Benarkah Penyakit Lupus Menular Lewat Seks? Ini Faktanya

Penyebab penyakit lupus menular masih dipercaya hingga saat ini. Sejumlah orang mengira penyebab penyakit lupus menular melalui darah, seks, sentuhan, atau bahkan udara.

Diterbitkan 16 Februari 2020, 21:40 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Hormon

Lupus jauh lebih umum dialami wanita. Para peneliti menduga hormon wanita mungkin ada hubungannya dengan penyakit ini. Hormon yang dipercaya dapat memengaruhi lupus adalah estrogen.

Banyak wanita memiliki lebih banyak gejala lupus sebelum periode menstruasi atau selama kehamilan ketika produksi estrogen sedang tinggi. Namun, hubungan antara estrogen dan lupus masih memerlukan serangkaian pembuktian yang tepat.

Apakah penyebab penyakit lupus bisa ditularkan?

Faktanya, anggapan mengenai penyebab penyakit lupus menular adalah salah. Menurut lupus.org, Lupus tidak menular, bahkan melalui kontak seksual. Seseorang tidak dapat tertular lupus dari seseorang atau menularkan lupus kepada seseorang.

Lupus bukanlah penyakit infeksius yang disebabkan oleh agen biologi seperti virus dan bakteri. Lupus berkembang sebagai respons terhadap kombinasi faktor-faktor baik di dalam maupun di luar tubuh, termasuk hormon, genetika, dan lingkungan. Infeksi, sinar matahari, dan obat-obatan seperti anti-kejang atau obat tekanan darah semua berpotensi memicu lupus.

Gejala penyakit lupus

Dilansir dari Medical News Today, American College of Rheumatology menggunakan skema klasifikasi standar untuk mengonfirmasi diagnosis lupus. Jika seseorang memenuhi 4 dari 11 kriteria, dokter akan mempertimbangkan bahwa sesorang mungkin menderita lupus. Underdiagnosis dapat terjadi karena tanda dan gejala lupus tidak spesifik. Maka dari itu masih diperlukan serangkaian tes lagi untuk mendiagnosis penyakit lupus.

Berikut 11 kriteria penyakit lupus:

- Ruam malar: Ruam berbentuk kupu-kupu muncul di pipi dan hidung.

- Ruam diskoid: Peningkatan bercak merah timbul.

- Fotosensitifitas: Ruam kulit muncul setelah terpapar sinar matahari.

- Radang mulut atau hidung: Biasanya tidak menyakitkan.

- Artritis non-erosif: Tidak menghancurkan tulang di sekitar sendi, tetapi ada kelembutan, pembengkakan, atau efusi pada 2 atau lebih sendi perifer.

- Perikarditis atau radang selaput dada: Peradangan memengaruhi selaput di sekitar jantung (perikarditis) atau paru-paru (radang selaput dada).

- Gangguan ginjal: Tes menunjukkan kadar protein atau seluler yang tinggi dalam urin jika seseorang memiliki masalah ginjal.

- Gangguan neurologis: Orang tersebut mengalami kejang, psikosis, atau masalah dengan pemikiran dan penalaran.

- Gangguan hematologis (darah): Anemia hemolitik hadir, dengan jumlah sel darah putih yang rendah atau jumlah trombosit yang rendah.

- Gangguan imunologi: Tes menunjukkan bahwa ada antibodi terhadap DNA beruntai ganda (dsDNA), antibodi terhadap Sm, atau antibodi terhadap kardiolipin.

- ANA Positif: Tes untuk ANA positif, dan orang tersebut belum menggunakan obat apa pun yang dapat menyebabkannya.Namun, bahkan sistem ini terkadang melewatkan kasus awal dan ringan.

 

Anugerah Ayu Sendari/Rizky Mandasari)

Ikuti berita bola terbaru di Sport Liputan6

Halaman
Show All
Achmad Yani YustiawanTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan