Perjuangan Jadi Ratu Bulu Tangkis Dunia, Kiat Susi Susanti Usir Rasa Bosan di Lokasi Latihan

Susi Susanti adalah Ratu Bulu Tangkis Dunia. Namun, untuk meraih status tersebut, banyak rintangan dan jalan tidak dilurus yang harus dilewati peraih medali emas tunggal putri Olimpiade Barcelona 1992 di Spanyol itu.

Diterbitkan 27 Januari 2023, 12:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Susi Susanti adalah Ratu Bulu Tangkis Dunia. Ini tak lepas dari prestasi yang dia torehkan sepanjang lebih 20 tahun di olahraga tepok bulu itu, tidak hanya membuat harum Indonesia, melainkan juga menjadi kekaguman dunia.

Wanita kelahiran Tasikmalaya, Jawa Barat, 11 Februari 1971, itu pernah memenangkan All England 1990, 1991, 1993, dan 1994. Selain itu, Susi juga pernah menjuarai World Badminton Grand Prix Finals lima kali berturut-turut dari 1990 hingga 1994 serta di 1996, dan Kejuaraan Dunia IBF pada 1993.

Puncaknya, Susi memenangkan medali emas tunggal putri Olimpiade Barcelona 1992 di Spanyol. Dia juga meraih perunggu Olimpiade Atlanta 1996 di Amerika Serikat.

Wanita yang dijuluki ballerina ketika masih bermain ini juga memimpin tim Indonesia menang atas juara abadi Tiongkok di Piala Uber 1994 dan 1996. Dia juga meraih gelar Japan Open tiga kali dan Indonesian Open lima kali. Susi juga memenangkan banyak seri Badminton Grand Prix dan lima Badminton World Cup.

Hebatnya, pemilik nama lengkap Lucia Francisca Susy Susanti Haditono ini merupakan satu-satunya pebulu tangkis wanita yang memegang gelar tunggal putri Olimpiade, Kejuaraan Dunia, dan All-England secara bersamaan.

Tetapi untuk meraih itu semua, kisah hidup Susi yang dibuat menjadi film biopik berjudul Susi Susanti: Love All, ini tak mudah. Banyak rintangan dan jalan tidak dilurus yang harus dilewati istri dari Alan Budi Kusuma ini, pebulu tangkis yang bersama Susi meraih medali emas tunggal putra Olimpiade Barcelona 1992.

 

 

Hijrah ke Jakarta Berpisah dengan Orang Tua

Perjuangan Susi Susanti menjadi Ratu Bulu Tangkis Dunia dimulai dengan keputusan hijrah ke Jakarta pada 1985 saat usia 14 tahun. Dia menerima pinangan dari Jaya Raya setelah bakatnya terpantau dalam kejuaraan-kejuaraan bulu tangkis di sejumlah daerah.

Sebenarnya Susi juga mendapat tawaran dari klub besar lainnya, yakni Djarum. Namun, setelah berunding dengan orang tuanya, dia memutuskan memilih Jaya Raya yang berada di Jakarta. "Salah satunya mungkin idola saya, Pak Rudy Hartono yang menjadi pelatih di sana," kata Susi kepada Sheila Octarina dalam program Bincang Liputan6.

Ikuti berita bola terbaru di Sport Liputan6

Lanjut Baca:

"Lalu alasan kedua juga karena saudara-saudara banyak di Jakarta dibanding di Kudus. Nah, itu yang menjadi pilihan orangtua saya. Akhirnya di usia 14 tahun saya pindah ke Jakarta, masuk ke asrama, dan di situlah saya memutuskan bahwa ini adalah mungkin karier saya, impian saya dan bulu tangkis tidak hanya sebagai hobi buat saya, tapi sudah menjadi profesi saya," lanjut Susi. Berpisah dengan orang tua adalah salah satu momen terberat untuk Susi Susanti. "Pada saat dalam proses menuju impian saya, bagaimana saya harus berpisah dari orang tua, saya harus mandiri," ucapnya. "Saya masuk asrama otomatis semua sendiri. Kalau dulu waktu di Tasik apa-apa ada Mama-Papa, lalu juga ada Mbak, semuanya terasa mudah. Tapi di saat saya masuk ke asrama tentunya sangat berbeda jauh. Saya harus mandiri."

Halaman
Show All
Bogi Triyadi, Harley IkhsanTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan