Sejarah dan Sang Midas, Harapan Chelsea Musim Ini

Chelsea sedang sakit. The Blues yang biasanya bersaing untuk memperebutkan gelar juara Liga Inggris kini terpuruk di papan bawah.

Diterbitkan 26 Desember 2015, 06:22 WIB
Share
Copy Link
Batalkan



Itu adalah gelar Liga Champions pertama Chelsea, sepanjang sejarah klub.

Kesuksesan itu membuat Di Matteo didapuk menjadi manajer tetap Chelsea di musim 2012/13 per 13 Juni 2012. Namun penunjukkan ini justru menjadi bumerang bagi Chelsea.

Alih-alih sukses, Di Matteo gagal membantu Chelsea lolos dari fase grup Liga Champions. Jika dihitung-hitung, ia hanya 6 bulan berstatus sebagai manajer tetap Chelsea, karena dipecat pada November 2012.

Sebagai ganti Di Matteo, Chelsea membuat langkah kontroversial dengan mengangkat mantan manajer Liverpool, Rafael Benitez. Kontroversial karena saat masih menukangi Liverpool, Benitez kerap melontarkan psywar pada Chelsea.

Karena itu pula, fans Chelsea memprotes penunjukkan Benitez. Mereka mencemooh Benitez ketika ia memimpin Chelsea di pertandingan kandang. "Mereka masih ingat kesuksesan yang kami raih di Liverpool, saat melawan mereka, melawan Chelsea yang disebut amat kuat saat itu. Mungkin hal tersebut melekat amat kuat di benak mereka," kata Benitez 2013 silam, mengenang masa-masanya bersama Chelsea.

Fans Chelsea boleh saja mencemooh Benitez. Tapi Benitez memberikan bukti konkret. Di tangan Benitez, kegagalan Chelsea ke babak 16 besar Liga Champions dibayar lunas dengan menjuarai Liga Eropa, sebelum ia angkat koper, Mei 2013.

Sentuhan Emas Sang Midas

"Hanya ada pola: pola di atas pola, pola yang ada di atas pola lainnya, pola yang berdampak ke pada pola yang lainya lagi. Jika Anda melihat dari dekat, sejarah tidak melakukan apapun melainkan mengulang-ulang dirinya sendiri," begitu kata novelis asal Amerika Serikat, Chuck Palahniuk.

Pada musim ini, Chelsea memecat manajer tetap mereka, Jose Mourinho. The Special One harus lengser karena serangkaian hasil buruk dan ketegangan di internal tim. Beberapa pemain Chelsea disebut-sebut mulai tak suka dengan manajer asal Portugal itu dan melakukan pembangkangan.

Mourinho sendiri sempat mengeluhkan perilaku para pemainnya usai kalah 2-1 dari Leicester, dua pekan lalu. "Saya merasa pekerjaan saya dikhianati, sulit untuk kami mencetak gol ketika Anda memiliki pemain yang tidak berada dalam level terbaiknya,” kata Mourinho.

Setelah berbagai rumor, pemilik Chelsea, Roman Abramovich akhirnya memilih kembali Guus Hiddink sebagai manajer interim. Untuk kedua kalinya, Sang Midas -julukan Hiddink- datang ke Stamford Bridge dengan status manajer interim. Midas sendiri adalah nama raja dalam mitologi Yunani, yang terkenal bisa mengubah apapun yang dia sentuh menjadi emas.

Julukan ini diberikan pada Hiddink setelah ia sukses membawa Korea Selatan ke Semifinal Piala Dunia 2002. Padahal, Korea Selatan kala itu sama sekali bukan tim unggulan.



Di Chelsea kali ini, tugas Hiddink sama dengan tugas pertamanya pada 2009: menyelamatkan nasib Chelsea. Selain Liga, Chelsea masih berkiprah di Piala FA dan Liga Champions.

Sekedar informasi, di periode pertama, dua kompetisi itu juga masuk jadi agenda Hiddink. Maka bukan tidak mungkin, di akhir musim, Hiddink akan mengeluarkan sentuhan emasnya dan menyelamatkan Chelsea. Lebih dari itu, memboyong kembali trofi Piala FA ke Stamford Bridge, dan trofi Liga Champions, yang gagal ia persembahkan di periode pertamanya usai Chelsea takluk dari Barcelona di Semifinal.

"Saya antusias untuk kembali ke Stamford Bridge," ujar Hiddink.

Fans Chelsea, tersenyumlah.

Ikuti berita bola terbaru di Sport Liputan6

Halaman
Show All
Luthfie Febrianto, Windi WicaksonoTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan