Mengenal Matheus Cunha, Pemain Incaran Terbaru MU: Minim Gol dan Punya Jejak Perilaku Buruk

Bukan rahasia lagi, MU kesulitan tanpa penyerang. Anthony Martial tengah berkutat dengan cedera, sementara Cristiano Ronaldo sepertinya mulai ogah-ogahan bertahan di Old Trafford.

Diterbitkan 16 Agustus 2022, 19:15 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Mantan manajer MU, Ralf Rangnick punya peran besar dalam mengorbitkan Cunha. Dia merupakan sosok yang membawa Cunha ke Jerman. Seperti diketahui, pria yang kini menangani timnas Austria itu sempat menjabat sebagai pelatih Die Roten Bullen--julukan RB Leipzig-- pada musim 2018-2019.

Bersinar di Level U-23

Meski memukau lewat gol fantastis ke gawang Leverkusen, pada kenyataannya Cunha hanya mencetak dua gol selama 18 bulan bermain di Liga Jerman. Kontribusinya lebih banyak di Europa League. Fans Celtic mungkin masih ingat kontribusi Cunha saat membawa Leipzig menang di Red Bull Arena.   

 

Cunha kemudian pindah ke Hertha Berlin pada pertengahan musim 2019-2020. Dia ikut membantu Berlin finis di posisi papan tengah. Tantangan bagi Hertha Berlin semakin berat di musim berikutnya. Namun 7 gol Cunha--setelah 5 gol musim sebelumnya--menjadikannya salah satu top scorer di tim. 

Di level timnas Brasil, Cunha bukan siapa-siapa. Dia sama sekali belum mencetak gol.

Hanya saja, performa Cunha sangat bersinar di level U-23. Dia mampu mencetak 21 gol, termasuk 3 gol pada Toulon Tournament 2019 dan 4 gol di Olimpiade Tokyo 2020 di mana Cunha mencetak gol pembuka bagi kemenangan Brasil melawan Spanyol di babak final. Duel ini berakhir 2-1.  

 

 

Komentar soal Cunha

Rangnick sangat mengenal Cunha. Menurutnya, dia adalah pemain yang brilian. 

"Kecepatan dan ancaman serangannya untuk anak seusianya sangat impresif dan dia akan cocok dengan filosofi kami," katanya seperti dilansir dari Mirror. 

Sayang, tidak semua berkomentar positif tentang Cunha. Bruno Labbadia, salah satu pelatih yang pernah menangani Cunha di Hertha Berlin justru pernah mengingatkan masalah perilaku Cunha. 

"Dia masih muda di usia 21, tetapi sesuatu harus segera berubah," kata pelatih asal Jerman itu.

"Itu tidak dapat diterima. Dia mengecewakan dirinya dan timnya dengan penampilannya. Sangat jarang saya melakukan hal seperti ini, tetapi saya akan mengatakannya dengan jujur: saya benar-benar tersinggung," ujar Labbadia menanggapi babak pertama yang buruk melawan Freiburg.

 

 

Mengaku Sudah Berubah

Cunha sendiri mengaku sudah berubah. Dia memperlihatkan itu lewat penampilan di lapangan. 

Permainannya meningkat. Dia mencetak enam gol di La Liga musim lalu. Dia juga percaya aspek lain dari permainannya telah mendapat manfaat selama bermain di Spanyol.

“Saya telah menjadi pemain yang lebih lengkap lagi,” katanya kepada Globo Esporte.

"Tingkat intensitas dalam permainan dan dalam latihan sangat tinggi. Kami selalu bekerja dan berlatih hingga batasnya. Itu membuatku berevolusi,” beber Cunha menambahkan. 

Ikuti berita bola terbaru di Sport Liputan6

Halaman
Show All
Marco Tampubolon, Harley IkhsanTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan