Studi: Trenggiling Merupakan Tersangka Utama Penyebaran Virus Corona Covid-19

Kelelawar awalnya dianggap sebagai tersangka utama bagi penyebaran virus corona model terbaru penyebab Covid-19.

Diterbitkan 27 Maret 2020, 13:10 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

"Jelas bahwa satwa liar mengandung banyak virus corona yang berpotensi muncul pada manusia di masa depan. Pelajaran penting dari pandemi ini untuk membantu mencegah yang berikutnya adalah bahwa manusia harus mengurangi paparan terhadap satwa liar, misalnya dengan melarang 'pasar basah' dan perdagangan satwa liar, " tulis Holmes dan tim dalam bagian kesimpulan makalahnya.

Kenapa Kelelawar Tersangka Utama?

Sebenarnya, hingga saat ini, para ilmuwan belum memastikan dari mana asal-usul virus pemicu COVID-19. Pembuktian harus dilakukan dengan mengisolasi virus yang hidup dalam spesies yang dicurigai. Itu sama sekali bukan pekerjaan gampang.

Namun, ada alasan untuk mencurigai kelelawar. Sebab, virus pemicu COVID-19 sebelumnya terlihat pada kelelawar tapal kuda (horseshoe bats) yang ada di China.

Temuan itu membuat para ahli bertanya-tanya, bagaimana penyakit itu berpindah dari komunitas kelelawar, yang jarang tersentuh manusia, hingga menyebar ke seluruh dunia.

Kelelawar adalah satu-satunya mamalia yang bisa terbang. Kemampuan itu memungkinkan hewan itu menyebar dalam jumlah besar di wilayah yang luas, demikian menurut para ilmuwan.

Itu berarti, mereka bisa menampung sejumlah patogen atau penyakit. Kemampuan terbang kelelawar membutuhkan aktivitas dalam jumlah besar, yang membuat sistem imun atau kekebalan tubuh hewan itu menjadi istimewa.

"Ketika terbang, suhu tubuh kelelawar memuncak, yang menyerupai demam," kata Andrew Cunningham, Profesor Epidemiologi Hewan Liar di Zoological Society, London kepada CNN.

"Hal itu terjadi setidaknya dua kali dalam sehari pada kelelawar, ketika mereka terbang mencari makan dan kembali ke sarang. Sejumlah patogen di tubuh kelelawar kemudian berevolusi untuk bertahan di tengah memuncaknya suhu tubuh itu."

Cunningham menambahkan, hal tersebut menimbulkan masalah ketika penyakit-penyakit itu melompat ke spesies lain.

Pada manusia, misalnya, demam adalah mekanisme pertahanan yang dirancang untuk menaikkan suhu tubuh yang bertujuan untuk membunuh virus.

Sementara, virus yang telah berevolusi dalam kelelawar mungkin tidak akan terpengaruh oleh suhu tubuh yang lebih tinggi.

Stres pada Kelelawar

Lantas, mengapa penyakit dalam tubuh kelelawar bisa hingga ke manusia.

Jawabannya, menurut Cunningham adalah 'limpahan zoonotik' (zoonotic spillover) alias transfer.

"Penyebab mendasar zoonotic spillover dari kelelawar atau spesies liar lainnya, hampir selalu bahkan bisa dipastikan mengarah ke perilaku manusia," kata dia. "Aktivitas manusia yang menjadi pemicunya."

Cunningham menambahkan, ketika kelelawar mengalami tekanan atau stres -- akibat diburu atau habitatnya dirusak oleh deforestasi -- sistem kekebalan tubuh hewan mendapat tantangan dan menemui kesulitan untuk mengatasi patogen, yang kemudian mengambil alih.

"Kami meyakini, dampak stres pada kelelawar sangat besar, seperti halnya pada manusia," kata Cunningham.

Stres memungkinkan infeksi meningkat dan akhirnya dilepaskan. "Seperti ketika seseorang sedang stres dan terpapar virus radang dingin, ia akan mengalami radang dingin." Hal serupa juga bisa terjadi pada kelelawar.

Terkait COVID-19, episentrum wabah diduga bermula dari sebuah pasar di Wuhan, Provinsi Hubei, di mana hewan-hewan liar dijajakan sebagai binatang peliharaan atau bahan makanan, percampuran spesies juga virus bisa terjadi.

"Ketika hewan-hewan itu dikirim atau dikurung di pasar, dekat dengan hewan lain juga manusia, ada kemungkinan virus-virus dilepaskan dalam jumlah besar," kata Cunningham.

Hewan Lain Rentan Terinfeksi

Tak hanya kelelawar, hewan-hewan lain juga lebih rentan terhadap infeksi dengan alasan yang sama: mereka stres.

Hal serupa diungkapkan Kate Jones, Ketua Bidang Ekologi dan Keanekaragaman Hayati di University College London.

Menurut dia, saat ini, tingkat pengangkutan hewan oleh manusia ada pada skala yang belum pernah terjadi sebelumnya. Tujuannya sangat beragam, penelitian, medis, peliharaan, juga bahan makanan.

"Kita juga menghancurkan habitat mereka menjadi lanskap yang didominasi manusia. Hewan-hewan campur aduk, dalam cara aneh yang belum pernah terjadi sebelumnya. Di pasar, misalnya, hewan-hewan dikurung dalam kandang dan ditumpuk satu sama lain." (Baca berita lengkapnya di sini)

Ikuti berita bola terbaru di Sport Liputan6

Halaman
Show All
Marco TampubolonTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan