Persija Jakarta, Tempat Marko Simic Puncaki Karier

Persija Jakarta dan Marko Simic, telah berkomitmen untuk memperpanjang kerjasamanya hingga tiga tahun ke depan, yang sekaligus menepis rumor hengkang.

Diterbitkan 21 Desember 2019, 14:25 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

"Saya hanya bilang bahwa ini adalah puncak karier, dan sangat bangga saat ini. Sebelumnya saya sudah berdoa, dan berharap sejak lama dan akhirnya saya bisa tinggal di sini untuk tiga tahun ke depan. Tentunya ini sangat menyenangkan," kata Simic.

Konsisten Menjadi Mesin Gol Persija

Marko Simic datang ke Indonesia berbekal sembilan gol dari sembilan pertandingan bersama Melaka United, klub asal Malaysia. Sebelumnya, torehan gol eks rekan Dejan Lovren itu teramat meragukan.

Berdasarkan statistik Transfermarkt, striker berusia 31 tahun itu hanya sanggup mencetak 25 gol di delapan klub berbeda dari tahun 2006 hingga 2017. Bahkan pada musim 2016-2017, Simic hanya bermain satu kali buat Negeri Sembilan FA.

Kendati demikian, sama seperti jodoh, karier tak ada yang tahu. Indonesia seperti sudah berjodoh dengan Simic. Bergabung ke Persija tahun 2018, dengan bekal bermain di Asia yang minim, Simic langsung menjadi monster kotak penalti yang ditakuti di Liga 1.

Pada musim perdananya, ia sukses melesakkan 17 gol di Liga 1 saja. Di pentas Liga 1 2019, bukan penurunan yang ia tampilkan, namun justru peningkatan performa. Simic malah melesat menjadi top scorer sementara dengan torehan 28 gol dari 33 pertandingan Persija.

Simic sempat digunjang gosip yang menimpa dirinya dengan artis kondang Via Vallen. Ia juga harus menjalani pemeriksaan setelah dianggap melakukan pelecehan seksual di Australia. Namun, itu tak menganggu produktivitasnya di pertahanan lawan.

Sudah Nyetel dengan Gaya Bermain Persija

Saat bergabung dengan Persija, mungkin Simic ingung bagaimana bisa langsung nyetel dengan permainan Macan Kemayoran. Akan tetapi, kendala bahasa dan adaptasi bukan masalah besar buat skuat Persija.

Ditempatkan sebagai target man dengan sejumlah striker seperti Osas Saha, Rudi Widodo, dan Bambang Pamungkas, Simic menyita perhatian pelatih Persija kala itu, Stefano Cugurra Teco. Dengan taktik baru dan penambahan pemain lainnya, tak butuh waktu lama buat Simic nyetel dengan Persija.

Memasuki musim kedua, dengan minimnya perombakan di lini serang, Simic tak punya banyak pesaing di sana. Hengkangnya Renan Silva dan Bruno Matos membuat Simic selalu menjadi pilihan utama.

Persija memiliki Heru 'Hersus' Susanto. Akan tetapi, keduanya memiliki gaya bermain yang berbeda. Jika Simic merupakan target man dengan skill utama insting dalam menyelesaikan peluang, Hersus adalah striker eksplosif yang mau menjemput bola hingga ke dalam dan memulai serangan.

Performa Hersus juga sangat menjanjikan meski lebih sering tampil dari bangku cadangan. Musim depan bisa jadi Hersus bakal sering bermain sebagai tandem Simic, tergantung skema seperti apa yang akan dijalankan pelatih. Buat Simic, ini bukan masalah besar karena perbedaan tipe dengan Hersus.

Pada musim 2018 dan 2019, Simic selalu dimanjakan oleh umpan-umpan dari sisi lapangan. Keberadaan Novri Setiawan dan Riko Simanjuntak atau Ramdani Lestaluhu yang rajib memberikan servis kepada Simic juga sangat membantu.

Keikhlasan Bambang Pamungkas

Satu faktor lain adalah sudah ikhlasnya sang ikon Persija, Bambang Pamungkas. Ini mungkin bukan faktor kuat, bahkan tidak substansial sama sekali, tetapi setidaknya apa yang dikatakan striker yang akrab disapa Bepe itu mengesankan bahwa akhirnya sudah ada pengganti yang bakal melegenda lagi dengan balutan seragam berlambang Monas di dada.

"Kalau dibandingkan, cedera saya tahun ini lebih banyak dari sepuluh tahun terakhir. Saya pikir ini adalah saat yang tepat, dan kami punya Marko Simic yang merupakan salah satu striker terbaik di Indonesia saat ini." kata Bambang Pamungkas mengomentari keputusannya pensiun.

Disadur dari Bola.com (Gregah Nurikhsani/Benediktus Gerendo P., published 21/12/2019) 

Ikuti berita bola terbaru di Sport Liputan6

Halaman
Show All
Gregah Nurikhsani, Windi Wicaksono, Benediktus Gerendo PradigdoTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan