Pebasket Indonesia Ini Pernah Kerja Bareng Legenda NBA Yao Ming

Danny menuturkan pengalamannya bisa bekerja di Yao Ming Foundation beberapa tahun lalu.

OlehThomas
Diterbitkan 27 April 2021, 06:30 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Pria yang kini berusia 52 tahun itu pun menjelaskan lebih lanjut mengenai program Yao Ming Foundation yang merupakan gagasan Yao Ming langsung untuk mengenalkan olahraga basket di negerinya khususnya untuk pengenalan basket usia dini yang berjenjang mulai dari umur 8-16 tahun.

"Di negeri asalnya Yao Ming sangat dihormati dan menjadi salah satu pahlawan olahraga China yang sangat dikagumi mulai dari anak-anak sampai dengan orang dewasa. Yao Ming Foundation ada diseluruh provinsi China, saya melatih di district Shanghai setiap Sabtu Minggu (2 kali selama 1 bulan) dengan modul kepelatihan yang telah disusun oleh tim kepelatihan Yao Ming. Tidak ada latihan game, yang ada hanya latihan dasar, mulai dari passing, dribling, shooting dan fisik. Saya ditunjuk untuk melatih kelompok umur 12-16 putra putri, walau sesekali juga bersama staf pelatih lainnya melatih anak-anak usia dibawah 10 tahun," lanjutnya.

Tak Terlupakan

Kenangan menjadi pelatih di Yao Ming Foundation sangat membekas dalam dirinya. Mulai dari persoalan bahasa, jarak tempat latihan yang lumayan jauh yang ia harus tempuh, (4 kali transit Subway), termasuk juga harus berkorban membagi waktu luang dengan keluarganya. Meski begitu ia menjalaninya dengan senang. Baginya bisa berbagi ilmu dengan melatih anak-anak muda China sama halnya seperti ibadah, ditambah ia pun bisa bertemu langsung dengan Yao Ming menjadi salah satu kepuasan yang tidak terbayarkan.

"Tahun 2013 seluruh staff pelatih Yao Ming Foundation diseluruh provinsi China, diundang langsung oleh Yao Ming dalam acara Charity Fair di Kota Shanghai. Saya juga bisa mendapatkan sharing ilmu darinya. Yang mengesankan bagi saya sosoknya sangat ramah dan juga menghargai setiap pelatih yang ikut andil di yayasannya. Selain itu, murid-murid di Yao Ming Foundation attitudenya sangat baik, disiplin dan menghargai setiap pelatihnya. Kalau disini setiap orang tua tidak boleh menunggu anaknya selama latihan, jadi mereka hanya boleh mengantarkan anaknya sampai tempat latihan kemudian mereka harus pulang. Semua murid disana melahap latihan yang diberikan dengan serius dan tidak ada yang setengah hati. Walaupun Yao Ming Foundation merupakan CSR non profit, tapi keseriusan manajemennya patut diacungi jempol. Para murid mendapatkan rapot dan jika ada kekurangan dalam catatan para pelatih, mereka harus memperbaikinya. Terus terang saya kagum dan mungkin sedikit "iri" kepada China karena mereka sejak dini "mendoktrin" manusianya untuk unggul dalam dua hal; yang tentunya didukung 100 % oleh pemerintah yakni harus menjadi yang terdepan dalam Olahraga dan Ekonomi," paparnya

Sejak kembali dari China 2016, ia berharap setidaknya bisa berbagi pengalaman kepada pelatih muda dan insan komunitas basket tanah air, terutama dalam hal pengembangan basket usia muda. 

"Adanya DBL, Junior NBA, academy basket yang sekarang banyak bermunculan sebenarnya sudah sangat bagus untuk mengembangkan potensi basket usia muda di Indonesia. Tapi perlu juga didukung dengan pemerataan program kepelatihan untuk para pelatih muda dan wasit didaerah-daerah. Indonesia sebenarnya punya potensi yang sangat besar di basket Asia, tapi penekanannya harus dititikberatkan pada basket usia dini yang harus ditangani secara serius. Asal pemerintah memberi perhatian dan dukungan serius kepada olahraga pembinaan usia dini diseluruh Indonesia(khususnya cabang basket), niscaya akan lahir talenta-talenta seperti Yao Ming dari Indonesia, sama halnya yang dilakukan Yao Ming dengan CSR basketnya," pungkas Danny Duck.

Ikuti berita bola terbaru di Sport Liputan6

Halaman
Show All
Thomas, Defri SaefullahTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan