Naik Turun Karier Bayu Gatra: Si Lincah yang Mulai Akrab dengan Bangku Cadangan

Karier Bayu Gatra tiba-tiba meredup pada 2019.

Diterbitkan 24 Mei 2020, 14:50 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Berawal dari Tarkam

Bayu Gatra tidak menimba ilmu sepak bola di Sekolah Sepak Bola (SSB) seperti kebanyakan anak-anak yang menyukai sepak bola. Ia justru belajar si kulit bundar secara otodidak.

Hasrat besarnya untuk mahir bermain sepak bola terinspirasi dari kehebatan sang ayah, Untung Supriadi. Semasa kecil, Bayu mengaku ayahnya itu adalah panutan di dalam maupun di luar lapangan.

Begitu menginjak Sekolah Menengah Pertama (SMP), anak dari pasangan Untung Supriadi dan Siti Kholifah mengikuti jejak sang ayah bermain antarkampung (tarkam). Ia punya alasan kuat di balik keputusannya bermain tarkam dalam usia yang sangat muda. Ia ingin meringankan beban orang tuanya dalam membiayai sekolahnya.

"Paling tidak, kedua orang tua saya tidak perlu kasih ongkos karena saya bisa dapat uang dari tarkam. Meskipun jumlahnya memang tidak besar waktu itu tapi cukup untuk keperluan sekolah," tutur Bayu,

Dengan bakat besar yang dimilikinya, Bayu kerap mendapatkan tawaran bermain tarkam. Ia pun tidak pilih-pilih dan menerima ajakan yang datang. Bayu yang ketika itu masih berusia belasan tahun harus menghadapi pemain yang usianya lebih tua darinya.

Bermacam-macam bayaran di turnamen ini pun pernah didapatnya. Mulai dari dibayar Rp 30 ribu dalam satu pertandingan, Rp 75 ribu, hingga Rp 250 ribu.

"Yang pasti bermain di tarkam juga mengasah mental saya. Dengan postur mungil saya harus berani berduel dengan pemain yang badannya lebih besar," kata Bayu.

"Di tarkam juga seringkali ada tekel-tekel berbahaya. Saat seperti itu lebih baik saya menghindar daripada terjadi yang tidak diinginkan," tuturnya seraya tersenyum.

Cedera Parah dan Masuk Timnas Indonesia

Setelah makan banyak asam garam di turnamen tarkam, Bayu Gatra lebih serius dalam menekuni kariernya. Ia menimba ilmu di Persid Jember dan kemudian hijrah ke Persekap Pasuruan pada 2008.

Kariernya yang mulai menanjak langsung meredup setelah dihantam cedera lutut parah pada 2010 lalu. Cedera yang memaksanya absen dari lapangan hijau sekitar satu tahun.

Saat itu, diakui Bayu merupakan momen paling buruk dalam karier sepak bolanya. Pasalnya, ia harus menepi dalam waktu lama dan bayang-bayang kariernya akan hancur sempat bikin Bayu frustrasi. Beruntung, rasa frustrasi itu tidak berlangsung lama.

"Dulu saya memang bandel, jarang salat. Saya juga sempat frustrasi, tapi sekarang bisa bangkit dan mendekatkan diri dengan Tuhan," kisah Bayu.

"Ini juga berkat dokter Tunjung yang memberi motivasi kepada saya tentang agama. Sekarang bagaimana caranya saya beribadah dengan tekun, salat yang tekun, dan sedekah," ia menambahkan.

Setelah pulih dari cedera, kariernya terus melesat. Berawal dari kesuksesannya membawa tim sepak bola Kalimantan Timur juara di PON 2012, Persisam Samarinda, yang sekarang menjadi Bali United, memboyong Bayu.

Setelah dipoles Rudy Keltjes di tim PON Kaltim, performa Bayu kian mengilap bersama Persisam yang ditukangi pelatih kawakan Sartono Anwar. Ia dipercaya ayah dari Nova Arianto itu mengisi pos sayap kanan tim yang bermarkas di Stadion Segiri, Samarinda itu.

Sepeninggal Sartono, pelatih Putra Samarinda lainnya, seperti Mundari Karya dan Nilmaizar tetap menempatkan Bayu sebagai pemain pilar dalam skuatnya. Berkat performa konsisten sejak berkostum Persisam pada 2011, panggilan memperkuat Timnas Indonesia U-23 pun datang.

Diakui Bayu, Rudy Keltjes dan Sartono Anwar punya peran penting dalam karier sepak bolanya. Rudy yang membina setelah Bayu pulih dari cedera, sedangkan Sartono pelatih yang memberikan kepercayaan kepada Bayu, pemuda yang kala itu baru berusia 19 tahun.

"Pak Sartono orangnya keras tapi mau mendidik saya. Sedikit demi sedikit kasih kepercayaan, saya bayar kepercayaan itu dengan prestasi," tutur Bayu.

Bayu menjadi bagian dari Timnas Indonesia U-23 di SEA Games 2013 dan Asian Games 2014, serta Timnas Indonesia di Piala AFF 2016.

Piala AFF 2016 adalah turnamen terakhir Bayu bersama Timnas Indonesia. Sejak saat itu, ia tidak lagi dipanggil karena kalah bersaing dengan pemain yang lebih muda.

Disadur dari Bola.com (Muhammad Adiyaksa / Benediktus Gerendo Pradigdo)

Ikuti berita bola terbaru di Sport Liputan6

Halaman
Show All
Muhammad Adi Yaksa, Jonathan Pandapotan Purba, Benediktus Gerendo PradigdoTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan