggi

Dario Hubner lahir pada 20 April 1967 di Muggia. Ia memulai kariernya di level amatir bersama Pievigina, lalu meniti jalur lambat dari Serie C hingga akhirnya menembus kasta tertinggi Italia di usia kepala tiga. Perjalanannya panjang dan terjal, tapi tak sia-sia.

Di Fano dan Cesena, Hubner menunjukkan ketajamannya. Ia menjadi top skor Serie C dan B, masing-masing pada musim 1991/92 dan 1995/96. Namun, Serie A tetap terasa jauh. Baru ketika Brescia promosi pada 1997, Hubner akhirnya mencicipi atmosfer elite Italia.

— 90s Football (@90sfootball) October 25, 2023

Debutnya di Serie A datang dalam laga melawan Inter Milan. Semua mata tertuju pada Ronaldo Nazario, bukan Hubner. Namun, di tengah gegap gempita, justru Hubner-lah yang mencetak gol pembuka pertandingan, mengingatkan bahwa cerita besar bisa datang dari kaki yang sederhana.

Bison Tua dan Si Codino di Kota Kecil

Hubner bertahan bersama Brescia saat mereka terdegradasi, lalu membawa tim itu promosi kembali ke Serie A. Namun, musim 2000/01-lah yang menjadi salah satu puncak emosionalnya. Ia bermain bersama sang maestro, Roberto Baggio, dan dikawal oleh Andrea Pirlo di lini tengah.

Banyak yang menilai Baggio dan Hubner sudah habis. Namun, keduanya justru membungkam semua kritik. Mereka mencetak 27 gol gabungan dan membawa Brescia finis di posisi ketujuh—terbaik sepanjang sejarah klub—serta mengamankan tiket ke Piala Intertoto.

Ikuti berita bola terbaru di Sport Liputan6

Lanjut Baca:

Al di là del campanilismo, con il #fallimento del #Brescia se ne va un pezzetto della storia del calcio italiano. La corsa di #Mazzone, il lancio di #Pirlo per #Baggio, i gol di #Hubner, #Guardiola, #Hagi che lascia il #Real per Brescia. Un piccolo pezzo del nostro mondo antico. pic.twitter.com/fVzy7AQls3 — La Musa Azzurra (@lamusaazzurra00) June 6, 2025 Namun, semua yang indah memang tak bertahan lama. Setelah musim gemilang itu, Hubner sadar waktunya di Brescia sudah habis. Ia memberi jalan untuk talenta muda bernama Luca Toni. Tak ada perasaan pahit, hanya kesadaran dari seorang pejuang bahwa waktunya untuk berpindah arena.

Halaman
Show All
Gia Yuda PradanaTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan