Sejarah Sepak Bola dan Kisah Leher yang Tergorok di Roma

Inggris dikenal sebagai pelopor sepak bola modern, namun penemu olahraga ini masih tetap diselimuti misteri.

Diterbitkan 15 Februari 2016, 12:30 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Setiap jenis olahraga punya sejarah masing-masing. Namun tidak satu pun dari semua itu yang semenarik sejarah sepak bola.

Melacak jejak sejarah sepak bola adalah ironi, mengingat popularitasnya yang terus melambung tapi, penemunya masih diselimuti misteri hingga kini. Sejarawan telah berusaha menggali asal-usul sepak bola, tapi belum menemukan siapa dan kapan tepatnya olahraga ini mulai dimainkan.

Sejarawan lalu menelusurinya lewat jejak budaya di mana olahraga ini mulai dimainkan secara beregu.  Dari pendekatan ini, asal-usul sepak bola dibagi jadi dua bagian. Pertama, zaman kuno pada era tahun 4500 lalu dan kedua, era modern yang melandasi langsung persepakbolaan saat ini.

Sepak Bola Kuno
Artefak dan kebudayaan kuno yang ditemukan para sejarawan menjelaskan bahwa sepak bola telah dimainkan di Mesir, Tiongkok, dan Italia. Prinsip dasar pemainan bertahan selama bertahun-tahun, dan terus berlanjut hingga abad pertengahan.

Bola yang terbuat dari linen ditemukan di Mesir pada tahun 2500 SM. Untuk meningkatkan daya pantulnya, sebagian berbahan dasar usus atau kulit binatang. Berdasarkan gambar, para ahli berteori bahwa sepak bola Mesir dimainkan saat pesta kesuburan. Mereka membungkus bola dengan kain berwarna cerah dan menendangnya di atas tanah untuk merayakan kelimpahan hasil bumi.

Sepak bola di Tiongkok dulunya dikenal dengan sebutan Cuju atau menendang dengan kaki telanjang

Sekitar 2000 tahun kemudian, bentuk yang berbeda dari sepak bola Mesir juga ditemukan di Tiongkok. Cuju, begitu orang-orang Tirai Bambu menyebutnya. Bila diterjemahkan langsung, cuju berarti menendang bola dengan kaki telanjang.

Sekitar 476 SM hingga 221 SM, olahraga ini sangat populer di Tiongkok. Permainannya juga tidak jauh berbeda. Sebuah bola kulit dengan boneka bulu di dalamnya ditendang di lapangan persegi. Dan untuk mencetak skor, mereka harus menendangnya di antara dua kain yang digantung.

Saat itu, Cuju sangat populer. Cuju juga digunakan oleh pemimpin militer sebagai olahraga kompetitif untuk menjaga kebugaran tentaranya.

Ikuti berita bola terbaru di Sport Liputan6

Lanjut Baca:

Seiring makin populernya olahraga ini, pejabat kerajaan mulai menata permainan dengan melibatkan pemain profesional. Seperti sekarang, pemain cuju juga diperbolehkan menyentuh bola dengan bagian tubuh mana pun kecuali lengan dan tangan. Peran wasit bahkan sudah dilibatkan untuk memastikan para pemain menaati peraturan. Meski demikian, sepak bola Tiongkok belum membatasi jumlah pemainnya. Satu tim bisa terdiri atas 2 hingga 10 pemain. Namun, bila turnamen diselenggarakan oleh kerajaan, satu tim biasanya terdiri atas 12 hingga 16 pemain. Siapa pun bisa bergabung dalam sebuah tim, baik pria maupun wanita.Kemenangan tidak hanya ditentukan oleh jumlah gol. Dalam beberapa pertandingan, kemenangan juga ditentukan oleh cara bermain sebuah tim. Contohnya, tim yang pemainnya mengumpan terlalu dekat atau menendang bola keluar lapangan bakal dikenai penalti pengurangan poin. Dan tim yang paling sedikit mendapat pengurangan poin akan keluar sebagai pemenang. Popularitas sepak bola Tiongkok mulai menurun sejak pertengahan abad ke-17. Namun tetap saja ada yang memainkannya sehingga jejak sejarahnya membekas hingga saat ini.

Halaman
Show All
Marco Tampubolon, Edu KrisnadefaTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan