[KOLOM] Dipecat Madrid, Benitez Keluar dari 'Neraka'

Benitez sepatutnya lega dilepas Real Madrid, kenapa? Simak ulasannya di kolom bola Asep Ginanjar.

Diterbitkan 08 Januari 2016, 08:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Kisah Benitez mirip dengan Jose Mourinho yang lebih dulu dipecat Chelsea. Musim ini, The Special One tak mampu lagi mengendalikan ruang ganti. Dia bahkan tak ragu menyebut para pemain telah mengkhianatinya dengan bermain buruk dan membuat The Blues terpuruk.

Jadi, ketika akhirnya pemecatan datang, itu sebuah takdir baik bagi Benitez. Pemecatan itu membebaskan dia dari 'siksaan'. Dia tidak lantas ke surga, namun setidaknya keluar dari neraka.

PILIHAN PALING AMAN

Dari sudut pandang Perez, pemecatan Benitez adalah solusi. Setidaknya, dengan mendepak pelatih yang sempat menjuarai La Liga bersama Valencia itu, dia sudah menyingkirkan satu masalah. Bagaimanapun, bila Benitez bertahan, sulit berharap harmoni tercipta di ruang ganti.

Berbeda dengan Carlo Ancelotti yang memiliki pendekatan antarpersona sangat baik, Benitez adalah tipe pelatih yang memegang prinsip tim adalah segalanya. Menurut Steven Gerrard dalam biografinya, Steven Gerrard: My Liverpool Story, Benitez selalu menjaga jarak dengan pemain. Di matanya, superstar dan debutan sama saja. Perubahan inilah yang membuat beberapa bintang Los Blancos tak nyaman.

Meski demikian, pemecatan Benitez tak serta-merta menjadi panasea bagi penyakit Madrid. Apalagi Zidane, sang pengganti, adalah pelatih yang masih hijau. Jorge Valdano, eks Direktur Olahraga Madrid, terang-terangan menyebut eks bintang Prancis itu sebagai sebuah perjudian karena pengalamannya yang sangat minim.
Infografis Rafael Benitez (Abdillah/Liputan6.com)
Perez tahu persis soal keraguan tersebut. Namun, saat ini, Zidane adalah pilihan terbaik sekaligus teraman. Setidaknya untuk dirinya sebagai presiden klub. Zidane sudah paham ruang ganti Los Blancos karena sempat menjadi asisten Ancelotti.

Karena pernah membela Madrid, Zizou pun paham tradisi dan nilai-nilai yang berlaku di Santiago Bernabeu. Dia tahu persis makna kemenangan, kejayaan, dan permainan menawan bagi Madridistas. Tak heran bila itulah yang dijanjikan Zidane dalam konferensi pers pertamanya.

Hal terpenting, Zidane adalah sosok yang diinginkan para Madridistas. Ini tameng tersendiri bagi Perez. Bila Madrid tak bangkit, Perez bisa berkelit menghindari tudingan dan amarah Madridistas. Dia tinggal berkilah, pemecatan Benitez dan penunjukan Zizou hanyalah mengikuti aspirasi mereka.

AKHIR PENANTIAN

Bagi Zidane, kepercayaan yang didapatkan dari Perez adalah akhir sebuah penantian. Sesungguhnya, ketika Ancelotti dipastikan pergi, dia merasa siap menjadi pengganti. Namun, Perez tak mau berjudi. Dia lebih memilih Benitez yang tak berprestasi pada musim terakhirnya di Napoli.

Sesungguhnya,  menjadi pelatih bukan rencana Zidane. Saat pensiun, dia membayangkan hal lain. Namun, seiring perjalanan waktu, tumbuhlah hasrat untuk kembali merasakan tensi di lapangan hijau. Itu hanya bisa didapatkan dengan menjadi pelatih.

Zidane memang bukan Josep Guardiola yang semasa jadi pemain pun sudah tergila-gila dengan taktik. Namun, dia memiliki kemauan keras, selalu serius dalam melakukan apa pun, dan tak berhenti belajar. Dia punya dedikasi sangat tinggi terhadap pekerjaannya.
Sekitar 6.000 pendukung El Real hadir menyaksikan latihan perdana Cristiano Ronaldo cs. di bawah asuhan Zidane. Selasa (5/1/2016). (AFP/Gerard Julien)

Di mata sebagian orang, Zidane juga punya aura oke. Salah satu yang berpandangan demikian adalah Jean-Louis Triaud, Presiden Girondins de Bordeaux. Sebelum akhirnya berpaling kepada Willy Sagnol, Triaud pada akhir musim 2013-14 sangat mempertimbangkan Zidane sebagai pelatih Bordeaux.

Triaud merasa Zidane akan seperti Laurent Blanc. Rencana itu kemudian batal karena Triaud tak sanggup memenuhi permintaan Zizou yang terlihat begitu ambisius menatap tugasnya sebagai pelatih.

Kini, seiring kepercayaan yang diberikan Perez, ada harapan besar yang tertumpah ke pundak Zizou. Harapan itu antara lain tercermin dari kehadiran 6.000 Madridistas saat dia menggelar sesi latihan pertamanya sebagai entrenador Los Blancos.

Rafael Benitez dipecat dari kursi pelatih Real Madrid pada Senin (4/1/2016) waktu setempat. (AFP/Gerard Julien)

Kedatangan mereka bukan sekadar dukungan, melainkan juga beban. Bagaimanapun, mereka menginginkan Coach Zizou seperti Zidane sang pemain yang penuh imajinasi, trik, dan sentuhan-sentuhan ajaib. Mereka berharap Coach Zizou secara drastis mengubah Madrid dalam satu malam.

Seperti Benitez, sang pendahulu, Zizou tak punya banyak waktu. Dia tak bisa mencoba ini dan itu. Hasil instan adalah hal yang paling ditunggu. Tanpa itu, kisah Coach Zizou di Santiago Bernabeu mungkin akan berakhir prematur seperti sang pendahulu. Mari ditunggu, seberapa lama Zidane akan di Bernabeu.


*Penulis adalah pemerhati sepak bola dan komentator di sejumlah televisi di Indonesia. Asep Ginanjar juga pernah jadi jurnalis di Tabloid Soccer.

Ikuti berita bola terbaru di Sport Liputan6

Halaman
Show All
Defri SaefullahTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan