Cerita Mencekam Aremania Saat Terjebak dalam Kepulan Gas Air Mata di Stadion Kanjuruhan

Suporter terjebak dalam kepungan gas air mata, tak bisa keluar!

Diterbitkan 02 Oktober 2022, 11:30 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Bukannya reda situasi suporter malah makin tidak terkendali. Semakin banyak yang turun masuk ke lapangan. Pihak aparat melakukan berbagai upaya untuk memukul mundur suporter.

Menurut saksi mata ini, polisi melakukan sikap yang sangat keras terhadap para suporter yang membandel. Mereka memukulnya dengan tongkat panjang dan tameng, ada suporter yang dikeroyok, sampai tembakkan gas air mata.

"Tapi saat aparat memukul mundur suporter dari sisi selatan, suporter sisi utara yang menyerang ke arah aparat. Aparat menembakkan beberapa kali gas air mata," tulisnya.

"Terhitung puluhan gas air mata sudah ditembakkan ke arah suporter, di setiap sudut lapangan telah dikelilingi gas air mata. Ada juga yang langsung ditembakkan ke arah tribun penonton, yaitu tribun 10," tambah Reski.

Terjebak Kepungan Gas Air Mata

Situasi itu membuat suporter panik membuat situasi makin ricuh di atas tribun. Mereka berlarian mencari pintu keluar, tapi sayang pintu keluar sudah penuh sesak oleh penonton yang ingin melarikan diri.

Banyak ibu-ibu, wanita, orang tua dan anak-anak kecil yang terlihat sesak tak berdaya. Tidak kuat ikut berjubel untuk keluar dari stadion.

"Mereka juga terlihat sesak karena terkena gas air mata. Seluruh pintu keluar penuh dan terjadi macet," tuturnya.

Di dalam stadion mereka sesak karena gas air mata dari berbagai arah. Sedangkan upaya keluar pun tidak bisa karena sesak di pintu keluar.

Kondisi di luar stadion pun sangat mencekam. Tampak di luar stadion banyak yang terkapar dan pingsan karena efek terjebak dalam stadion yang penuh gas air mata.

Banyak suporter lemas bergelimpangan. Terdengar teriakan makian, tangisan wanita, suporter berlumuran darah, hingga mobil-mobil hancur.

Sekitar pukul 22.30 WIB masih juga terjadi insiden pelemparan batu ke arah mobil aparat. Suporter kesal karena aparat dianggap mengurung suporter di dalam stadion dengan puluhan gas air mata.

Dan tembakkan gas air mata pun kembali terjadi di luar stadion. Tepatnya di sekitar tribun 2 Kanjuruhan.

"Saya sudah dikenalkan ke Arema sejak 2007 oleh keluarga saya dan hari ini 1 Oktober 2022 adalah titik terendah saya menjadi seorang suporter," tuturnya.

"Saya sangat terpukul dengan adanya insiden ini. Dan semoga kejadian ini adalah yang terakhir di semua cabang olahraga dan hiburan, khususnya sepakbola."

Ikuti berita bola terbaru di Sport Liputan6

Halaman
Show All
Anry Dhanniary, Marco TampubolonTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan