Kabut Asap Ganggu Penerbangan di Sorong, 2 Pesawat Dialihkan

Airnav mencatat sejumlah pesawat di landasan mengalami keterlambatan keberangkatan selain pengalihan penerbangan.

Diterbitkan 08 Oktober 2026, 19:36 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - AirNav Indonesia Cabang Sorong, Papua Barat Daya menyampaikan, dua penerbangan di Bandara DEO Sorong dialihkan ke bandara lain yakni ke Bandara Rendani Manokwari dan Bandara Frans Kaisiepo Biak pada Kamis, (8/10/2026). Pengalihan penerbangan itu karena kabut asap.

Hal itu disampaikan Manajer Operasi Tower 1 AirNav Indonesia Cabang Sorong Hery Purnomo, mengutip Antara, Kamis pekan ini.

"Hari ini ada dua penerbangan yang terdampak, satu dialihkan ke Rendani Manokwari dan satu ke Biak," ujar dia saat memberikan keterangan pers di Kantor Bandara DEO Sorong, Papua Barat Daya, Kamis.

Hery menuturkan, penerbangan yang dialihkan ke Biak merupakan pesawat kargo dengan rute Makassar-Sorong, sedangkan penerbangan yang dialihkan ke Manokwari merupakan Batik Air dengan rute Jakarta-Sorong.

Selain penerbangan yang dialihkan, sejumlah pesawat yang berada di landasan juga mengalami keterlambatan keberangkatan menuju tujuan masing-masing.

Hery menuturkan, AirNav Indonesia Cabang Sorong tetap memberikan pelayanan navigasi penerbangan sesuai prosedur operasional standar (SOP), khususnya ketika kondisi jarak pandang berada di bawah batas minimum.

Dia mengatakan, informasi mengenai kondisi cuaca dan jarak pandang yang disampaikan kepada maskapai maupun penerbang bersumber dari Stasiun Meteorologi Kelas I Domine Eduard Osok (DEO) Sorong.

"Apabila ada penerbangan atau pilot memutuskan untuk mengalihkan penerbangan, itu merupakan keputusan dari pilot atau penerbang. Kami sebatas memberikan informasi," kata dia.

Sementara itu, Kepala Stasiun Meteorologi Kelas I DEO Sorong Ahmad Bisri menuturkan, kondisi kabut asap masih memengaruhi jarak pandang di wilayah Sorong.

 

 

Jarak Pandang

Ia menjelaskan angin dominan dari arah tenggara membawa asap dari wilayah yang memiliki banyak titik panas menuju Sorong.

"Karena di sana banyak kondisi titik api, otomatis asapnya juga banyak dan bergeser ke arah sini," ujar dia.

Ahmad menuturkan, jarak pandang terburuk pada Rabu mencapai sekitar 1.000 meter pada pukul 06.05 hingga 07.00 WIT. Sementara pada Kamis pagi, jarak pandang sempat berada pada 1.500 meter sekitar pukul 07.00 WIT.

Kondisi tersebut, menurut dia, dipengaruhi kabut asap dalam kondisi cuaca kering, sehingga jarak pandang dapat berada pada kisaran 1 hingga 5 kilometer.

Ahmad juga menyebutkan hingga 8 Oktober 2026 terdapat 1.463 titik panas di Papua Barat Daya sejak awal Oktober, dengan jumlah terbanyak terdeteksi di Kabupaten Sorong Selatan.

General Manager Garuda Indonesia Cabang Sorong Nadia Anisa mengatakan pihaknya melakukan penyesuaian waktu penerbangan rute Jakarta-Sorong selama kondisi kabut asap berlangsung.

"Selama tiga hari terakhir kami baru bisa mendarat di Sorong sekitar pukul 11.00 WIT. Biasanya kami berangkat dari Jakarta pukul 00.10, sekarang menjadi pukul 05.00," katanya.

Ia menjelaskan penyesuaian jadwal tersebut dilakukan untuk menghindari kemungkinan pengalihan penerbangan sekaligus memberikan kepastian kepada penumpang dalam mengatur perjalanan lanjutan.

Nadia mengatakan pada Senin, Selasa, dan Rabu terdapat masing-masing satu penerbangan yang mengalami keterlambatan sekitar lima hingga enam jam untuk rute Sorong-Jakarta.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6