[KOLOM] Messi Vs Ronaldo Lagi, Ballon d’Or Kian Membosankan

Mengapa tak ada sosok lain selain Messi dan Ronaldo yang berebut Ballon d'Or? Baca ulasannya di kolom bola Asep Ginanjar.

Diterbitkan 04 Desember 2015, 07:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta Tahun ini, sepak bola menampakkan wajah berbeda-beda. Mei lalu, ketika musim 2014-15 berakhir, wajah sepak bola sungguh menjemukan. Juventus juara Serie-A untuk keempat kalinya secara beruntun, Bayern München di Bundesliga dan Paris Saint-Germain di Ligue 1 menegaskan dominasi dalam tiga musim berturut-turut. Lalu, Barcelona lagi-lagi merengkuh treble winners seperti musim 2008-09.

Memasuki musim baru, wajah sepak bola berubah total. Banyak kejutan yang tersaji. Mulai dari Chelsea, juara bertahan Premier League, yang terpuruk habis-habisan, gawang Manuel Neuer yang dibobol Kevin Volland saat laga baru berjalan sembilan detik pada spieltag ke-2 Bundesliga, hingga Jamie Vardy yang menorehkan rekor baru, selalu mencetak gol dalam 11 laga beruntun di Premier League.

Namun semua kabar menarik itu berakhir pada akhir November lalu, tepatnya Senin (30/11). Wajah membosankan kembali muncul saat FIFA mengumumkan tiga kandidat akhir perebut FIFA Ballon d’Or tahun ini. Dua tempat lagi-lagi diisi Lionel Messi dan Cristiano Ronaldo. Adapun satu tempat lainnya menjadi milik Neymar, rekan seklub sekaligus calon penerus kebesaran Messi.
Perbandingan statistik tiga finalis pemenang Ballon d'Or (Abdillah/Liputan6.com)
Sejak Ballon d’Or dilebur dengan FIFA World Player of The Year pada 2009, Messi dan Ronaldo hampir selalu berada di tiga besar. Anomali hanya terjadi pada 2010 ketika Ronaldo tak berada di sana. Sejak 2009, FIFA Ballon d’Or hanya untuk Messi atau Ronaldo. Empat tahun untuk Messi yakni 2009,2010,2011 dan 2012. Sedangkan dua tahun berikutnya direbut Ronaldo.

Bila ditarik ke sebelum peleburan, dengan pengecualian pada 2010 itu, dominasi Messi dan Ronaldo di 3-besar Ballon d’Or telah berlangsung satu windu. Bahkan, sejak 2008, pemenang bola emas sudah pasti antara Ronaldo dan Messi. Padahal, dalam beberapa kesempatan, sejatinya bukan kedua pemain itu yang paling menjulang.

Pada 2010, Xavi Hernandez dinilai banyak pihak lebih pantas merengkuh FIFA Ballon d’Or. Begitu pula Franck Ribéry pada 2013. Namun, pada akhirnya, mereka harus gigit jari. Alih-alih merebut bola emas, keduanya hanya finis di posisi ketiga. Duo penggawa Belanda, Wesley Sneijder (2010) dan Arjen Robben (2014) bahkan gagal masuk 3-besar walau menjalani musim luar biasa, baik di klub maupun timnas.

Ikuti berita bola terbaru di Sport Liputan6

Lanjut Baca:

Itu terjadi karena FIFA Ballon d’Or mengalami pergeseran makna. Bola emas bukan lagi untuk pesepak bola yang paling gemilang sepanjang musim. FIFA Ballon d’Or kini tak ubahnya kontes popularitas belaka. Bola emas diberikan kepada pemain yang dianggap terhebat dan terpopuler, tak peduli apakah dia paling gemilang pada musim itu atau tidak.Untuk tahun ini, Messi dan Neymar nyata-nyata menyebut Luis Suarez lebih pantas masuk ke 3-besar dibanding Ronaldo. Itu sangat beralasan. Seperti Neymar dan Messi, Suarez adalah elemen vital keberhasilan Barcelona merengkuh treble winners musim lalu. Bandingkan dengan Ronaldo yang hanya menjadi Pichichi.“Akan sangat menyenangkan bila berada di podium Ballon d’Or bersama Neymar dan Luis,” kata Messi. Sementara itu, Neymar berujar, “Dinominasikan merebut Ballon d’Or tentu sangat berarti. Suarez juga mestinya berada di sana.” Akan tetapi, pandangan para pemilik suara, terutama para pelatih dan kapten timnas anggota FIFA, masih tetap sama. Saat menghadapi pemilihan peraih FIFA Ballon d’Or, hal yang terlintas di kepala mereka adalah, “Siapakah pemain terhebat dunia saat ini?” Secara otomatis, nama yang muncul pertama kali adalah Messi dan Ronaldo.Sangat sulit membayangkan nama Suarez terbersit ketika ada pertanyaan tentang pemain terhebat. Reputasi Suarez dibangun dari fragmen-fragmen kontroversi. Wajahnya penuh cemong oleh sejumlah ulah miring. Pemain yang pernah menggigit Otman Bakkal, Branislav Ivanovic, dan Giorgio Chiellini mana bisa merengkuh FIFA Ballon d’Or yang diperuntukkan bagi superhero. Popularitas dan reputasi juga berlaku di kategori pelatih terbaik. Keberadaan Josep Guardiola di kandidat akhir pelatih terbaik tahun ini adalah buktinya. Pep memang membawa Bayern menjuarai Bundesliga untuk kali ketiga secara beruntun.Namun, kiprahnya musim lalu bisa dikatakan lebih buruk dari musim sebelumnya. Raihan gelar menurun, trofi Bundesliga 1 juga tak direngkuh dengan menajamkan rekor gelar tercepat.Di Jerman, Pep juga bukan pelatih terbaik. Dalam pemilihan yang dilakukan Majalah Kicker dengan melibatkan para jurnalis sebagai juri, pelatih terbaik musim lalu adalah Dieter Hecking yang membawa VfL Wolfsburg juara DFB Pokal dan runner-up Bundesliga. Di bawah Hecking ada Markus Weinzierl (FC Augsburg) dan Lucien Favre (Borussia Mönchengladbach). Adapun Pep hanya berada di peringkat ke-8.

Halaman
Show All
Defri SaefullahTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan