Cerita Eks Bek AC Milan: Dari Mabuk-mabukkan hingga Bertaubat Usai Terkena Kanker

Francesco Acerbi tidak sampai satu musim membela AC Milan, karena kebiasannya mabuk dan sering telat datang latihan.

Diterbitkan 27 Februari 2020, 14:10 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Roma - Bek Lazio, Francesco Acerbi mengakui hidupnya berantakan pada awal kariernya. Ia mengatakan, "Saya sering datang ke latihan tim telat dan dalam kondisi nge-fly karena malam sebelumnya mabuk-mabukkan."

Dalam sebuah wawancara dengan L'Ultimo Uomo, Acerbi menceritakan perjalanan kariernya. Bek berusia 32 tahun itu tak canggung bercerita betapa gaya hidupnya semrawut dan melabeli dirinya 'tidak profesional'.

Acerbi menuturkan, keputusannya terjun di dunia sepak bola adalah karena sosok almarhum ayahnya. Ia juga mengakui jika ayahnya sering bertindak keras jika Acerbi muda tidak memperlihatkan grafik performa yang baik.

"Awalnya, saya bermain sepak bola karena ayah saya. Dia sosok yang perhatian, tapi mungkin terlalu berlebihan," buka Acerbi.

"Jelas sekali bahwa ayah saya sangat perhatian, bahkan melebihi diri saya sendiri. Terkadang dia begitu detail memperhatikan saya, sampai kalau dia mau saya meningkatkan performa, dia tak segan-segan melukai saya," katanya lagi menceritakan.

Acerbi tumbuh besar dalam didikan ayahnya yang keras. Soal sepak bola, ia memang menyukainya, namun secara tidak langsung, Acerbi merasa kalau menjadi profesional adalah keinginan ayahnya.

Tibalah ketika sang ayah meninggal dunia. Acerbi menjadi figur yang urakan dan tak tahu aturan. Ia mengakui dirinya bukanlah seorang profesional sebagaimana seharusnya.

"Ketika ayah saya tiada, saya tidak tahu untuk apa saya bermain sepak bola, jelas bukan buat saya sendiri. Saat itu, saya tidak ingin menjadi pemain profesional," katanya lagi.

"Saya tidak menghargai diri saya, saya tidak menghormati klub yang menggaji saya, saya sering datang telat ke latihan dalam kondisi lelah karena malamnya saya mabuk-mabukan."

"Secara fisik saya baik-baik saja, itu yang saya syukuri, saya memang selalu menjaga kondisi fisik saya agar tetap kuat. Saya kuat tidur selama beberapa jam saja, lalu langsung bertanding kemudian," ujarnya.

Video

Taubat karena Kanker

Menariknya, meski doyan minum-minuman keras hingga larut malam, karier Acerbi terbilang mulus. Tidak seperti beberapa pemain bintang dunia macam Adriano yang tiba-tiba meredup karena gaya hidup liarnya, Acerbi mampu menjaga konsistensi, terutama di atas lapangan.

Ikuti berita bola terbaru di Sport Liputan6

Lanjut Baca:

"Saya bukan tipe pemain yang takut ketika berhadapan dengan tim besar, bukan karena pemberani, tapi lebih kepada tidak peduli dan saya hanya ingin bersenang-senang," katanya menyambungi. "Ketika saya bergabung ke AC Milan, rekan saya bilang kalau manajemen klub tahu kebiasaan saya. Oleh karena itu, saya diberikan kediaman di Gallarate, bukan di pusat Kota Milan, tapi tetap saja saya bandel," ujarnya disertai tawa. Gallarate merupakan kawasan yang relatif jauh dari keramaian kota. Dengan hanya berpenduduk 54.000, Gallarate adalah daerah yang damai, tenteram, dan lebih cocok dijadikan area menghabiskan masa tua. Namun, seperti Acerbi ceritakan, ketidakprofesionalitasannya sulit disembuhkan. Ia tetap kerap melakukan tindakan indisipliner, bahkan Acerbi hanya bertahan di Milan tak sampai satu musim. Il Diavolo Rosso melepasnya ke Genoa pada pertengahan musim 2012-2013, lalu Acerbi dipinjamkan langsung ke Chievo Verona. Selesai masa peminjaman, tepatnya pada akhir musim 2012-2013, Genoa menjualnya ke Sassuolo jelang pembukaan Serie A 2013-2014, mungkin karena tidak kuat dengan tindakannya. Nahas, pada 2013 ia divonis menderita kanker. Vonis tersebut ia dapatkan saat baru saja hijrah menuju Sassuolo. Pada saat itulah hidupnya mulai berubah. Ia bersyukur Tuhan memberikannya penyakit mematikan tersebut karena dengan begitu ia kini lebih menghargai hidup. "Kanker adalah penyelamat saya. Saya bersyukur mendapatkan kanker. Saya tahu saya menderita kanker pada Juli 2013, tepat sesaat setelah saya pindah ke Sassuolo," kata Acerbi menjelaskan. "Satu tahun setelah saya divonis kanker, sesuatu menimpa saya. Satu malam saya terbangun dari tidur, saya dihantui perasaan aneh. Saya takut melihat bayangan sendiri. Tiba-tiba saya cemas akan banyak hal. Saya jadi memikirkan kesempatan hidup yang diberikan Tuhan kepada saya, atas waktu yang terbuang sia-sia, malam-malam yang lewat begitu saja." "Semuanya terjadi begitu saja. Saya kemudian pergi ke psikolog untuk mengatasi rasa takut yang saya dapatkan. Perlahan, saya memulai langkah baru sebagai lelaki seutuhnya. Saya membatasi karakter saya, yang baik dipertahankan, yang buruk dibuang." "Sekarang beginilah saya, masih diberikan kesempatan untuk bermain di salah satu klub terbaik Italia, di mana saya bisa saja bermain di Serie B, atau bahkan pensiun dini. Saya merasa ada orang di atas sana yang mencintai saya dengan memberikan saya penyakit kanker. Kalau tidak begitu, mungkin saya bisa berakhir dengan buruk," katanya memungkasi. Acerbi bertahan selama lima tahun di Sassuolo. Pada 2018, ia resmi bergabung ke Lazio hingga sekarang.

Halaman
Show All
Gregah Nurikhsani, Windi WicaksonoTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan