Dari Juggling Menuju Prestasi: Piala Presiden 2025 Ingatkan Pentingnya Akar Rumput Lewat Kehadiran 2.200 Anak SSB

Piala Presiden 2025 bukan sekadar turnamen pramusim semata. Ajang ini jadi momentum yang menggugah harapan talenta sekaligus mengingat soal pentingnya memperhatikan pembinaan akar ruput dalam mendongkrak kualitas sepak bola Indonesia.

Diterbitkan 12 Juli 2025, 11:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Menariknya, kegiatan ini ternyata tak hanya menjadi atraksi dan hiburan, melainkan pesan simbolik tentang pentingnya pembinaan usia dini dan bagaimana talenta-talenta muda Tanah Air harus lebih diperhatikan.

Dari juggling Piala Presiden, muncul ribuan anak yang kini mendapat suntikan semangat dan harapan baru untuk menjadi tulang punggung mengembangkan kualitas sepak bola Indonesia. Dennis Mahmud Permana salah satunya

Pemain cilik berusia 12 tahun itu diklaim jadi satu-satunya pemain dari SSB-nya: SSB Maesa Para Raider yang berkesempatan tampil dalam opening ceremony. Pengalaman ini membawa momen menggetarkan buat Dennis.

Dia selangkah lebih dekat merasakan mimpi tampil menjadi pemain sepak bola top Indonesia di hadapan puluhan ribu suporter.

Orang tua Dennis, Mahmudi, turut mengapresiasi dan menyambut positif langkah Piala Presiden menyertakan anak-anak SSB sebagai bagian dari acara.

Apalagi, panitia bukan cuma memberi waktu tampil, tetapi juga menyediakan tiket gratis untuk menonton pertandingan, sebagaimana diungkap oleh Ketua SC Piala Presiden Maruarar Sirait bersama Ketua OC Arya Sinulingga dalam konferensi pers Jumat (4/7/2025) lalu.

Menurut Mahmudi, anaknya jadi makin giat berlatih dan tak pernah melepaskan bola yang dia dapat dari acara juggling usai hadir di pembukaan Piala Presiden 2025.

“Dennis (selesai acara) cerita, bagaimana ya kalau dede jadi pemain di lapangan itu. Ya (kami, orang tua jawab) harus rajin berlatih. Tidak ada yang tidak mungkin. Semua ini pasti bisa asal ada kemauan. Setelah itu, jadi semangat dia. Tidak dilepas-lepas bola dia dapat dari sana (dari acara juggling Piala Presiden 2025),” ujar Mahmudi kepada Liputan6.com.

Urgensi vs Realita

Dennis hanya satu dari sekian banyak anak yang terdorong untuk makin giat berlatih pasca gelaran Piala Presiden 2025.

Selain dia, masih ada 2.199 pemain masa depan lainnya yang juga mendapat api semangat berkat sorotan di SUGBK, Minggu (6/7/2025), dengan hal ini terlihat dari maraknya unggahan dan foto-foto momen kegembiraan anak-anak SSB yang tersebar di media sosial.

Indonesia sendiri sebenarnya sudah punya segudang kompetisi usia muda guna mewadahi pengembangan talenta seperti Dennis dari akar rumput. Beberapa di antaranya meliputi Liga Anak Indonesia, Elite Pro Academy, Piala Soeratin, hingga Piala Pertiwi untuk pesepak bola putri usia muda.

Sayangnya, keberadaan kompetisi nampaknya tak selalu menjamin penggawa tokcer akan langsung tercetak. Realitanya, bisa ada hambatan yang muncul sepanjang proses pembentukan pemain profesional.

Riset ilmiah (Syukur & Soniawan, 2015; Putra, 2020) yang dilansir dari jurnal milik Akbar et al. pada 2024 menunjukkan bahwa menurunnya tren sepak bola Indonesia salah satunya disebabkan oleh kurangnya pengelolan dan perhatian di tingkat akar rumput.

Padahal, menukil sejumlah penelitian di jurnal yang sama, kunci keberhasilan sepak bola negara bergantung pada akademi dan grassroot, di mana pembinaan jangka panjang, sistematis, terencana, serta konsisten harus dilakukan.

Tantangan Jadi Pesepak Bola Profesional

Bentuk hambatan yang lain juga bisa berasal dari faktor eksternal. Orang tua Dennis, misalnya, merasakan ada tantangan ekonomi dalam mendorong putranya yang memiliki bakat. Di sinilah peran pemerintah dan stakeholder sepak bola diperlukan.

Selain memastikan kompetisi terus berjalan, pelaku sepak bola Tanah Air juga punya PR menjaga talenta berbakat agar tak terkendala selama proses transformasi menjadi pemain profesional.

“Kami bahagia ketika melihat anak semangat menginjak ke tempat-tempat yang begitu istimewa, mengingat memang ada harapan (untuk anak) menjadi seorang pemain karena dia ada bakat,” ujar orang tua Dennis, salah satu peserta juggling bola di opening Piala Presiden 2025.

“(Namun) kadang-kadang (ada) persoalan anggaran karena keadaan sedang begini. Kalau bertanding itu kan ada biaya, ada bulanan. Kami berharap kalau ada dukungan dari stakeholder, (pemain) yang kemuannya tinggi, itu yang benar-benar dibina dan dibebaskan masalah pembiayaannya. Supaya dia benar-benar dilatih sampai jadi pemain (profesional),” tambahnya.

Talenta Selalu Ada, tapi...

Berkaca dari situasi dan urgensi mencetak pesepak bola profesional yang mampu bersaing di level internasional, momentum Piala Presiden 2025 diharapkan jadi alarm pengingat yang baik kepada stakeholder untuk selalu memperhatikan pembentukan dari level akar rumput (grassroot).

Apalagi, pelatih klub peserta Piala Presiden Oxford United, Gary Rowett, sendiri baru-baru ini sudah menyinggung betapa dia terkesan dengan semangat anak-anak Indonesia dalam hal sepak bola yang terlihat saat menyaksikan sesi latihan timnya dari pinggir lapangan.

“Ketika kami datang ke tempat latihan, ada tim muda (yang sedang ada) di dekat situ. Kami undang mereka untuk datang dan menonton latihan. Saya rasa itu juga penting sebab kita ingin tahu siapa akan jadi Marselino selanjutnya. Mereka sangat senang bisa melihat (latihan kami),” ujar Rowett di Bandung pada Jumat (11/7/2025).

Talenta selalu ada, tetapi tak banyak yang bisa melewati tantangan hingga mencapai impian jadi pemain profesional. Untuk melahirkan Marselino Ferdinan selanjutnya–seperti yang disebut Gary Rowett–perlu ada upaya menjaga harapan dari 2.200 anak SSB serta ribuan talenta muda lainnya agar tetap berkobar.

Ikuti berita bola terbaru di Sport Liputan6

Halaman
Show All
Theresia Melinda Indrasari, ThomasTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan