Catatan Akhir Tahun: Benang Kusut Sepak Bola Nasional

Konflik berkepanjangan membuat kompetisi mati suri.

Diterbitkan 31 Desember 2015, 18:15 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Wajar, jika saat ini Indonesia berada di posisi ke-179 dalam peringkat FIFA, salah satu yang terburuk sepanjang sejarah.

Seruan kepada kedua pihak, Kemenpora dan PSSI untuk "islah", rujuk, "berdamai" tak lelah diserukan berbagai pihak. Namun,kedua pihak tampaknya masih bersikeras dengan pendirian masing-masing.

Ya, "benang kusut" sepak bola Indonesia, untuk sementara sepertinya masih sulit untuk diurai. Bahkan, kehadiran perwakilan FIFA, November lalu, tak mampu membuat hubungan tegang Menpora dan PSSI mencair. Pemerintah dengan jelas menyebut tak mau mengirim perwakilan d Tim Ad-Hoc bentukan FIFA. Mereka lebih memilih membentuk Tim Kecil.

Namun, tentu kita tak boleh berhenti berharap. Demi sepak bola Indonesia yang lebih baik, semoga saja masih ada jalan keluar demi mengurai benang kusut ini.

Sebab, sangat disayangkan, jika sepak bola yang sudah mendarah daging di negeri ini, harus berhenti denyutnya. Lihatlah betapa antusiasnya masyarakat saat Mahaka Sports, berinisiatif menggelar Piala Presiden demi mengisi kekosongan kompetisi.

Bahkan, Persib Bandung beserta bobotohnya pun bisa tampil di Jakarta, dengan aman, pada final Piala Presiden. Satu hal yang sebelumnya sulit dibayangkan.

Di sisi lain, sayang juga jika bakat-bakat sepak bola negeri ini menghilang begitu saja lantaran matinya sepak bola. Bagaimana kita mau melahirkan generasi terbaru setelah Andik Vermansyah dan Evan Dimas, jika sepak bola di negeri ini mati suri? Satu hal yang seharusnya menjadi renungan kita semua, yang mengaku peduli akan sepak bola negeri ini.

Ikuti berita bola terbaru di Sport Liputan6

Halaman
Show All
Edu KrisnadefaTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan