Kolom: Copa America dan Misi Messi di New Jersey

Simak ulasan Asep Ginanjar soal peluang Messi juarai Copa America di New Jersey.

Diterbitkan 24 Juni 2016, 08:10 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Namanya Michael Soto. Dia bukanlah siapa-siapa. Hanya seorang remaja 16 tahun dari California. Tak banyak orang mengenalnya. Dia bukan pesohor, apalagi di dunia maya.

Baca Juga

  • Disindir, Rossi-Lorenzo Akhirnya Hadiri Rapat Pembalap MotoGP
  • Bintang Timnas Prancis Bikin MU dan Mourinho Gigit Jari
  • 10 Fakta Jarang Terungkap di Penyisihan Grup Piala Eropa 2016

Tengok saja follower akun Twitter-nya yang hanya 700.Namun, Rabu, 22 Juni lalu, tiba-tiba saja namanya menghiasi banyak media massa dan media sosial. Soto menjadi buah bibir karena tingkah gilanya saat laga semifinal Copa America di Houston antara Amerika Serikat dan Argentina. Follower-nya pun melonjak jadi lebih dari 2.500.

Sesaat sebelum wasit Enrique Caceres memulai babak kedua, Soto melompat dari tribun penonton. Dia berlari ke arah Lionel Messi. Begitu tiba di depan sang bintang, dia meminta jersey Argentina yang dipakainya dibubuhi tanda tangan. Setelah itu, dua kali dia menjura seperti tengah berada di depan raja atau bahkan dewa. Sebagai penutup, dia dua kali pula memeluk sang idola.

Meski harus digelandang pihak keamanan dan mendekam beberapa saat di tahanan, Soto girang tak kepalang. Meminta tanda tangan, menjura, dan memeluk Messi adalah impian terbesarnya. Dia sudah merencanakan secara matang aksinya di Houston tersebut.

Seorang fans Argentina turun ke lapangan hanya untuk memeluk Lionel Messi saat laga semifinal Copa America Centenario  2016 antara Argentina vs Amerika Serikat di Houston, Texas, Rabu (22/6/2016) WIB. (AFP/Omar Torres)

Ikuti berita bola terbaru di Sport Liputan6

Lanjut Baca:

Di Twitter, dia mengungkapkan persiapan dan perasaannya. Lalu, dia pun meminta seorang teman untuk menyiarkan langsung aksinya lewat periscope. Di dada dan perutnya, Soto juga menuliskan akun Twitternya. Begitu usai mewujudkan mimpinya, dia membuka baju dan memperlihatkan tulisan akun Twitter-nya itu. Di bionya, kini Soto mencantumkan nomor kontak bagi media yang ingin menghubunginya. Aksi Soto bukan hal mudah. Demi mewujudkan mimpi, dia harus mengatasi rasa takut yang luar biasa. Bagaimanapun, keselamatannya bisa terancam karena pihak keamanan tak akan mau mengambil risiko dan berkompromi terhadap aksi gilanya. Namun, demi sebuah mimpi, dia harus melawan itu semua dan tentu saja membuat perhitungan matang. “Lebih sulit dari yang kuperkirakan. Aku tegang. Tapi, aku tetap akan melakukannya,” kicau Soto di Twitter-nya sebelum beraksi. “Aku melihat ruang yang bisa kumanfaatkan. Aku harus menunggu. Ada banyak petugas keamanan.”Rindu Piala DuniaImpian bukan hanya milik striker tim amatir Temescal Canyon California tersebut. Sang idola, Messi, pun begitu. Kepada Sport Illustrated sebulan silam, La Pulga mengutarakan impian besarnya. “Di luar keluarga, tak ada hal yang bisa membuatku lebih bahagia selain menjuarai Piala Dunia 2018 bersama Argentina. Copa America pada musim panas ini adalah langkah penting menuju ke sana. Itu adalah kesempatan untuk menunjukkan bahwa kami mampu merebut trofi setelah 23 tahun lamanya,” ujar Messi.Pada Januari lalu, La Pulga bahkan mengungkapkan, siap menukar Ballon d'Or dengan trofi Piala Dunia. “Tentu saja aku lebih memilih juara Piala Dunia. Aku selalu mengatakan, prestasi tim lebih penting dari pencapaian-pencapaian individual. Piala Dunia adalah prestasi tertinggi yang bisa diraih seorang pemain,” papar La Pulga. Hingga saat ini, prestasi bersama Tim Tango hanya didapatkan Messi di tingkat junior. Dia juara Piala Dunia Junior 2005 dan merebut medali emas Olimpiade 2008. Adapun bersama timnas senior, belum satu pun trofi yang berhasil diraihnya. Dua tahun terakhir, kegagalan didapatkan di partai puncak. Di Brasil, dua tahun silam, Argentina ditekuk Jerman dalam laga final Piala Dunia. Tahun lalu, giliran Cile yang mencegah Messi juara Copa America. Tak bisa disangkal, kegagalan bersama Argentina itu membuat Messi belum paripurna. Tak heran pula bila masih ada yang menganggap Pele dan Diego Maradona masih lebih baik darinya. Ukurannya, Pele dan Maradona pernah mencecap manisnya juara Piala Dunia. Pele bahkan tiga kali merasakannya. Kegagalan demi kegagalan itu pun sempat membuat Messi dibenci orang-orang Argentina. Cacian dan makian terarah kepadanya. Mereka menilai Messi hanya bagus saat membela panji Barcelona. Namun, begitu mengenakan jersey Tim Tango, dia seperti Samson yang dicukur rambutnya. Sentuhan-sentuhan ajaibnya menguap begitu saja. Tekanan fans dan media massa yang luar biasa itu sempat membuat Messi frustrasi. Terutama usai kegagalan di Copa America 2011 di kandang sendiri. Messi sempat berpikir untuk tak lagi membela timnas Argentina. Itu tertuang jelas dalam biografinya, Messi, yang ditulis Guillem Balague. “Beberapa pekan setelah Copa America 2011, dia benar-benar mempertimbangkan untuk tak kembali ke timnas. Tapi, seiring berlalunya waktu, dia sampai pada simpulan yang sama: dia harus menerimanya, harus belajar menerima hal tersebut. Itu adalah harga yang harus dibayar karena dia adalah yang terbaik,” urai Balague.

Halaman
Show All
Defri SaefullahTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan