Menakar Dampak Kehadiran 6 Pemain Naturalisasi di Timnas Indonesia

Pelatih Timnas Indonesia Simon McMenemy memanggil enam pemain naturalisasi. Seberapa besar efek yang bisa mereka berikan?

Diterbitkan 20 Agustus 2019, 13:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Jakarta - Timnas Indonesia mulai mengajak pemain asing untuk naturalisasi demi meningkatkan daya saing. Kebijakan ini mulai diterapkan pada 2010. 

 

Pola merubah kewarganegaraan seorang pemain agar bisa dimaksimalkan untuk membela Tim Merah-Putih mulai diretas PSSI di era kepengurusan Nurdin Halid jelang Piala AFF 2010. Cristian Gonzales jadi pemain pertama yang memiliki paspor Garuda. Sebelumnya ia berkewarganegaraan Uruguay. 

Semenjak El Loco, keran naturalisasi terbuka lebar. Misi mulia yang diusung pun bergeser. Sanking banyaknya pemain yang dinatiralisasi, banyak di antara mereka tak bisa ditampung ke timnas.

Entah sudah pemain asing yang berganti kewarganegaraan, namun tak terpakai di Timnas Indonesia. Tiga di antaranya ialah Jhonny van Beukering, Tonnie Cussel, dan Ruben Wuarbanaran.

Setelah dinaturalisasi pada medio 2010-an, batang hidung ketiganya lenyap bak ditelan bumi. Timnas Indonesia pun tak dapat keuntungan dari pergantian warga negara Van Beukering, Cussel, dan Wuarbanaran.

Kini, era pemain naturalisasi mulai bangkit. Sepeninggal Luis Milla Aspas, Simon McMenemy sebagai pengambil alih tonggak kepelatihan Timnas Indonesia banyak memanggil pemain naturalisasi ke dalam skuatnya.

Terkini, enam dari 24 pemain Timnas Indonesia yang dipanggil McMenemy untuk pemusatan latihan (training centre) menyambut putaran kedua Kualifikasi Piala Dunia 2022 berlabel naturalisasi. Nama Irfan Bachdim tak dicantumkan lantaran sang pemain telah memilih untuk menjadi Warga Negara Indonesia (WNI) ketika usianya menginjak 18 tahun.

Otavio Dutra

Otavio Dutra belum diambil sumpah WNI oleh Kementerian Hukum dan Ham (Kemenkumham), namun telah dipanggil beberapa kali oleh McMenemy.

Arsitek asal Skotlandia itu naksir berat dengan keahlian Dutra sebagai bek tengah. Buktinya, meski telah berusia 35 tahun, kemampuannya masih diakui oleh McMenemy.

Selain Dutra, McMenemy juga memasukkan Hansamu Yama, Yanto Basna, dan Victor Igbonefo di posisi bek tengah Timnas Indonesia.

Sudah hampir delapan tahun melanglang buana di Tanah Air, Dutra pernah dua kali menjadi juara Liga Indonesia bersama Persipura Jayapura (2013) dan Bhayangkara FC (2017). Wajar, McMenemy begitu tertarik dengan kapasitasnya.

Ikuti berita bola terbaru di Sport Liputan6

Lanjut Baca:

Bersama Persebaya di Shopee Liga 1 2019, Dutra adalah pilihan pertama. Namun, timnya tengah dilanda krisis. Tim berjulukan Bajul Ijo itu hanya meraih satu kemenangan dalam delapan laga terakhir. Di lini belakang, Dutra dapat dipasangkan dengan Igbonefo dan Yanto Basna. Agak riskan memainkannya bareng Hansamu Yama mengingat keduanya sedang dalam sorotan di Persebaya.

Halaman
Show All
Muhammad Adi Yaksa, Aning Jati, Ario YosiaTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan