Sejarah Sepak Bola dan Kisah Leher yang Tergorok di Roma

Inggris dikenal sebagai pelopor sepak bola modern, namun penemu olahraga ini masih tetap diselimuti misteri.

Diterbitkan 15 Februari 2016, 12:30 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Seiring makin populernya olahraga ini, pejabat kerajaan mulai menata permainan dengan melibatkan pemain profesional. Seperti sekarang, pemain cuju juga diperbolehkan menyentuh bola dengan bagian tubuh mana pun kecuali lengan dan tangan. Peran wasit bahkan sudah dilibatkan untuk memastikan para pemain menaati peraturan.

Meski demikian, sepak bola Tiongkok belum membatasi jumlah pemainnya. Satu tim bisa terdiri atas 2 hingga 10 pemain. Namun, bila turnamen diselenggarakan oleh kerajaan, satu tim biasanya terdiri atas 12 hingga 16 pemain. Siapa pun bisa bergabung dalam sebuah tim, baik pria maupun wanita.

Kemenangan tidak hanya ditentukan oleh jumlah gol. Dalam beberapa pertandingan, kemenangan juga ditentukan oleh cara bermain sebuah tim.

Contohnya, tim yang pemainnya mengumpan terlalu dekat atau menendang bola keluar lapangan bakal dikenai penalti pengurangan poin. Dan tim yang paling sedikit mendapat pengurangan poin akan keluar sebagai pemenang.

Popularitas sepak bola Tiongkok mulai menurun sejak pertengahan abad ke-17. Namun tetap saja ada yang memainkannya sehingga jejak sejarahnya membekas hingga saat ini.

Korban Berjatuhan

Pada periode yang hampir bersamaan saat Cuju populer di Tiongkok, Roma, juga menikmati olahraga ini dengan versi berbeda. Di negeri para gladiator ini, sepak bola sama sekali tidak mengenal aturan, strategi, ataupun taktik. Di Roma, sepak bola diikuti 54 orang yang dibagi menjadi dua tim. Tujuannya hanya satu: mencetak gol sebanyak-banyaknya ke gawang lawan.

Saking populernya, olahraga ini bahkan sempat dimainkan di awal Olimpiade. Tanpa aturan dan jumlah pemain yang banyak, bisa ditebak, selalu banyak pemain yang cedera selama pertandingan.

Sepak bola di Inggris pada zaman dahulu kala kerap berakhir dengan keributan

Selain dimainkan di lapangan, Roma juga mengenal sepak bola jalanan. Politikus dan orator Roma, Cicero, menuliskan bahwa sepak bola jenis ini lebih banyak dimainkan oleh anak-anak muda zaman itu. Mereka akan berlari sepanjang jalan sembari menendang bola ke sana kemari.

Cicero juga menuliskan bagaimana satu kecerobohan pernah menyebabkan kematian dalam permainan ini. Bukan pemain yang menjadi korban, tetapi warga yang sedang memotong rambut.
Insiden bermula saat sekelompok pemuda bermain sepak bola di jalanan kota.

Seorang pemain tanpa sengaja menendang bola dan mengenai tukang pangkas yang tengah mencukur seorang pelanggan. Bola mengenai tangannya dan pisau yang dipegangnya tanpa sengaja menggorok leher pelanggannya.

Sepak Bola Abad Pertengahan

Bisa dibilang masyarakat Inggris-lah yang masih setia memainkan olahraga ini di abad pertengahan. Bentuk sepak bola yang populer di Inggris pada pertengahan abad ke-14 dikenal dengan sebutan sepak bola mafia. Diikuti pemain yang tidak terbatas jumlahnya dan belum mengenal aturan baku. 

Saat itu, pemain diizinkan untuk terus bermain sejauh tidak mengarah ke pembunuhan. Mereka memainkannya di jalanan dan mengubah kota menjadi lapangan raksasa. Dengan pemain yang tidak terbatas dan aturan yang minim, permainan ini juga kerap berujung kerusuhan. Para pedagang yang berjualan di pasar dan warga yang berada di lokasi tak jarang ikut menjadi korban.

Akibatnya, para penguasa Inggris berusaha melarangnya. Namun saking populernya, permainan tidak berhenti sepenuhnya. Hingga akhir abad ke-14, permainan ini semakin merasuk lebih dalam ke kebudayaan Inggris.

Era Sepak Bola Modern
Popularitas sepak bola di Inggris semakin tak terbendung. Anak-anak muda di sana kian gandrung mengikutinya. Namun minimnya aturan permainan membuat olahraga ini menimbulkan banyak cedera dan keributan.

Kejadian inilah yang kemudian melandasi para pemilik klub menciptakan aturan yang mengutamakan kejujuran dan keadilan. Ini juga yang menjadi tonggak peraturan sepak bola yang berlaku saat ini. Besarnya keinginan untuk membuat aturan ini membuat klub di abad ke-19 duduk bersama dan membentuk Asosiasi Sepak bola (FA).


FA Cup merupakan turnamen sepak bola tertua di dunia
Memasuki tahun 1860, peraturan sepak bola untuk menghindari kericuhan di lapangan mulai dibuat. Tapi ada satu masalah, setiap klub atau kota ternyata punya aturan sendiri. Akibatnya ketika dua tim yang berbeda wilayah bertemu, sering tejadi pertengkaran mengenai aturan yang akan digunakan.

Bagaimanapun, situasi tersebut akhirnya bisa diredam pada tahun 1863 ketika 12 klub London bertemu untuk membahas aturan permainan.

Klub-klub ini kemudian membentuk badan yang disebut The Football Association (FA), dan menggelar FA Cup yang masih populer hingga kini.

Dari Inggris, aturan ini dengan mudah menyebar ke negara-negara Eropa lainnya seperti Spanyol, Prancis, Belanda, dan Swedia. Akhirnya, negara-negara ini berkumpul untuk membentuk badan sepak bola yang akan mengawasi pertandingan internasional dan terbentuklah FIFA. FA sendiri punya andil yang sangat besar bagi penyebaran sepak bola ke seluruh dunia.

Ikuti berita bola terbaru di Sport Liputan6

Halaman
Show All
Marco Tampubolon, Edu KrisnadefaTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan