Sisi Positif-Negatif Timnas Indonesia U-22 Usai Gagal Raih Emas SEA Games 2019

Kekalahan tersebut membuat Timnas Indonesia U-22 hanya sanggup meraih medali perak. Ini merupakan kegagalan kelima Skuat Merah Putih pada final SEA Games.

Diterbitkan 11 Desember 2019, 13:35 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Keempat bek andalan Garuda Muda itu sebetulnya bermain bagus dan taktis. Sayangnya, akselerasi Asnawi dan Firza di posisi full back tak terlihat seperti biasanya, di mana keduanya gemar membantu penyerangan.

Performa impresif Asnawi pada laga-laga sebelumnya urung terulang pada laga kontra Vietnam. Agaknya, pelatih Vietnam, Park Hang-seo sudah memberikan instruksi khusus untuk mematikan sektor sayap Timnas Indonesia U-22 yang memang menjadi andalan dalam membangun serangan.

Lini Tengah

Cukup jelas, keluarnya Evan Dimas Darmono pada pertengahan babak pertama membuat lini tengah Timnas Indonesia U-22 tidak hidup. Tanpa mengesampingkan peran pemain lain, ketidakberadaannya memang mematikan kreativitas lini tengah Garuda Muda.

Penggantinya, Syahrian Abimanyu juga kesulitan mengembangkan permainan. Pun dengan Sani Rizki yang seperti kehilangan arah ketika rekan-rekannya sedang menguasai bola.

Singkatnya, permainan Skuat Merah Putih selepas Evan Dimas ditarik keluar tak berirama. Zulfiandi yang bertugas sebagai breaker dan penyeimbang di lini tengah juga seperti kebingungan tatkala Timnas Indonesia U-22 menjalani transisi dari bertahan ke menyerang dan sebaliknya.

Pada laga tersebut, Timnas Indonesia U-22 memang sanggup menguasai possession ball. Sayang, catatan itu terasa percuma karena buruknya output dari penguasaan bola tersebut.

Lini Serang

Permainan Timnas Indonesia U-22 pada laga semifinal begitu memanjakan, enak dilihat, dan sedap dinikmati. Itu tak lepas dari banyaknya serangan yang dihasilkan oleh Egy Maulana Vikri dkk.

Akan tetapi, itu tak terlihat lagi saat Merah Putih bersua Vietnam pada final SEA Games 2019. Osvaldo Haay malah lebih sering meluapkan emosinya ketimbang menciptakan peluang.

Keberadaan Witan Sulaiman juga tak berpengaruh banyak sepanjang babak pertama. Ekspolisivitas Saddil Ramdani juga jangan ditanya. Trio penyerang Timnas Indonesia U-22 pada laga tersebut, khusunya pada babak pertama seakan tak bertaji.

Egy kemudian dimainkan pada babak kedua. Akan tetapi, tak banyak yang bisa ia lakukan karena selalu mendapatkan pengawalan ketat pemain Vietnam.

Formasi 3-5-2 yang diterapkan Park Hang-seo membuat lini serang Timnas Indonesia U-22 tak berkutik. Ini menjadi pekerjaan rumah buat Indra Sjafri ketika bertemu tim dengan formasi tiga bek sejajar plus dua pemain sayap yang rajin membantu pertahanan dan lugas ketika menyerang.

Disadur dari: Bola.com (penulis Gregah, editor Aning, published 11/12/2019)

Ikuti berita bola terbaru di Sport Liputan6

Halaman
Show All
Gregah Nurikhsani, Adyaksa Vidi, Aning JatiTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan