Bola Ganjil: Konsekuensi Tergoda Uang, Kehormatan Pemain Dilucuti

Godaan finansial kerap membuat seseorang gelap mata. Mereka melupakan nilai-nilai yang dihormati di masyarakat.

Diperbarui 28 Desember 2021, 21:34 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Godaan finansial kerap membuat seseorang gelap mata. Mereka melupakan nilai-nilai yang dihormati di masyarakat.

Pesepak bola tidak luput dari itu. Gianluigi Donnarumma salah satu contohnya. Besar bersama Akademi AC Milan, dia diberi kepercayaan melakoni debut resmi di usia 16 tahun pada 2015.

Namun, Donnarumma sulit menunjukkan komitmen untuk I Rossoneri. Keengganan pertama terlihat saat kontraknya akan habis tahun 2018. Meski akhirnya meneken perjanjian baru, Donnarumma selalu mengindikasikan bakal meninggalkan San Siro.

Itu akhirnya jadi kenyataan pada 2021 dengan Donnarumma tidak menandatangani perpanjangan kontrak. Dia menolak tawaran yang diajukan manajemen AC Milan dan pergi ke klub Prancis Paris Saint-Germain.

Donnarumma hanya satu contoh kasus perilaku pesepak bola dalam menghadapi godaan uang. Hal sama sudah terjadi berpuluh-puluh tahun lalu, termasuk pada periode emas sepak bola Kolombia.

Beberapa pemain berbasis Inggris Raya meninggalkan kampung halaman karena iming-iming uang dari klub negara Amerika Selatan tersebut.

Namun, dengan memilih jalan itu, mereka harus menerima konsekuensi besar. Tidak hanya merogoh kocek, para terdakwa ini juga merasakan dampak lain.

Pulang Bangkrut

Billy Higgins tengah membangun reputasi bersama Everton ketika tergoda pinangan Millonarios FC. Dia mendapat seribu poundsterling dan upah 120 pounds per bulan ketika bergabung Mei 1950.

Namun, dia pulang lima bulan kemudian dalam keadaan miris. Tidak bahagia di Kolombia, Higgins hanya mengantongi 19 poundsterling ketika tiba di kampung halaman.

Dengan tampil di liga tidak resmi, Higgins kemudian dilarang bermain oleh FA. Hampir tidak ada klub yang menginginkannya, sebelum berlabuh ke klub Wales Bangor City.

 

Duo Stoke City

Kisah Neil Franklin dan George Mountford sama saja. Mereka meninggalkan Stoke City, Mei 1950, karena mendapat gaji 60 pounds per bulan serta bonus kontrak dua ribu pounds dari Independiente Santa Fe. Angka itu lebih dari empat kali lipat batas gaji maksimal di Inggris.

Pelatih Timnas Inggris Walter Winterbottom coba membujuk Franklin agar tidak pergi, tapi diabaikan. Awal kariernya di sana pun bagus.

Ikuti berita bola terbaru di Sport Liputan6

Lanjut Baca:

Namun, masalah berdatangan. Penerapan jam malam 18.30 membuatnya sulit bersosialisasi. Sang istri juga tidak mampu beradaptasi. Dia pun pulang pada Agustus. Di kampung halaman, Franklin dan Mountford merasakan amuk FA dan klub. Stoke membekukan Franklin tanpa batas waktu sebelum dijual ke Hull City pada Februari 1951. Mountford juga dikandangkan hingga September 1951, tapi masih bisa dipercaya membela Stoke. Dia dilepas ke Queens Park Rangers pada Oktober 1953.

Halaman
Show All
Harley Ikhsan, Marco TampubolonTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan