Tatanka Tua Mematikan: Nostalgia Ketajaman Dario Hubner di Era Pertahanan Tangguh Serie A

Namanya abadi di ingatan para pecinta Serie A—bukan karena citra, tapi karena cerita.

Diperbarui 16 Juli 2025, 11:58 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Namun, semua yang indah memang tak bertahan lama. Setelah musim gemilang itu, Hubner sadar waktunya di Brescia sudah habis. Ia memberi jalan untuk talenta muda bernama Luca Toni. Tak ada perasaan pahit, hanya kesadaran dari seorang pejuang bahwa waktunya untuk berpindah arena.

Musim Epik di Piacenza

Musim berikutnya, Hubner bergabung dengan Piacenza. Tak banyak yang menyangka bahwa musim 2001/02 akan menjadi puncak kariernya. Namun, Tatanka membuktikan bahwa bison tua masih bisa berlari cepat dan mematikan di dalam kotak penalti.

Dengan 24 gol—enam di antaranya dari titik putih—Hubner menjadi Capocannoniere bersama David Trezeguet. Ia mengalahkan striker-striker top seperti Andiy Shevchenko, Christian Vieri, Alessandro Del Piero, dan Vincenzo Montella. Lebih hebatnya lagi, ia melakukannya bersama klub kecil yang nyaris terdegradasi.

Prestasi itu membuat publik bersorak: panggil Hubner ke timnas! Namun, Giovanni Trapattoni bergeming. Komposisi lini depan Italia sudah penuh. Tak ada tempat untuk si bison. Bahkan ketika AC Milan mengundangnya untuk ikut tur, kebiasaannya merokok dan minum grappa membuat manajemen urung memberi kontrak.

Tak Bisa Berhenti Bermain

Hubner masih terus mencetak gol di usia-usia yang tak lagi muda. Ia kembali ke Piacenza dan mengemas 14 gol pada musim berikutnya. Setelah itu, ia berpetualang ke Perugia, Mantova, lalu ke klub-klub kecil dan amatir. Sepakbola terlalu berharga untuk ditinggalkan begitu saja.

Ia akhirnya pensiun pada usia 44 tahun. Namanya tercatat sebagai satu dari hanya dua pemain yang pernah menjadi top skor di Serie C, B, dan A. Itu pencapaian langka dari seorang pemain yang terlambat bersinar, tapi tak pernah padam.

Kini, saat kita mengenang Dario Hubner, kita tak sedang bicara soal trofi atau reputasi. Kita sedang bicara tentang semangat, tentang kegigihan, dan tentang sebuah keyakinan bahwa tak ada kata terlambat untuk menjadi luar biasa. Karena bison tua pun bisa jadi raja hutan—asal punya insting dan keberanian.

Ikuti berita bola terbaru di Sport Liputan6

Halaman
Show All
Gia Yuda PradanaTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan