Djanur, Pelatih Kebapakan "Dalang" Sukses Persib

Djadjang Nurdjaman pintar menumbuhkan motivasi dan kepercayaan diri anak asuhnya.

Diterbitkan 08 Desember 2014, 17:40 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

“Saya jelas punya mimpi membawa Persib Bandung juara musim ini. Saya pernah juara bersama Persib sebagai pemain dan asisten pelatih, semoga musim ini dilengkapi juara sebagai pelatih kepala,” kata Djanur sebelum kompetisi ISL 2014 dimulai.

Kini Djanur melengkapinya dengan membawa Persib juara sebagai pelatih. Djanur mulai melatih Persib pada musim 2012. Dia ditunjuk menggantikan Robby Darwis.

Pahlawan Kemenangan

Djanur pernah merasakan momen paling berkesan dan takkan pernah dilupakannya ketika menjuarai Kompetisi Perserikatan 1986. Di laga final menghadapi Perseman Manokwari di Stadion Utama Senayan (sekarang Gelora Bung Karno), Djanur merupakan pahlawan kemenangan lewat gol tunggal yang dicetaknya pada menit 77.

Usai pertandingan, Djanur dielu-elukan puluhan ribu bobotoh. "Itulah momen yang takkan pernah saya lupakan sepanjang hidup saya," katanya.

Gelar Kehormatan

Jika ada pihak yang mengusulkan Djanur pantas dianugerahi gelar kehormatan adat Sunda atau Jawa Barat, rasanya cukup wajar. Meski lahir di masa perserikatan yang kental fanatisme kedaerahan, namun Djanur tergolong pemain dengan visi luas jika bicara soal karier. Dia kerap merantau ke luar Bandung dengan membela klub-klub non-Jabar.

Saat meniti kariernya, Djanur sempat memutuskan untuk meninggalkan Persib dan beralih menjadi pemain profesional yang tampil di Kompetisi Galatama. Tim yang dibelanya di Galatama adalah Sari Bumi Raya Bandung (1979-1980), Sari Bumi Raya Yogyakarta (1980-1982), Mercu Buana Medan (1982-1985).

 

Kembali ke Persib

Djanur sempat menjadi mantan asisten Rahmad Darmawan di Pelita Jaya Karawang di musim kompetisi 2011/2012. Sebelumnya, dia pernah membawa Pelita Jaya U-21 menjadi juara musim 2008/2009.

Ada momentum yang mungkin tak banyak diketahui orang ketika Djanur memimpin Pelita Jaya U-21 mengalahkan Persita Tangerang U-21 dalam final ISL U-21 di Stadion si Jalak Harupat, Rabu 20 Mei 2009.

Usai mengikuti konferensi pers, Manajer Persib Umuh Muchtar menemui Djanur dan sempat berkelakar kelak dia akan kembali ke Persib sebagai pelatih dan membawa jadi tim juara. 


Entah kebetulan atau tidak, yang pasti pada 2012, Umuh akhirnya mengajak Djanur kembali ke Persib, dan dua tahun berselang, Persib menjadi juara ISL 2014.

Pelatih Kebapakan

Djanur termasuk sosok yang pelatih yang menonjolkan sifat "kebapakan".  Itu tampak jelas ketika dia menangani skuat Persib U-23 pada 2006.

Djanur tak sungkan membuka pintu rumahnya kepada anak didiknya yang berniat menginap atau sekadar bercerita panjang lebar soal sepak bola dan di luar itu.

Beberapa anak didiknya kala itu, kerap ditampung Djanur dirumahnya seperti Endi Heryanto (eks kiper Semen Padang), Wildansyah, Ferdinand Sinaga dan lainnya.

Metode pendekatan bapak-anak inilah yang dinilai sebagai kunci sukses atau kelebihan Djanur dalam membangun suasana harmonis di dalam tim.

Ayah Baik dan Bertanggung Jawab

Djanur adalah figur seorang suami dan seorang ayah yang baik serta bertanggung jawab. “Beliau itu seorang suami dan sosok ayah yang baik dalam keluarga. Kita semua pada deket,” kata istrinya Miranda Panggabean.



Miranda sendiri bisa dikatakan selalu jadi pendukung nomor satu Djanur. Konon setiap muncul berita yang memuat kritikan kepada Djanur atau ada pihak yang mencibir taktik ataupun strategi yang diterapkan, Miranda selalu "sewot".

Ikuti berita bola terbaru di Sport Liputan6

Halaman
Show All
Achmad Yani Yustiawan, Arry AnggadhaTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan