Rahasia Guardiola: Mengapa Manchester City Kini Borong Pemain Jago Dribel?

Pep Guardiola disebut anti-dribel, tapi fakta menunjukkan Manchester City justru memburu pemain jago bawa bola seperti Doku dan Cherki. Simak analisis lengkapnya.

Diperbarui 18 Juni 2025, 01:57 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta Manchester City sedang membangun sesuatu yang baru. Josep Guardiola, yang sering dituding sebagai pelatih yang "membunuh" kreativitas individu, justru secara diam-diam mengumpulkan pemain-pemain dribel terbaik Eropa.

Jeremy Doku, Rayan Cherki, dan Savinho adalah bukti nyata perubahan strategi City. Mereka diboyong untuk menghidupkan kembali seni dribel yang sempat redup di Etihad Stadium.

Jack Grealish mungkin menjadi korban dari transformasi ini. Pemain seharga 100 juta pounds itu kini harus bersaing ketat dengan para dribbler baru yang lebih sesuai dengan visi terbaru Guardiola.

Lalu, apa sebenarnya yang sedang dirancang oleh pelatih jenius asal Spanyol ini? Mengapa City tiba-tiba berburu pemain-pemain yang mahir dalam satu lawan satu?

Guardiola dan Obsesinya dengan Pemain Dribel

Ketika pertama kali bergabung dengan Manchester City pada 2016, Guardiola memberikan instruksi sederhana kepada tim scout: "Temukan pemain yang bisa dribel. Sisanya adalah urusan saya." Permintaan ini bukan tanpa alasan.

Sepanjang kariernya, Guardiola selalu membutuhkan pemain dengan kemampuan dribel di atas rata-rata. Di Barcelona, ada Lionel Messi. Di Bayern Munich, ia memiliki Arjen Robben dan Franck Ribery. Kini di City, Jeremy Doku menjadi senjata terbarunya.

"Tugas saya adalah membawa bola sampai ke final third. Tugas pemain adalah menyelesaikannya," begitu penjelasan Guardiola yang pernah diungkap oleh Thierry Henry. Filosofi inilah yang membuatnya selalu mencari pemain yang bisa membuat kejutan lewat dribel.

Dari Raheem Sterling, Leroy Sane, hingga generasi terbaru seperti Doku dan Savinho, Guardiola terus membuktikan bahwa dribel tetap menjadi bagian penting dalam taktiknya.

Mitos Guardiola Anti-Dribel dan Kasus Jack Grealish

Jack Grealish sering dijadikan contoh utama untuk mendukung narasi bahwa Guardiola membatasi kreativitas pemain. Padahal, kenyataannya lebih kompleks dari itu.

Grealish memang mengalami transformasi peran sejak bergabung dari Aston Villa. Gaya bermainnya yang bebas dan flamboyan sedikit banyak disesuaikan dengan sistem City. Namun, ini bukan berarti Guardiola anti-dribel.

"Jika Anda bisa dribel, lakukan. Namun, saya yang akan menentukan kapan waktunya," tegas Guardiola suatu kali. Musim 2022/23 membuktikan hal ini, ketika Grealish menjadi kunci kesuksesan City meraih treble dengan peran barunya sebagai pengontrol permainan di sayap.

Ikuti berita bola terbaru di Sport Liputan6

Lanjut Baca:

Kini, dengan kedatangan Doku dan Savinho, Grealish memang mulai tersingkir. Bukan karena Guardiola benci dribel, tapi karena ia membutuhkan tipe dribbler yang lebih eksplosif dan langsung untuk menghadapi pertahanan padat.

Halaman
Show All
Richard Andreas LuturmasTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan