4 Hal Nyeleneh di Sepak Bola Indonesia, Tak Mungkin Ada di Negara Lain

Sepak bola Indonesia memiliki begitu banyak keunikan, berikut lima di antaranya.

Diterbitkan 14 Juni 2020, 20:15 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Jakarta - Sepak bola selalu menjadi olahraga nomor satu di Indonesia. Walau cukup lama kesulitan meraih prestasi, sepak bola Indonesia terus menjadi primadona.

Kegairahan dan fanatisme masyarakat Indonesia terhadap sepak bola tak perlu diragukan lagi. Stadion-stadion sepak bola masih penuh penonton di berbagai kasta kompetisi, dari level tertinggi hingga divisi bawah.

Kegairahan publik Indonesia akan berlipat-lipat saat Timnas Indonesia beraksi. Bukan hanya di level senior, bahkan turnamen di kelompok umur seperti U-19 hingga U-16 tetap mendapat atensi tinggi. Penonton rela berbondong-bondong datang ke stadion, demi melihat Merah Putih berkibar tinggi di pentas dunia.  

Turnamen sekelas tarkam alias antarkampung juga menjadi magnet besar. Penonton secara suka rela menyesaki sisi lapangan demi menyaksikan pertandingan yang kerap kali penuh kejutan. Bahkan, pesepak bola papan atas kadang-kadang ikut nongol di turnamen-turnamen kelas tarkam tersebut. 

Bicara fanatisme suporter, Indonesia memang tidak kalah dengan negara-negara kuat sepak bola di dunia. Namun, ada hal-hal unik yang kadang hanya bisa ditemui di sepak bola Indonesia.

Berikut 4 hal unik dan langka yang mungkin hanya bisa dijumpai di sepak bola Indonesia.

Demi Hemat Anggaran, Punya Tim Kandang dan Tandang

Klub asal Papua, Yahukimo FC, pernah memakai cara unik membentuk dua tim untuk menyiasati kekurangan dana dan materi pemain saat berlaga pada Divisi Utama 2015. 

Saat menjamu lawan atau berstatus memainkan laga kandang, mereka memakai Makassar sebagai markas tim. Begitu pula dengan pemain yang diturunkan, mayoritas asal Kota Daeng.

Sebaliknya, saat menjalani laga tandang, Yahukimo diperkuat pemain Papua.

"Kami menekan biaya operasional tim karena pemain asal Makassar, makan dan tidur di rumah almarhum bapak. Kami juga tak pusing soal latihan karena di Makassar banyak lapangan," papar Kiki Rivai, yang menjadi penanggung jawab Yahukimo FC saat itu, kepada Bola.com

Sangat kreatif kan?

Menghemat Ongkos, Transit di Luar Negeri saat Bertandang

Mahalnya harga tiket penerbangan domestik membuat Persiraja Banda Aceh harus terbang ke Kuala Lumpur, Malaysia, lebih dulu saat melakukan partai tandangnya pada Liga 2 2019.

Persiraja berada di Grup Barat Liga 2 2019. Dalam grup ini, hanya kandang PSMS yang bisa dijangkau melalui jalur darat.

Ikuti berita bola terbaru di Sport Liputan6

Lanjut Baca:

Peserta lain ialah Sriwijaya FC, BaBel United, PSPS Pekanbaru, Cilegon United, Persita Tangerang, Perserang Serang, PSCS Cilacap, Blitar United, Persibat Batang, dan PSGC Ciamis. Untuk bertandang ke markas 11 tim tersebut, Persiraja harus memutar otak agar tak boros. Presiden Persiraja, Nazaruddin alias Dek Gam, mengungkapkan besarnya biaya penerbangan yang ditanggung manajemen musim ini. Solusinya, Persiraja harus lebih dulu lewat Kuala Lumpur, sebelum masuk ke Indonesia lagi untuk jadwal tandang mereka. Karena dengan cara seperti ini biaya lebih hemat. “Sekarang, jika ke Jakarta, sekali pergi saja setiap pemain perlu biaya Rp 2,5 juta. Musim kemarin biaya segitu bisa untuk pulang-pergi. Jadi, kalau via KL kami bisa hemat 100 juta sekali pergi,” ujarnya. Karena rombongan Persiraja memasuki negara lain, maka ofisial dan pemain wajib punya paspor. "Lucu juga. Kami berkompetisi Indonesia dan main di Indonesia, tapi harus memutar dulu ke Malaysia. Ketika kami transit di KL, sering dikira Persiraja mau main di luar negeri," ucap pelatih Persiraja Banda Aceh, Hendri Susilo. Apakah hal unik seperti ini ada di negara lain? Mungkin, tapi sangat langka.

Halaman
Show All
Yus Mei Sawitri, Benediktus Gerendo Pradigdo, Jonathan Pandapotan PurbaTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan