4 Pelajaran Penting dari Ajang ONE Championship Fire & Fury

ONE Championship menggelar ajang kedua tahun ini bertajuk Fire & Fury di Filipina, akhir bulan lalu.

Diterbitkan 04 Februari 2020, 21:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - ONE Championship melangsungkan gelaran kedua 2020 di Mall of Asia Arena, 31 Januari lalu. Ajang bertajuk ONE: Fire & Fury ini menampilkan deretan aksi menawan atlet bela diri dari berbagai negara.

ONE: Fire & Fury menampilkan 11 duel. Terdapat empat laga yang mendapat sorotan, termasuk kebangkitan pendatang baru yang mampu mencuri perhatian di pentas global

1. Pacio Pertahankan Gelar Lewat Duel Klasik 5 Ronde

Laga utama yang mempertemukan Joshua "The Passion" Pacio menghadapi Alex "Little Rock" Silva berlangsung sengit dari detik awal hingga terakhir.

Duel perebutan gelar ONE Strawweight tersebut menjadi platform bagi dua seniman bela diri dengan gaya berbeda untuk membuktikan siapa yang terbaik.

Pacio, atlet Filipina yang dikenal akan strikingnya, menghadapi bintang Brasil Silva yang lebih agresif dalam duel ground. Tak ayal, jual beli serangan terjadi selama lima ronde sebelum Pacio dinobatkan sebagai pemenang dan sekaligus mempertahankan sabuk juara.

Sepanjang laga, atlet kebanggan tuan rumah itu membanjiri lawannya dengan tendangan, pukulan serta terjangan lutut. Di saat yang sama, Silva mengincar takedown untuk menjatuhkan lawan ke atas matras dan menerapkan kuncian.

Meski unggul dari segi striking, Pacio mampu mengimbangi lawannya ketika berduel ground dan bisa melepaskan diri dari belitan Silva yang kerap mengincar kuncian pada lutut serta lengan.

Akhirnya, laga berlangsung hingga bel terakhir berbunyi dan Pacio meraih kemenangan lewat split decision dari juri. Hasil ini menjadikan Pacio sebagai atlet pertama yang berhasil mempertahankan sabuk juara One Championship dua kali berturut-turut.

2. Buist Membungkam Suporter Manila

Pieter “The Archangel” Buist tampil di Manila dengan persiapan mepet. Dia baru mengetahui harus bertanding dua pekan sebelum ajang digelat. Ia dijadwalkan menghadapi atlet andalan tuan rumah Eduard “Landslide” Folayang untuk menggantikan atlet sebelumnya yang berhalangan karena cedera.

Meskipun tidak diunggulkan, atlet asal Belanda tersebut tampil trengginas dan berhasil memanfaatkan jangkauannya yang panjang untuk memperlebar jarak dengan mantan juara ONE Lightweight tersebut.

Folayang kerap menyerang dengan gaya sikut memutar, namun saat Buist berhasil menghindar, pertahannya menjadi terbuka. Itu memberikan kesempatan bagi Buist untuk menyerang balik lewat tendangannya.

Ikuti berita bola terbaru di Sport Liputan6

Lanjut Baca:

Buist juga sempat mencoba menerapkan kuncian guillotine choke dalam posisi berdiri. Namun, Folayang mampu melepaskan diri di tengah teriakan dukungan dari pendukungnya. Menjelang laga berakhir, Folayang tampil lebih agresif dengan melayangkan berbagai pukulan. Namun hingga laga berakhir, tak ada KO yang tercipta dan Buist pun dinobatkan sebagai pemenang melalui split decision dan meraih kemenangan ketiga secara beruntun di ONE Championship

Halaman
Show All
Harley Ikhsan, Edu KrisnadefaTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan