[KOLOM] Saat Sepak Bola Harus Sempurna

Simak ulasan Asep Ginanjar soal kesempurnaan di sepak bola modern.

Diterbitkan 04 Maret 2016, 08:10 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

ELIMINASI KONTROVERSI

Atas nama kesempurnaan itu, sepak bola pun harus bersih dari kontroversi. Apalagi jika itu menyangkut persoalan gol atau tidak gol. Bagaimanapun, gol dan kemenangan amat penting dalam bingkai bisnis sepak bola. Kemenangan berarti uang yang lebih banyak.

Tak boleh lagi ada phantom goal seperti yang dicetak Geoff Hurst di final Piala Dunia 1966. Juga tak boleh ada lagi insiden tendangan Frank Lampard ke gawang Jerman di Piala Dunia 2010 yang tak disahkan menjadi gol.

Juli 2012, seiring putusan International Football Association Board (IFAB) memasukkan goal-line technology (GLT) ke dalam Laws of The Game, phantom goal dipastikan enyah dari pentas-pentas penting sepak bola. Di antaranya turnamen-turnamen yang dihelat FIFA dan beberapa liga, yakni Premier League, Serie-A, Bundesliga, dan Ligue 1.

Teknologi Garis Gawang (YASUYOSHI CHIBA / AFP)

GLT tak serta-merta membuat sepak bola benar-benar sempurna. Masih ada hal lain yang mengganjal, terutama menyangkut offside dan pelanggaran –termasuk di dalamnya soal diving. Di Jerman, musim ini saja banyak klub yang mencak-mencak karena putusan keliru soal dua hal itu. Beberapa kali pula wasit meminta maaf karena telah keliru dalam mengambil putusan.

Insiden paling menarik tentu saja saat wasit Felix Zwayer melakukan walk out saat memimpin laga Bayer Leverkusen kontra Borussia Dortmund, 21 Februari lalu. Zwayer melakukan hal itu karena pelatih Leverkusen, Roger Schmidt, tak mau meninggalkan lapangan setelah diusirnya.

Schmidt berkeras tak mau meninggalkan lapangan karena menilai Zwayer menzalimi timnya. Dia kesal gara-gara Zwayer membiarkan pelanggaran terhadap Stefan Kiessling yang kemudian menjadi titik awal gol Dortmund lewat serangan balik cepat.

Insiden tak berhenti di sana. Usai laga, Rudi Völler, Direktur Olahraga Leverkusen, meledak karena Zwayer tak memberikan penalti saat bek Dortmund, Sokratis Papastathopoulos, handball di kotak penalti. Menurut Völler, itu adalah “balas dendam” Zwayer terhadap Schmidt.

Rudi Voller saat protes keputusan wasit di laga melawan Borussia Dortmund (Reuters)

Insiden ini memperkuat desakan penggunaan rekaman video dalam pertandingan sepak bola. Sejak tahun lalu, Jerman sudah siap menguji coba hal tersebut andai FIFA memberikan lampu hijau. Hellmut Krug selaku pakar perwasitan Deutscher Fussball Liga (DFL) menilai bantuan video sebagai keharusan.

Akhir pekan ini, kepastian mengenai hal itu akan didapatkan Krug dan pihak-pihak lain yang sudah jengkel oleh keterbatasan wasit. Di Cardiff, Wales, 5 Maret 2016, penggunaan bantuan video untuk wasit termasuk dalam agenda rapat umum tahunan IFAB.

MENGEBIRI PERAN WASIT

Di satu sisi, penggunaan perangkat teknologi canggih sangat positif dalam menjamin tercapainya permainan yang benar-benar bersih dan adil. Namun, pelbagai teknologi itu secara nyata mengebiri peran wasit.

Broadcast Solutions, sebuah perusahaan asal Jerman yang berbasis di Bingen, bahkan sudah memiliki gambaran lengkap. Peran wasit nanti bisa diambil alih tiga teknologi, yakni rekaman video, sensor pemain, dan pelacak gerakan.

Meski demikian, Sandro Glanzer selaku Direktur Pemasaran Broadcast Solutions, membantah anggapan teknologi bisa sepenuhnya menggantikan wasit. Keberadaan wasit tetap diperlukan, terutama dalam melakukan penilaian terhadap situasi-situasi di lapangan, memberikan peringatan, dan menjatuhkan hukuman.

Wakil Presiden FIFA, Jim Boyce menegaskan praktik diving atau berpura-pura jatuh sebagai kanker dalam olahraga sepak bola.Jikapun ada yang tereliminasi dari lapangan, itu adalah kelicikan. Para pemain akan berpikir ulang saat hendak menceploskan bola ke gawang dengan tangannya.

Demikian pula kala akan menjatuhkan diri secara dramatis di kotak penalti lawan. Bahkan, sangat mungkin tak akan ada lagi offside man, pemain yang bermain-main di garis offside dan berharap wasit mengambil putusan keliru.

Pelbagai teknologi itu pun sudah barang tentu mengurangi unsur “human” dalam sepak bola. Padahal, sejatinya, itu adalah bagian yang paling menarik.

Banyak kisah seputar sepak bola yang demikian populer justru menyangkut kekeliruan wasit. Sebut saja Phantom Goal Hurst, Hand of God Maradona, hingga laga kontroversial Korea Selatan kontra Italia di Piala Dunia 2002.

Satu lagi, sepak bola akan lebih mahal. Bagaimanapun, butuh biaya besar untuk menerapkan teknologi-teknologi baru tersebut.

>Teknologi garis gawang akan dipergunakan di Piala Eropa 2016. (AFP/John MacDougall)

Untuk instalasi GLT saja, klub-klub di Jerman dan Inggris setidaknya merogoh kocek tak kurang dari Rp4,5 miliar. Bila tak diintegrasikan dengan GLT, tentu biaya untuk teknologi deteksi offside dan pelanggaran tak kalah besar.

Kesederhanaan, kenakalan dan kelicikan pemain, serta keterbatasan wasit nantinya hanya akan ada di sepak bola pinggiran. Sepak bola yang dimainkan oleh anak-anak di lapangan becek atau berdebu.

Persis seperti sepak bola yang dimainkan Pele dan Cerezo saat masih kecil dulu. Juga di pentas-pentas sepak bola amatir. Di sepak bola profesional, apalagi di pentas-pentas besar, sepak bola haruslah sempurna.

*Penulis adalah pemerhati sepak bola yang kerap menjadi komentator di beberapa televisi swasta nasional. Penulis juga pernah jadi jurnalis di Tabloid Soccer.

Ikuti berita bola terbaru di Sport Liputan6

Halaman
Show All
Defri SaefullahTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan