Sukses

HEADLINE HARI INI:ELITE PARPOL DI PELANTIKAN PRESIDEN 2019, TAK SEKADAR MENYEJUKKAN TAPI MEREKATKAN

5 Fakta Menarik Julian Naglesmann: Kandidat Manajer Baru MU

Jakarta Manchester United (MU) tengah mengalami masa sulit di bawah kendali manajer Ole Gunnar Solskjaer. Setan Merah hanya meraih sembilan poin dalam delapan pertandingan terakhir dan bercokol di posisi ke-12 klasemen sementara Premier League 2019-2020.

Situasi tersebut membuat MU berada pada fase terburuk dalam 30 tahun terakhir. Kini, dengan jarak dua poin dari zona merah, membuat Setan Merah terancam terdegradasi ke Champoinship Division

Berlatar hasil buruk tersebut, posisi posisi Ole Gunnar Solskjaer di kursi kepelatihan MU semakin panas. Kabar beredar, petinggi Manchester United sudah menyiapkan beberapa nama pengganti Ole Gunnar Solskjaer sebagai nakhoda kapal MU.

 

2 dari 7 halaman

Sang Kandidat

Satu di antara nama yang mulai muncul ke permukaan adalah Julian Nagelsmann. Pria yang kini berstatus pelatih RB Leipzig tersebut memiliki kemampuan menghadirkan warna baru di kubu MU.

Pelatih asal Jerman tersebut sempat menyelamatkan TSG Hoffenheim, yakni keluar dari jerat degradasi. Selain itu, ia sanggup membawa klub yang bermarkas di PreZero Arena tersebut, bermain di Liga Champions.

Saat ini, Nagelsmann sedang menukangi RB Leipzig dan berusaha membawa klub tersebut bersaing di tangga juara Bundesliga musim ini. Berikut ini beberapa fakta menarik mengenai pelatih yang dijuluki sebagai ‘Mini Mourinho’ tersebut.

 

3 dari 7 halaman

1. Rekor sang pelatih muda

Julian Nagelsmann adalah pelatih termuda dalam sejarah Bundesliga saat dirinya berusia 28 tahun. Hal itu terjadi setelah Nagelsmann mengambil alih kursi kepelatihan Hoffenheim pada 11 Februari 2016.

Saat itu, Nagelsmann menggantikan Huub Stevens karena alasan kesehatan. Pada musim pertama membesut Hoffenheim, Nagelsmann mampu memberi tujuh kemenangan, dua kali hasil imbang dan lima kekalahan.

Berbekal torehan tersebut, Nagelsmann mampu menyelamatkan Hoffenheim dari jeratan degradasi. Nagelsmann juga menjadi pelatih pertama sepanjang sejarah yang membawa Hoffenheim berlaga di pentas Liga Champions pada 2017-18. Raihan tersebut diperoleh setelah Hoffenheim menempati posisi ke-4 Bundesliga pada musim sebelumnya.

 

4 dari 7 halaman

2. Pensiun dini karena cedera

Lahir di tanah Bavaria membuat Nagelsmann memulai karier sepak bolanya di akademi 1860 Munchen. Namun, Nagelsmann menderita cedera lutut setelah bergabung bersama tim muda Augsburg.

Hal itu yang membuat Nagelsmann memutuskan pensiun sebagai pemain sepak bola pada usia 20 tahun. Padahal, secara postur Nagelsmann memiliki postur ideal sebagai bek tengah, yakni tinggi 190 cm.

Sayang, ia tak pernah bisa 'mengalahkan' cedera yang menimpanya. Beberapa pihak menilai, seharusnya Julian Nagelsmann bisa memerpanjang masa karier andai tim dokter bisa sigap dan langsung mendapatkan perawatan memadai.

 

5 dari 7 halaman

3. Pernah dimentori Thomas Tuchel

Thomas Tuchel adalah sosok penting bagi karier Julian Nagelsmann di dunia kepelatihan. Saat itu, Thomas Tuchel masih melatih Augsburg, klub terakhir yang dibela Julian Nagelsmann.

Sejak Julian Nagelsmann mengalami cedera lutut dan harus gantung sepatu, Thomas Tuchel membantunya dalam menemukan sisi lain dari sepak bola. Tuchel meminta Julian Nagelsmann mengamati jalannya pertandingan.

Strategi dan taktik dipelajari Julian Nagelsmann di bawah arahan Tuchel. Meski tak pernah terbukti di lapangan, ia punya kecerdasan bak Jose Mourinho. Secara 'ajaib', Julian Nagelsmann sanggup menyerap dengan cepat pelajaran dari Tuchel.

 

6 dari 7 halaman

4. Tak gunakan media sosial

Sebagian besar orang yang berada di usia produktif memiliki akun media sosial. Namun, hal ini tidak berlaku bagi Julian Nagelsmann.

Arsitek tim RB Leipzig tersebut sama sekali tidak memiliki akun media sosial. Tidak lama setelah menjadi manajer Hoffenheim, Julian Nagelsmann langsung membuat akun Instagram dan Facebook.

Tidak menunggu lama, Nagelsmann langsung mendapatkan 42.000 pengikut akun media sosial miliknya. “Saat menjadi pelatih, Anda tidak perlu berselancar di media sosial," ungkap Nagelsmann.

 

7 dari 7 halaman

5. Gaya permainan yang efektif

Julian Nagelsmann kerap menggunakan formasi 3-4-1-2. Ketika menyerang, Nagelsmann mengandalkan area sayap dalam membangun serangan.

Operan cepat selalu menjadi makanan sehari-hari di lapangan bagi para anak asuhnya. Berbekal skema ini, sebuah tim mudah dalam melakukan serangan balik.

Pada skenario tersebut, butuh striker utama yang tajam dalam melakukan penyelesaian akhir. Skema ini cocok dengan Manchester United yang memiliki pemain yang cepat.

Namun, tidak adanya striker yang mematikan menjadi PR tersendiri bagi Nagelsmann dalam menerapkan skema ini seandainya mendapatkan kesempatan melatih Manchester United. (Bola.com/Tegar Juel)

Sumber: Bundesliga

Disadur dari Bola.com (Penulis Nurfahmi Budiarto, Editor Nurfahmi Budiarto, published 10/10/2019).

Loading
Artikel Selanjutnya
Scholes: Kehadiran Mata dan Fellaini Sinyal Kehancuran MU
Artikel Selanjutnya
6 Blunder Fatal Manchester United di Era Ed Woodward