Karisma 5 Pelatih Lokal Ini Bikin Timnas Indonesia Disegani

Timnas Indonesia pernah dibesut sejumlah pelatih lokal top pada eranya masing-masing.

Diterbitkan 12 Juli 2020, 19:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Pemain-pemain legendaris Indonesia juga pernah dilatihnya, seperti Iswadi Idris dan Ronny Pattinasarani. Coach Witarsa dikenal memiliki tangan dingin untuk melahirkan pemain hebat.

Mantan striker Timnas Indonesia yang kini menjadi pelatih di Persita Tangerang, Widodo Cahyono Putro, merupakan intan terakhirnya. Ia tutup usia pada 2 April 2008 dalam umur 91 tahun.

Hingga kini tak ada yang memungkiri nama besarnya. Bahkan nama drg. Endang Witarsa tetap membekas dalam sejarah perjalanan sepak bola nasional.

Bertje Matulapelwa

Bertje Matulapelwa merupakan pelatih yang memberikan prestasi besar bagi sepak bola Indonesia. Ia mengantar Timnas Indonesia meraih medali emas SEA Games 1987.

Yang membuat raihan tersebut terasa sangat spesial adalah itu merupakan kali pertama buat Timnas Indonesia meraih emas cabang sepak bola SEA Games. Selain itu, kemenangan atas Malaysia di final sekaligus membalaskan kekalahan.

Performa menawan Timnas Indonesia pada SEA Games 1987 tak bisa dilepaskan dari pengaruh Bertje Matulapelwa. Om Bertje, begitu sapaan akrabnya, berhasil meramu kekuatan tiap individu pemain menjadi satu tim yang solid.

Pembentukan Timnas Indonesia saat itu tidaklah mudah. Adu gengsi antara pelaku kompetisi Galatama dan Perserikatan, membuat pelatih selalu kesulitan menggabungkan bakat-bakat terbaik yang berasal dari dua kompetisi tersebut.

"Pada era itu baik Galatama dan Perserikatan sedang bagus-bagusnya. Banyak pemain berbakat lahir dari kompetisi yang digelar reguler dengan persaingan tinggi," kata Rully Nere.

Kemampuan Om Bertje dalam meracik tim dari komposisi yang ada inilah yang membuat Timnas Indonesia mampu tampil solid. Saat itu, kepribadian tiap pemain memang sulit ditebak. Ada yang polos, ada pula yang menggebu-gebu.

"Kalau dengan Om Bertje latihannya lebih kepada kerja sama tim dan kolektif, sementara era Wiel Coerver fokus pada kemampuan individu," tegas Rully lagi.

 

Sinyo Aliandoe

Sinyo Aliandoe merupakan legenda Persija Jakarta dan Timnas Indonesia. Dalam dunia sepak bola, Sinyo tak hanya menjadi pemain yang luar biasa, tapi juga pelatih yang bertangan dingin. Ia menangani Timnas Indonesia yang nyaris saja lolos ke Piala Dunia 1986 di Meksiko.

Kala itu, Sinyo Aliandoe menjadi pelatih dan pada eranya berstatus juru taktik terbaik yang dimiliki oleh Indonesia. Pada media 1980, karena banyaknya agenda, Indonesia sampai menurunkan tiga tim nasional. Kardono yang menjabat sebagai Ketua Umum PSSI, membentuk timnas dari kompetisi Galatama, Perserikatan, dan ABRI.

Timnas dari Galatama turun di ajang bergengsi, yakni Pra Piala Dunia 1986. Sementara, timnas dari Perserikatan pada waktu yang sama tampil di Pesta Sukan I di Brunei Darussalam.

Sinyo Aliandoe ditunjuk menjadi pelatih timnas untuk Pra Piala Dunia 1986. Indonesia melangkah ke Kualifikasi Piala Dunia 1986 dengan bergabung di 3B AFC Zona B, bersama India, Thailand, dan Bangladesh.

Indonesia memulai pertarungan pada 15 Maret 1985 melawan Thailand dan menang 1-0. Pada laga berikutnya, Bambang Nurdiansyah dkk. mengalahkan Bangladesh 2-0. Indonesia menutup putaran pertama dengan menang atas India 2-1.

Pada putaran kedua, timnas Pra Piala Dunia 1986 yang mayoritas diisi pemain dari klub Galatama hanya ditahan imbang India 1-1. Dua laga lain berhasil dimenangkan, yakni versus Bangladesh (2-1) dan menang 1-0 atas Thailand. Hasil itu membuat Indonesia maju ke babak kedua sebagai juara grup.

Babak kedua Zona B AFC Kualifikasi Piala Dunia 1986 mempertemukan Indonesia dengan Korea Selatan. Indonesia kalah 0-2 pada pertemuan pertama, 21 Juli 1985 di Seoul. Kemudian pada pertemun 30 Juli 1985, Indonesia kalah 1-4 di Stadion Utama Gelora Bung Karno. Kalah agregat 1-6 membuat Indonesia harus mengubur impian menuju Piala Dunia.

Meski gagal, pencapaian Sinyo Aliandoe bersama Timnas Indonesia saat itu menjadi yang terbaik karena nyaris lolos ke Piala Dunia. Sebelum era Sinyo, Indonesia lolos ke Piala Dunia 1938 saat masih bernama Hindia Belanda, dilatih oleh Johannes Christoffel van Mastenbroek.

Benny Dollo

Benny Dollo merupakan seorang pelatih yang kerap mendapatkan kepercayaan untuk menangani tim sejak 1887. Pelita Jaya pada 1987 menjadi tim profesional pertama yang ditanganinya.

Kemudian Benny menangani Persita Tangerang, Persitara Jakarta Utara, dan Persma Manado, hingga akhirnya menangani Timnas Indonesia untuk pertama kalinya pada 2000.

Benny Dollo tercatat tiga kali menangani Timnas Indonesia, mulai dari 2000 hingga 2001, kemudian 2008 hingga 2010, dan yang terakhir menjadi pelatih interim pada 2015.

Bersama Timnas Indonesia, Benny Dollo mengantarkan Tim Garuda menjuarai Piala Kemerdekaan 2008 dan membawa timnya lolos hingga semifinal Piala AFF 2008.

Benny Dollo merupakan pelatih berkarisma. Hal tersebut benar-benar dirasakan oleh Firman Utina, mantan kapten Timnas Indonesia yang sejak awal kariernya kerap mengikuti jejak Benny Dollo.

Firman merupakan pemain yang diajak Benny berlatih di Persma Manado setelah ditolak mengikuti seleksi tim Pra PON Sulawesi Utara. Ketika Benny menangani Persita, Firman Utina pun diajak, bahkan Benny turun langsung menemui orang tua Firman untuk meminta izin.

Begitu pun ketika Benny menangani Arema pada 2004. Firman Utina pun tak lepas dari ajakannya.

Rahmad Darmawan

Rahmad Darmawan memulai karier kepelatihan sejak 1998, di mana ia menjadi asisten pelatih di Persikota Tangerang hingga akhirnya jadi pelatih kepala pada 2001. Masih bersama Persikota, RD dipercaya oleh PSSI untuk menjadi asisten pelatih Timnas Indonesia pada 2002.

Ia juga kembali menjadi asisten pelatih Timnas Indonesia pada 2011 dan pada saat yang bersamaan ditunjuk untuk menangani Timnas Indonesia U-23 yang mempersiapkan diri bertanding di SEA Games 2011, di mana Indonesia menjadi tuan rumah.

Rahmad Darmawan sukses mengantar tim Garuda Muda melangkah jauh. Berbekal pemain berbakat seperti Titus Bonai dan Patrich Wanggai di lini depan, serta Egy Melgiansyah dan Ramdani Lestaluhu di lini tengah, RD membawa Tim Garuda Muda mencapai final, sebelum akhirnya kalah dari Malaysia di laga puncak.

Sempat menangani Pelita Jaya dan Arema Cronus selepas mundur dari Timnas Indonesia U-23, RD kembali diminta untuk menjadi caretaker pelatih Timnas Indonesia pada 2013. Tak hanya itu, RD juga mendapat tugas memimpin lagi Timnas Indonesia U-23 di SEA Games 2013.

Lagi-lagi, RD mampu membawa timnya melangkah jauh di SEA Games 2013. Sayang, lagi-lagi pula RD hanya meraih medali perunggu seperti dua tahun sebelumnya. Kali ini Tim Garuda Muda kalah dari Thailand di laga final.

Namun, RD memang mampu membuktikan dirinya bukan pelatih sembarangan. Meski belum lagi mendapatkan kesempatan menangani Timnas Indonesia, pelatih yang juga mantan anggota Marinir itu tetap mendapatkan kepercayaan dari klub-klub level atas, seperti Sriwijaya FC hingga Madura United.

 

Disadur dari: Bola.com (penulis/editor, Benediktus Gerendo Pradigdo, published 12/7/2020)

 

Ikuti berita bola terbaru di Sport Liputan6

Halaman
Show All
Benediktus Gerendo Pradigdo, Achmad Yani YustiawanTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan