Alasan Setiap Pemain Jerman Tak Sabar Ikuti Piala Dunia 2022

Wajar saja tak sabar karena setiap pemain bakal diguyur bonus melimpah, apalagi kalau sampai juara di Piala Dunia 2022 nanti.

Diterbitkan 27 September 2022, 00:01 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta Pemain timnas Jerman masing-masing akan menerima 400.000 euro (Rp 5,8 miliar) jika mereka mengangkat Piala Dunia 2022 di Qatar. Asosiasi Sepak Bola Jerman (DFB) menyetujui bakal memberikan bonus tambahan di turnamen tersebut.

Menurut media di Jerman, pemberian bonus untuk gelar juara naik dari 350.000 euro (Rp 5,08 miliar) di turnamen sebelumnya pada 2018, ketika Jerman tersingkir di babak penyisihan grup. Ketika Jerman memenangkan gelar di Piala Dunia 2014, para pemain menerima bonus masing-masing 300.000 euro (Rp 4,3 miliar).

Tak sampai di situ, DFB juga akan memberikan bonus pasti kepada pemain binaan Hansi Flick di Qatar nanti. Pemain otomatis menerima 50.000 euro (Rp 725,5 juta) ketika berlaga di penyisihan grup.

Jika lolos ke fase knock-out atau sampai delapan besar, DFB kembali mengguyur pemain Der Panzer dengan bonus mencapai 100.000 euro (Rp 1,4 miliar).

Jika terus melaju hingga menembus semifinal, maka setiap pemain Jerman akan mendapatkan 150.000 euro (Rp 2,1 miliar). Ketika hanya mentok di peringkat ketiga, DFB masih tetap memberikan bonus senilai 200.000 euro (Rp 2,9 miliar). Sementara pemain akan menerima bonus mencapai 250.000 euro (Rp 3,6 miliar) apabila kalah di final.

Info pemberian bonus itu tentunya dapat memotivasi perjuangan Thomas Mueller dkk. Sempat putus asa di edisi sebelumnya di Rusia, mereka kini siap menghadapi tantangan menjalani persaingan di Grup E bersama Spanyol, Kosta Rika, dan Jepang.

Turnamen dimulai pada 20 November dan Jerman membuka kampanye mereka melawan Jepang pada 23 November.

"Kami melakukan diskusi intensif dalam suasana yang baik dan konstruktif," kata Presiden DFB, Bernd Neuendorf, setelah pertemuan dengan perwakilan tim Manuel Neuer, Thomas Mueller, Joshua Kimmich, dan Ilkay Gundogan.

"Pada akhirnya kami telah menemukan solusi yang dapat diterima untuk semua orang."

Curhatan Hati Gareth Southgate di Laga Terakhir Sebelum Terbang ke Qatar

Pelatih Inggris, Gareth Southgate, mengatakan hal negatif ‘tidak sehat’ terhadap manajemennya. Dia mendesak fans Inggris untuk mendukung timnya menjalani pertandingan UEFA Nations League melawan Jerman, Selasa (27/9/2022) dini hari WIB.

Ikuti berita bola terbaru di Sport Liputan6

Lanjut Baca:

Penonton berkapasitas 90.000 orang diperkirakan akan hadir di Wembley untuk pertandingan terakhir Inggris sebelum Piala Dunia dimulai di Qatar pada November 2022. Inggris belum memenangkan satu pun dari lima pertandingan terakhir mereka. Kekalahan itu membuat Southgate dicemooh oleh para pendukung Inggris ketika mengakui kekalahan 1-0 dari Italia di Milan. Kritik itu menyusul teriakan "Anda tidak tahu apa yang Anda lakukan" dan "Anda akan dipecat di pagi hari" dari para penggemar Inggris di Molineux pada Juni ketika tim asuhan Southgate dikalahkan 4-0 oleh Hungaria, kekalahan terburuk mereka saat berstatus tuan rumah dalam 94 tahun. Inggris akan bermain di Wembley untuk pertama kalinya sejak Maret dan Southgate mengatakan pada konferensi pers: "Kami memiliki 90.000 orang -- stadion terjual habis - jadi orang ingin datang dan melihat tim ini bermain. “Itu karena para pemain telah melakukan pekerjaan yang luar biasa selama enam tahun. Kami berada di belakang waktu yang sangat sulit dalam hal hubungan dengan para penggemar di awal perjalanan dan perlahan-lahan kami telah membangun dengan penyelesaian yang telah dilakukan.” "Tentu saja, tidak sehat bagi tim untuk memiliki kebisingan di sekitar mereka. Saya sepenuhnya memahami itu. Tetapi, saya bertanggung jawab untuk membiarkan mereka pergi dan bermain. Saya ingin mereka merasakannya. Mereka tahu kami selalu membicarakan hal itu di sekitar tempat latihan, di lapangan latihan, dan saya akan mendesak para pendukung untuk mendukung tim (Inggris).” "Bagaimana mereka berurusan dengan saya di akhir atau kapan pun, di telepon atau di mana pun benar-benar berbeda. Tapi, ini adalah kesempatan terakhir mereka untuk melihat para pemain sebelum mereka pergi ke Piala Dunia dan kita semua ingin bersama-sama.” “Kami hanya bisa berhasil jika kami semua mendorong ke arah yang sama dan kami semua memiliki energi positif untuk melakukan dengan baik. Apa yang terjadi pada saya tidak relevan. Ini tentang tim. Yang paling penting adalah tim dan kesuksesan tim."

Halaman
Show All
Yulianto, Defri SaefullahTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan