HEADLINE: Timnas Indonesia Tak Berdaya di Piala AFF 2018, Apa Sumber Kegagalannya?

Timnas Indonesia gagal menembus semifinal Piala AFF 2018.

Diterbitkan 27 November 2018, 00:05 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Bima sendiri sejatinya bukanlah pilihan utama PSSI untuk menkhodai Tim Garuda di Piala AFF 2018. Awalnya, PSSI berharap Hansamu Yama dan kawan-kawan tetap akan didampingi pelatih asal Spanyol, Luis Milla, yang sempat menangani Indonesia di ajang SEA Games 2017 dan Asian Games 2018.

Namun, negosiasi kontrak lanjutan dengan Luis Milla menemui jalan buntu, sehingga PSSI memutuskan menunjuk Bima. Kebetulan, sebelumnya, Bima adalah asisten Luis Milla.

Maka itu, pemain-pemain yang dipanggil juga mayoritas merupakan mantan anak asuh Luis Milla di ajang SEA Games 2017 dan Asian Games 2018. Metode latihan dan strategi Luis Milla pun tetap dijalankan Bima Sakti.

Namun, ya itu tadi. Sentuhan tangan Bima ternyata belum terlalu dingin untuk memberikan prestasi. Bima sendiri bukan tak tahu dirinya jadi sorotan. Secara gentlemen, dia pun meminta maaf atas kegagalan ini.

"Mungkin yang pertama dari kami tim pelatih, ofisial, hingga para pemain meminta maaf atas pencapaian ini. Pasti semua sedih dan kecewa dengan hasil ini. Namun, ini bukan kiamat bagi sepak bola Indonesia. Ini menjadi koreksi dan titik kebangkitan kami," kata Bima.

 

Persiapan Singkat

Penunjukan Bima tentu bukan satu-satunya--jika mau dibilang--penyebab kegagalan Indonesia. Masa persiapan yang singkat, rasanya turut andil membuat Tim Merah Putih tak berdaya di Piala AFF 2018.

Menghadapi Piala AFF 2018 ini, Andik Vermansah dan kawan-kawan memang hanya diberi waktu efektif sekitar dua minggu untuk mempersiapnkan tim. Pasalnya saat Alfred Riedl membawa Indonesia ke final Piala AFF 2016, dia butuh lima sampai enam bulan menggelar persiapan.

Sebagai gambaran, Myanmar yang berada di Grup A, bahkan sempat menggelar pemusatan latihan di Qatar. Begitu juga Vietnam, yang memilih Korea Selatan sebagai tempat pematangan timnya. Tentu, sebelumnya, mereka telah terlebih dahulu menggelar latihan khusus di tanah sendiri.

 

Masalah Kompetisi

Hal lain, yang mendasar penyebab kegagalan Indonesia dan menjadi masalah klasik adalah masalah kompetisi domestik, terutama kompetisi yang berjenjang. Sudah menjadi rahasia umum, di Eropa sekalipun, yang maju prestasi sepak bolanya, memiliki kompetisi yang tertata rapi.

"Ke depannya, pembinaan usia dini harus diperhatikan karena ini sebagai fondasi timnas untuk masa depan. Saya pernah bertemu pelatih timnas U-19 Jepang. Dia mengatakan untuk mempersiapkan tim butuh tujuh tahun, dan enam di antarnaya mereka dibina di akademi," tutur Bima, yang kontraknya berakhir selepas kegagalan ini.

Sekiranya, hal itu kembali ditata, Bima yakin, Indonesia punya peluang kembali berprestasi. Sebab, Bima menyebut, nyaris tak mungkin, dalam sepak bola, mengharapkan hasil yang instan. "Negara-negara yang memiliki sepak bola maju selalu ada pembinaan sepak bola berjenjang sejak usia dini. Di Indonesia, tidak punya itu," kata Bima.

Yang jelas, kegagalan di Piala AFF 2018 menjadi pelajaran berharga bagi sepak bola Indonesia. Apalagi, dalam waktu dekat Indonesia sudah harus kembali tampil di ajang internasional.

Bukan timnas senior tentu saja, karena Tim Merah Putih memang tak tampil di Piala Asia 2019. Namun, ada dua ajang bergengsi level U-23 yang harus diikuti Indonesia: Piala AFF U-22 dan kualifikasi Piala Asia U-23 2020, Februari dan Maret 2019.

Bagaimana Tim Merah Putih?

Ikuti berita bola terbaru di Sport Liputan6

Halaman
Show All
Edu Krisnadefa, Irna GustiawatiTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan