Buntut Kasus Doping, Rusia Terancam Dikeluarkan dari Olimpiade Musim Dingin?

Rusia tengah menghadapi seruan untuk dikeluarkan dari Olimpiade Musim Dirinya setelah membiarkan atletnya, yang tak lolos tes doping, berlaga di turnamen internasional.

Diterbitkan 15 Februari 2022, 16:05 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta Rusia tengah menghadapi seruan untuk dikeluarkan dari Olimpiade Musim Dingin 2022, setelah atlet mudanya Kamila Valieva diizinkan berlaga di turnamen tersebut.

Valieva merupakan atlet skating berusia 15 tahun yang menjadi bahan perbincangan lantaran dinyatakan positif menggunakan obat jantung Trimetazidine.

Obat tersebut sejatinya digunakan dalam pencegahan angina, tetapi masuk dalam daftar larangan WADA karena digolongkan sebagai modulator metabolisme jantung yang terbukti meningkatkan efisiensi fisik.

Valieva sempat diskors sementara, tetapi Badan Anti-Doping Rusia (Rusada) mencabut hukumannya dan mengizinkan sang atlet untuk lanjut bertanding di Olimpiade Beijing 2022.

Fakta diperbolehkannya Valieva berkompetisi, rupanya menimbulkan kehawatiran dari berbagai pihak. Dilansir dari Mirror, Kepala Badan Anti-Doping AS Travis Tygart menilai keputusan itu telah mendiskreditkan turnamen.

Lembaga independen Global Athlete (GA) juga menyebut kasus Valieva sebagai salah satu bentuk pelecehan terhadap anak di bawah umur. Oleh karena itu, negara yang terkait harus dilarang berpartisipasi dalam ajang olahraga internasional.

“Doping pada atlet minor (di bawah umur) harus dihentikan. Menempatkan risiko semacam ini pada anak berusia 15 tahun adalah hal yang tak bisa diterima. Negara mana pun yang secara sistematis memberi doping pada atletnya tidak boleh diizinkan berpartisipasi di olahraga internasional,” tuntut GA seperti dikutip dari Mirror.

Lebih lanjut, GA berpendapat, Valieva bisa saja tak berada dalam posisi ini jika Badan Anti-Doping Dunia (WADA), Komite Olahraga Internasional (IOC) dan CAS melarang keikutsertaan Rusia dalam turnamen olahraga global.

Pengajuan Banding

WADA sejatinya sempat mengajukan banding atas keputusan Rusada yang mengizinkan atletnya berlaga di Olimpiade Beijing. Akan tetapi, Pengadilan Arbitrasi Olahraga (CAS) menetapkan Valieva bebas bertanding.

Dilansir dari Mirror, keputusan tersebut diambil lantaran CAS tak mengerti alasan hasil tes positif Valieva baru terungkap setelah sang atlet memenangkan emas bersama timnya. Padahal, pengujian tersebut sudah dilakukan pada Desember lalu.

Respons WADA

Menanggapi hal ini, WADA menyalahkan pihak Rusia karena terlambat mengirimkan sampel analisis. Mereka juga menyiratkan penilaian bahwa Rusada tak mampu mengomunikasikan persoalan tes dengan benar.

Ikuti berita bola terbaru di Sport Liputan6

Lanjut Baca:

“Mengenai analisis sampel atlet, WADA selalu mengharapkan Organisasi Anti-Doping bekerja sama dengan laboratorium untuk memastikan mereka mempercepat (pengiriman) analisis sampel, sehingga hasilnya diterima sebelum atlet bepergian atau bertanding di acara besar,” ungkap WADA, mengutip Mirror. “Sampel dalam kasus ini tidak ditandai oleh Rusada sebagai sampel prioritas ketika diterima oleh laboratorium anti-doping di Stockholm, Swedia. Ini berarti, laboratorium tidak tahu (mereka harus) mempercepat analisis sampel ini,” sambung pihak WADA.

Halaman
Show All
Theresia Melinda Indrasari, Marco TampubolonTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan