Kaleidoskop 2022: Piala Dunia Qatar Milik Lionel Messi

Piala Dunia 2022 memiliki bakat untuk menjadi edisi paling kontroversial. Di tengah masalah-masalah yang ada, Lionel Messi mempertegas klaim dirinya sebagai pemain terhebat sepanjang masa.

Diterbitkan 31 Desember 2022, 09:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Messi gagal membantu para seniornya itu saat ambil bagian di Piala Dunia 2006 dan 2010. Sosok kelahiran Rosario ini juga urung melakukannya saat berada pada usia emas dan memimpin La Albiceleste di 2014 atau 2018.

Baru di penghujung karier Messi bisa mewujudkan harapan. Dia membantu Argentina menaklukkan Prancis 4-2 (3-3) melalui adu penalti untuk merebut gelar ketiga sepanjang sejarah. Messi mencapai ini pada usia 35 tahun dalam penampilan terakhir di Piala Dunia.

"Ini adalah impian setiap anak-anak. Saya beruntung bisa memenangkan segalanya dalam karier. Tapi ada satu yang hilang," ungkap Messi, dilansir ESPN.

"Lihat dia, betapa indahnya! Saya sangat menginginkan trofi ini. Kami sempat menderita dalam perjalanan, namun akhirnya bisa mendapatkannya. Saya ingin menutup karier dengan trofi ini. Sekarang saya tidak bakal meminta apa-apa lagi. Terima kasih Tuhan yang sudah memberi semuanya," sambung Messi.

Peran krusial La Pulga Messi terlihat dari berbagai statistik. Dia tercatat cuma gagal menyumbang gol atau assist pada duel kontra Polandia di fase Grup C.

Performa tersebut berbuah sejumlah rekor. Messi mengukuhkan diri sebagai pemain pertama yang mencetak gol pada tiap fase Piala Dunia. Selain dua gol di final, sebelumnya Messi merobek gawang Arab Saudi dan Meksiko (grup), Australia (16 besar), Belanda (8 besar), serta Kroasia (semifinal).

Messi juga jadi pemain dengan jumlah pertandingan terbanyak di Piala Dunia. Melakoni 26 partai, dia mengungguli legenda Jerman Lothar Matthaus.

La Pulga turut menahbiskan diri sebagai pemain tersubur sepanjang masa Argentina di Piala Dunia. Sebelumnya tertinggal dari Gabriel Batistuta, dia kini unggul tiga angka atas sang legenda dengan total menciptakan 13 gol.

Pemain Paris Saint-Germain ini total mencetak tujuh gol di turnamen, hanya kalah dari striker Prancis Kylian Mbappe. Messi turut membuat tiga assist, tertinggi pada kategori statistik tersebut bersama empat pemain lain.

Gebrakan Maroko

Di balik aksi Messi, cerita besar lain hadir dari Qatar. Maroko mencatat sejarah dalam kondisi unik. Mayoritas dari anggota skuad lahir di negara lain, tepatnya 14 dari 26 orang. Daftarnya pun bukan sembarangan, melainkan pilar-pilar tim.

Yassine Bounou, yang sudah membukukan tiga clean sheet di Piala Dunia Qatar, lahir di Montreal, Kanada. Achraf Hakimi (Madrid) dan Munir Mohamedi (Melilla) lahir di Spanyol.

Kapten Romain Saiss (Bourg-de-Peage) dan Sofiane Boufal (Paris) lahir di Prancis. Sedangkan Noussair Mazraoui (Leiderdorp), Sofyan Amrabat (Huizen), Hakim Ziyech (Dronten), hingga Zakaria Aboukhlal (Rotterdam) lahir di Belanda.

Dari Belgia ada Selim Amallah (Hautrage), Ilias Chair (Antwerp), Bilal El Khannous (Strombeek-Bever), dan Anass Zaroury (Mechelen). Sementara Walid Cheddira lahir di Loreto, Italia.

Bersama putra-putra kelahiran Casablanca, Safi, Fes, dan Beni Mellal, mereka menciptakan sejarah menjadi wakil Afrika pertama yang mencapai semifinal Piala Dunia. Maroko melampaui capaian Kamerun (1990), Senegal (2002), dan Ghana (2010) yang terhenti di 8 besar.

Kumpulan diaspora ini bukanlah kacang yang lupa kulitnya. Ziyech dan kawan-kawan memaksimalkan keuntungan yang didapat dari negara kelahiran untuk kepentingan tanah leluhur.

Dalam hal ini bekal yang diterima adalah ilmu sepak bola. Harus diakui pembinaan sepak bola lebih baik di Eropa. Sistem di sana sudah berjalan mulus untuk melahirkan pemain-pemain terbaik.

Anak-anak keturunan Maroko berkembang di sana dan hasilnya terlihat di Qatar. 

Padahal, dengan pembinaan dan talenta yang dimliki, para diaspora Maroko sudah mendapat godaan untuk membela tanah kelahiran di pentas internasional. Ada banyak keuntungan juga yang didapat. Salah satunya berupa prestise. Dengan memperkuat negara Eropa, karier mereka otomatis turut terdongkrak. 

Beberapa diaspora itu bahkan sudah tampil bersama tim nasional junior negara kelahiran. Namun, ketika proposal sesungguhnya tiba, para diaspora Maroko memilih membela tanah leluhur.

"Meski lahir di Belanda, saya merasa sebagai orang Maroko. Banyak orang tidak mengerti perasaan yang saya punya," kata Ziyech saat memilih tim nasional, tujuh tahun lalu.

Seperti diketahui, FIFA mengizinkan pemain berganti haluan di level internasional, asalkan yang bersangkutan belum bermain di level senior. Maroko memaksimalkan itu untuk membangun timnas yang kini ditakuti.

Ikuti berita bola terbaru di Sport Liputan6

Halaman
Show All
Harley Ikhsan, Bogi TriyadiTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan