Kisah Perjalanan Peserta Piala Dunia 1930 Menggunakan Kapal Pesiar

Perjalanan peserta Piala Dunia 1930 tidaklah mudah. Mereka harus mengarungi Samudra Atlantik untuk sampai di Montevideo, Uruguay.

Diterbitkan 12 September 2022, 06:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Panitia Pelaksana Piala Dunia Uruguay menyewa kapal laut SS Conte Verde untuk empat tim. Mengutip Clemente A.Lisi dalam A History of the World Cup: 1930-2010, kapal laut itu berangkat dari Genoa, Italia pada 20 Juni 1930 membawa timnas Rumania.

Tim yang dilatih oleh Costel Radulescu dengan kapten Rudolf Wetzer sebenarnya enggan berangkat. Mereka berat meninggalkan pekerjaannya, bermain sepak bola juga sekedar hobi.

Latihan di Dek

Namun, setelah mendapat titah dari Raja Karol II yang penggila bola, dan memberi jaminan tetap akan mendapat pekerjaan selepas Piala Dunia 1930, barulah tim mau berangkat ke Uruguay.

Keesokan harinya kapal tiba di Villefranche-sur-Mer, Prancis menjemput Jules Rimet, trofi Piala Dunia, tiga ofisial, dan timnas Prancis. Sebelum masuk Samudera Atlantik, Conte Verde mampir di Barcelona pada 22 Juni untuk menjemput timnas Belgia. Brasil menjadi tim terakhir yang dijemput Conte Verde pada 29 Juni saat merapat di Rio de Janeiro.

Selama perjalanan, keempat tim tak pernah berbicara soal taktik. Para pemain lebih banyak menggunakan dek kapal untuk berlari. Di dek bawah kadang stretching, melompat dengan kursi, dan alat-alat kebugaran lain di ruang gym.

"Tidak ada pembicaraan tentang taktik atau semacamnya di kapal. Kami hanya berlari di sekitar geladak kapal sepanjang waktu untuk berlatih," kata pemain Prancis, Lucien Laurent dikutip The Guardian.

Para pemain melakukan peregangan di dek bawah dengan melompat, berlari, menaiki tangga, serta mengangkat beban.

"Kami juga sering menggunakan kolam renang Conte Verde sebelum cuaca menjadi lebih dingin," tutur Lucien Laurent menambahkan.

Petualangan

Meski harus "terombang-ambing" di lautan selama 15 hari di atas kapal Conte Verde, Lucien Laurent menilai perjalanan tersebut sangat menyenangkan.

"Hiburan kami di atas kapal adalah pertunjukan komedi dan kuartet musisi alat musik gesek. Perjalanan itu seperti liburan," ujar Lucien Laurent yang menjadi pencetak gol pertama Piala Dunia 1930 pada laga pembuka melawan Meksiko.

"Kami tidak benar-benar menyadari alasan kami pergi ke Uruguay ketika itu. Tidak sampai bertahun-tahun kemudian, kami menghargai tempat kami (Conte Verde) dalam sejarah," ucap Lucien Laurent lagi.

Bagi Laurent dan pemain lainnya, perjalanan selama 15 hari itu sangat menyenangkan. Mereka anak-anak muda yang bersenang-senang dan menikmati petualangan. Akhirnya mereka tiba di pelabuhan Montevideo, Uruguay pada 4 Juli.

Ketika Rimet turun bersama empat tim peserta, sekitar 15 ribu warga tuan rumah menyambut meriah. Itu bentuk apresiasi terhadap kehadiran mereka di Piala Dunia 1930.

Lain lagi timnas Yugoslavia yang berangkat dari Marseille, Francis. Mereka datang dari Beograd dengan kereta api dari Beograd yang ditempuh selama tiga hari.

Yugoslavia baru mau berangkat jika disediakan kapal yang lebih mewah. Uruguay lalu menawarkan MS Florida, kapal pesiar yang lebih mewah.

Tim Terbaik

Banyak yang menilai Yugoslavia berleha-leha saja selama perjalanan. Kapal pesiar itu biasanya dinikmati oleh orang-orang kaya dengan fasiitas mewahnya. Terbukti, dengan kenyamanan sepanjang perjalanan, Yugoslavia menjadi wakil Eropa tersukses dengan menembus semi final.

MS Florida sendiri direncakan tak hanya membawa Yugoslavia, tapi juga Mesir sebagai wakil Afrika. Namun naas bagi Mesir, saat berangkat ke Marseille, kapal yang ditumpangi mengalami penundaan keberangkatan akibat badai.

Maka MS Florida berangkat hanya membawa Yugoslavia. Mesir mengirimkan pesan kawat ke panitia tuan rumah untuk meminta maaf, karena Piala Dunia 1930 berjalan tanpa wakil Afrika.

Bagaimana dengan timnas Amerika Serikat yang berangkat bareng dengan Meksiko? Mereka berangkat dengan SS Munargo dari pelabuhan Hoboken, New Jersey pada 14 Juni. Kapal itu lalu merapat di pelabuhan New York untuk menjemput timnas Meksiko. SS Munargo baru tiba di Montevideo pada 1 Juli.

Kedua tim mendapat fasilitas yang jauh dibandingkan Yugoslavia. Jangankan ada dek yang luas atau ruangan fitnes untuk berlatih, kondisi kamar mandi dan toilet dinilai buruk oleh pelatih Amerika Serikat, Robert Millar.

"Kami sebisanya berlatih di atas kapal. Tak hanya tanpa dek untuk berlatih, kondisi kamar mandinya begitu busuk," kata Millar.

Meski begitu, Amerika Serikat mampu mencetak sejarah dengan berhasil menembus babak semi final. Argentina kemudian mengkandaskan mereka.

Sedangkan Meksiko menjadi juru kunci di Grup 1. Tak sekalipun menang dari tiga laga menghadapi Argentina, Chile dan Prancis.

Ikuti berita bola terbaru di Sport Liputan6

Halaman
Show All
Yo Kavya, Harley IkhsanTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan